Selama puluhan tahun, Iran telah menjadi salah satu negara yang paling banyak menerima sanksi ekonomi di dunia. Namun, di langit Teheran, fenomena unik terjadi: armada jet buatan Barat—mulai dari Boeing hingga Airbus—tetap mengudara meski secara resmi mereka tidak memiliki akses ke suku cadang asli.
Melansir laporan dari Simple Flying, Iran telah mengembangkan strategi “subterfuge” tingkat tinggi dan kemampuan rekayasa balik (reverse engineering) yang membuat dunia tercengang.
Karena terputus dari saluran resmi Boeing dan Airbus selama hampir setengah abad, Iran terpaksa beroperasi di pasar gelap untuk menjaga kelangsungan hidup maskapainya. Salah satu taktik paling legendaris yang dilaporkan adalah penggunaan perusahaan cangkang (shell companies).
Sebagai contoh, pada tahun 2022, empat pesawat Airbus A340 bekas Turkish Airlines lepas landas dari Afrika Selatan dengan tujuan resmi Uzbekistan. Namun, di tengah perjalanan, pesawat-pesawat tersebut tiba-tiba berbelok dan mendarat di Tehran. Dengan metode transaksional yang rumit dan jalur penerbangan yang sulit dilacak, Iran berhasil menambah armadanya secara diam-diam di bawah radar pengawasan Amerika Serikat.
Bukan hanya soal membeli pesawat bekas, Iran kini telah melangkah lebih jauh dengan memproduksi suku cadang sendiri. Melalui kerja sama antara Organisasi Penerbangan Sipil Iran dan perusahaan industri besar seperti MAPNA, Iran telah menghabiskan waktu hampir sembilan tahun untuk melakukan rekayasa balik pada komponen mesin pesawat Boeing dan Airbus.
‘Tanpa Izin’ dari Prinsipal, Iran Mampu Memproduksi Suku Cadang untuk Pesawat Airbus dan Boeing
Kini, mereka dilaporkan mampu memproduksi suku cadang mesin secara mandiri yang sebelumnya dianggap mustahil tanpa dukungan pabrikan asal. Strategi ini bukan hanya tentang perbaikan, tetapi juga upaya “indigenisasi” pengetahuan dirgantara. Iran bahkan memiliki program ambisius untuk memproduksi pesawat penumpang regional berkapasitas 70-100 kursi secara domestik untuk mengurangi ketergantungan pada produk asing di masa depan.
Di bandara-bandara Iran, praktik “kanibalisasi” pesawat adalah hal yang lumrah. Pesawat yang sudah tidak layak terbang dipreteli hingga baut terakhirnya untuk menghidupkan pesawat lain. Ketangguhan para teknisi Iran dalam menjaga jet-jet “vintage” seperti Boeing 747-300 atau Airbus A300 tetap layak terbang sering kali disebut sebagai salah satu keajaiban teknis dalam dunia aviasi modern.
Meski demikian, pengoperasian armada yang menua ini bukannya tanpa risiko. Sanksi telah membatasi akses terhadap pembaruan perangkat lunak keamanan dan dukungan teknis resmi, yang sering kali berdampak pada isu keselamatan penerbangan. Namun, bagi Iran, menjaga konektivitas udara adalah simbol kedaulatan yang tidak bisa ditawar.
Kesuksesan Iran dalam mempertahankan armadanya membuktikan bahwa sanksi berat sekalipun sulit untuk melumpuhkan total industri strategis suatu negara jika mereka memiliki basis kecanggihan teknis dan jaringan bawah tanah yang kuat. Apa yang dilakukan Iran dengan “Boeing-Boeing rahasia” mereka kini menjadi studi kasus global bagi negara-negara lain yang menghadapi tekanan serupa, seperti Rusia, dalam mengelola industri penerbangan di tengah isolasi internasional.
Meski Didera Berjuta Sanksi, Industri Penerbangan Iran Mampu Bertahan dengan Lima Maskapai Besar
