Thursday, February 5, 2026
HomeHot NewsMenelusuri Jejak Sejarah Singapore Airshow: Dari Changi ke Panggung Dirgantara Dunia

Menelusuri Jejak Sejarah Singapore Airshow: Dari Changi ke Panggung Dirgantara Dunia

Dunia kedirgantaraan saat ini tengah mengarahkan pandangannya ke Changi Exhibition Centre. Di sana, perhelatan akbar Singapore Airshow 2026 sedang berlangsung dari tanggal 3 hingga 8 Februari. Sebagai pameran kedirgantaraan dan pertahanan terbesar di Asia Pasifik, acara dua tahunan ini bukan sekadar ajang pamer jet tempur mutakhir atau pengumuman kontrak pembelian pesawat komersial bernilai miliaran dolar. Lebih dari itu, Singapore Airshow adalah simbol transformasi Singapura dari sebuah negara pulau kecil menjadi pusat gravitasi industri penerbangan global.

Akar dari kemegahan ini dapat ditarik kembali ke tahun 1981, saat acara ini pertama kali digagas dengan nama Asian Aerospace. Kala itu, pameran diadakan di Terminal 1 Bandara Changi yang baru saja diresmikan. Fokus utamanya masih sangat sederhana: membangun jejaring industri penerbangan di kawasan Asia Tenggara. Namun, seiring dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi Asia, skala pameran ini meledak. Pada dekade 90-an, Asian Aerospace tumbuh menjadi pameran kedirgantaraan terbesar ketiga di dunia setelah Paris Air Show dan Farnborough di Inggris.

Titik balik bersejarah terjadi pada tahun 2008. Setelah kemitraan dengan penyelenggara sebelumnya berakhir, Singapura memutuskan untuk berdiri di atas kaki sendiri. Lewat pembentukan badan penyelenggara baru di bawah naungan Experia Events, lahirlah nama resmi Singapore Airshow.

Tidak hanya berganti nama, lokasi pameran pun dipindahkan ke tempat yang lebih megah dan khusus, yakni Changi Exhibition Centre yang memiliki akses langsung ke tepi pantai, memungkinkan demonstrasi udara (aerobatik) dilakukan secara leluasa di atas perairan Selat Singapura.

Keunikan Singapore Airshow terletak pada kemampuannya menyatukan dua dunia: militer dan sipil. Di satu sisi, ia menjadi panggung bagi raksasa manufaktur seperti Boeing dan Airbus untuk memamerkan inovasi efisiensi bahan bakar dan teknologi kabin terbaru. Di sisi lain, produsen pertahanan global seperti Lockheed Martin, Northrop Grumman, hingga industri lokal seperti ST Engineering, menampilkan teknologi sensor, drone (UAV), dan sistem pertahanan rudal masa depan.

Namun, daya tarik yang paling dinanti oleh masyarakat umum selalu tertuju pada manuver udara. Sepanjang sejarahnya, Singapore Airshow telah menampilkan tim-tim aerobatik legendaris dunia, mulai dari Black Knights milik Angkatan Udara Singapura (RSAF), Jupiter Aerobatic Team dari Indonesia, hingga tim nasional dari Korea Selatan dan Amerika Serikat. Deru mesin jet yang membelah langit Changi menjadi pemandangan ikonik yang selalu berhasil menyedot antusiasme ratusan ribu pengunjung.

Kini, memasuki tahun 2026, tantangan dan fokus pameran telah bergeser ke arah keberlanjutan (sustainability) dan digitalisasi. Isu mengenai bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) dan taksi udara listrik (eVTOL) menjadi topik hangat yang mendominasi diskusi di paviliun-paviliun pameran.

Perjalanan panjang dari sebuah tenda sederhana di tepi landasan pacu pada 1981 hingga menjadi pusat inovasi teknologi global hari ini membuktikan bahwa Singapore Airshow bukan hanya sekadar pameran, melainkan detak jantung dari masa depan industri kedirgantaraan dunia.

Sejarah Farnborough Airshow, Awalnya Fokus pada Industri Kedirgantaraan Inggris

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru