Menentang Kudeta Militer, Pekerja Kereta Api Myanmar Mogok di Atas Rel

0
pekerja kereta mogok di rel

Di kala dunia masih berjaga terhadap penyebaran pandemi, masyarakat Myanmar justru melakukan demonstrasi massal yang menentang penggulingan pemerintah sipil oleh militer. Demonstran menentang pengambilalihan militer Myanmar dan kembali ke jalan pada Kamis (17/2/2021) malam.

Baca juga: Cegah Kereta Mogok, LRT Ottawa Siapkan 9 Gardu dan Power Supply di Stasiun

Bahkan pada malam itu, di kawasan Mandalay tempat para pekerja kereta api negara, polisi mengamuk dan berkonflik dengan pengunjuk rasa serta pemeirntahan militer baru yang semakin terfokus pada bisnis dan lembaga pemerintahan yang menopang perekonomian. Dilansir KabarPenumpang.com dari voanews.com (18/2/2021), para pekerja kereta api telah melakukan pemogokan sejak hari Minggu (14/2/2021).

Mereka bergabung dengan Gerakan Pembangkangan Sipil yang terorganisir secar longgar (CDM) yang diprakarsai oleh pekerja medis dan merupakan tulang punggung perlawanan terhadap kudeta 1 Februari yang menggulingkan pemerintah sipil terpilih.

“Banyak pekerja dan warga Myanmar percaya bahwa CDM sangat efektif untuk membuat junta gagal. Itulah mengapa kesehatan, pendidikan, transportasi, berbagai departemen pemerintah dan pegawai bank berpartisipasi dalam CDM bersama-sama,” ujar seorang buruh yang tak disebutkan namanya.

Adanya pemogoka kereta api ini juga sudah mendapat dukungan dari warga biasa yang telah menempatkan diri mereka di rel untuk menghentikan kereta yang dikomandoi oleh militer. Upaya warga Mandalay memblokir jalur kereta api pada Rabu (16/2/2021) ternyata memicu aksi balas dendam di malam itu.

Sebab kurang dari satu jam setelah jam 20.00 waktu setempat, suara tembakan terdengar lebih dari dua lusin pria berseragam polisi yang lengkap dengan tameng dan helm. Mereka berbaris dalam formasi ketat di dekat perumahan pekerja kereta api.

Dalam video yang diposting di media sosial menunjukkan kilatan saat tembakan terdengan. Beberapa diantaranya terlihat menembakkan ketapel dan melempar batu ke gedung. Seruan “kiri, kanan, kiri, kanan” bisa terdengar bersamaan dengan teriakan “tembak, tembak”.

Tak hanya itu, beberapa laporan dan foto orang terluka yang diklaim disebabkan oleh peluru karet pun tersebar. Adapula laporan yang belum dikonfirmasi mengatakan beberapa pekerja kereta api telah ditangkap.

Anggota Junta Myanmar mengatakan pihaknya mengambil alih untuk mencegah parlemen bersidang dan menahan pemimpin terpilih negara Aung San Suu Kyi dan lainnya karena pemilu November dinodai oleh penyimpangan pemungutan suara. Ini menggantikan komisi pemilihan yang menegaskan bahwa partai Suu Kyi menang telak dan mengatakan akan mengadakan pemilihan baru dalam waktu satu tahun.

Hal ini membuat pemerintah Biden di Amerika telah memberlakukan sanksi baru Amerika Serikat terhadap Myanmar karena kudeta tersebut, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa serta pemerintah negara lain telah menyerukan agar pemerintah terpilih Suu Kyi dipulihkan. Para penentang kudeta juga mendesak bisnis asing untuk memutuskan hubungan mereka dengan operasi Myanmar yang mereka yakini menguntungkan militer.

Baca juga: Staf Keamanan Mogok Kerja, Delapan Bandara Jerman Ditutup

Sekitar 200 orang berdemonstrasi pada hari Kamis di dekat Kanbauk, di selatan negara itu, di luar tempat yang terlibat dalam operasi pipa besar yang memompa gas dari ladang lepas pantai untuk diekspor. Para demonstran bergerak di antara lokasi Total Prancis, PTTEP Thailand dan Petronas Malaysia dan kemudian bergabung dengan demonstrasi anti-kudeta yang lebih besar di Kanbauk.

Leave a Reply