“Mauritania Railway,” Inilah Jalur Kereta Ekstrem yang Belah Gersangnya Gurun Sahara

Sumber: redbullillume.com

Bangku yang nyaman, sistem pendingin udara, televisi dua sisi pada bagian tengah gerbong, dan layanan restorasi menjadi sedikit keunggulan dari layanan kereta jarak jauh yang dihadirkan oleh PT KAI, sebut saja layanan KA Argo Parahyangan. Kendati melintasi salah satu jalur ekstrem di Indonesia, yaitu Jembatan Cisomang, tentunya kenyamanan dan keselamatan para penumpang merupakan prioritas utama PT KAI.

Baca Juga: Oriental Desert Express, Sensasi Kereta Mewah Pelintas Padang Pasir

Menyinggung soal kenyamanan, keselamatan, dan jalur ekstrem, beberapa waktu ke belakang muncul sebuah film dokumentasi berjudul “The Mauritania Railway: Backbone of the Sahara”. Sesuai dengan judulnya, film ini membedah tentang jalur kereta api yang berada di Gurun Sahara sana. Alih-alih mengangkut penumpang, kereta yang dijuluki Iron Train ini berfungsi untuk mengangkut biji besi dari Zouerat di pusat Mauritania menuju Nouadhibou yang terletak di sebelah barat Mauritania.

Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, jalur kereta yang membentang sejauh 437mil atau yang setara dengan 703km ini digadang-gadang sebagai salah satu jalur kereta berbahaya yang ada di dunia. Mengapa bisa begitu? Coba Anda bayangkan, Anda mengular di atas gerbong yang mengangkut biji besi, melintasi padang gurun gersang, dipayungi oleh terik matahari khas padang pasir, dan diselimuti oleh suhu udara yang sangat panas. Mungkin baju yang Anda kenakan akan dibanjiri oleh keringat, ya?

Setiap harinya, kereta sepanjang 1,5 mil ini mengangkut sekitar 22.000 ton biji besi dan mengular membelah luasnya Gurun Sahara. Bagi mereka yang ingin turut serta mengular bersama si Iron Train ini, mereka tidak dipungut bayaran untuk duduk di atas gerbong bersama dengan timbunan biji besi, atau merogoh kocek sebesar US$3 (Rp43.000) untuk duduk di dalam gerbong berkapasitas dua orang.

Untuk masalah estimasi perjalanan, Iron Train akan menempuh 16 hingga 21 jam perjalanan, tergantung dari beban yang ia angkut, dengan rataan kecepatan 48km/jam. Semakin sedikit biji besi yang dibawanya, maka semakin cepat pula perjalanannya. Jauh dari kata nyaman namun sarat akan pengalaman, merupakan kalimat pertama yang muncul di benak Anda ketika mencoba ‘nebeng’ dikereta ini.

Baca Juga: Dari Mulai Tanjakan, Hingga Jembatan, 10 Jalur Ekstrim Ini Ada Di Indonesia

Bayangkan saja, Anda harus menutupi kepala dan wajah Anda menggunakan kain sejenis syal untuk melindungi dari sengatan teriknya matahari dan debu yang setia menemani perjalanan panjang Anda. Tidak berhenti sampai di situ, panasnya angin gurun pun siap menusuk rongga-rongga kulit Anda bak jarum.