Mengapa Ada Batasan Ketinggian Terbang untuk Pesawat? Ini Jawabannya

0
Ilustrasi ketinggian pesawat saat di udara. Foto: Telegraph

Bagi travelers yang kerap bepergian naik pesawat, mungkin di beberapa momen pernah mendengar awak kabin menginformasikan pada ketinggian berapa pesawat berada. Di saat yang bersamaan, kadang kala muncul pertanyaan, mengapa harus pada ketinggian tersebut dan tidak berada di ketinggian lain?

Baca juga: Pernah Berpikir untuk Membuka Pintu Pesawat Saat di Udara? Mustahil!

Jawaban atas pertanyaan tersebut mungkin memang tidak mudah. Namun, secara kemampuan, masing-masing pesawat tentu saja mempunyai batasan terbang. Bila dipaksakan, mungkin pesawat akan mengalami shutdown engine, restart engine, atau bahkan overheat dan terbakar karena telah mencapai ketinggian maksimum. Airbus A380, misalnya, bisa terbang maksimum atau ‘service ceiling’ di ketinggian 43 ribu kaki. Demikian juga dengan Boeing 787 787-8 dan -9 yang bisa terbang maksimum pada ketinggian tersebut.

Adapun pesawat komersial yang mampu dan diizinkan terbang di ketinggian lebih dari itu, tepatnya di ketinggian 60 ribu kaki lebih, hanya pesawat supersonik Concorde dan Concorde dari Rusia, Tupolev Tu-144. Ada beberapa hal yang membuatnya mampu dan diizinkan terbang di ketinggian tersebut, mulai dari efisiensi hingga teknologi.

Dikutip dari Simple Flying, prinsipnya, semakin tinggi terbang, udara akan lebih ringan, sedikit resistensi angin, lebih banyak daya, lebih sedikit usaha, dan lebih sedikit hambatan. Hal itu berarti, beban kerja mesin akan menjadi berkurang dan output-nya pesawat akan lebih hemat bahan bakar. Kemudian, dengan kecepatan supersonik, kedua pesawat tersebut tak akan mampu mencapai kecepatan yang diharapkan bila berada pada ketinggian di bawah itu, di samping lalu lintas yang lebih padat dan membahayakan pesawat lainnya bila terbang dengan kecepatan penuh.

Selain itu, kedua pesawat tersebut juga didukung sejumlah teknologi yang memungkinkan untuk terbang di ketinggan tersebut, seperti jendela yang lebih kecil (bahkan tak lebih besar dari ukuran tangan orang dewasa) untuk meminimalis dekompresi, bentuk sayap delta, fitur keselamatan berupa sistem mencegah kemungkinan terburuk saat terjadi rapid emergency descent atau penurunan cepat, serta tekanan di dalam kabin yang masih dalam batas normal bagi penumpang. Pasalnya, bila tidak didukung teknologi tersebut, maka, bukan tak mungkin penumpang akan pingsan.

Masih ingat misteri hilangnya Boeing 777-200ER (extended range) milik Malaysia Airlines MH-370? Dikutip dari Indomiliter.com, dalam sebuah teori terkait hilangnya pesawat nahas tersebut, MH-370 diduga sempat menaikkan ketinggian terbang hingga 45.000 kaki (13.716 km), dan kemudian dalam sekejab, pesawat diturunkan kembali ke ketinggian 23.000 kaki (7.104 km). Sesuai standar pabrik, service ceiling Boeing 777 adalah 43.100 kaki dan dibatasi dengan wing critical dan engine critical. Bila pesawat dipaksakan terbang lebih dari 43.100 kaki, bisa menyebabkan terjadinya high speed stall.

Baca juga: Kenali Clear Air Turbulence yang Menghantam Emirates EK450 di Ketinggian 35.000 Kaki

Bila high speed stall terjadi, maka ancaman G (gravitasi) negatif dapat menyebabkan para penumpang mengalami kondisi red out. Darah mengalir keras ke kepala dan kondisi tubuh akan menjadi sangat buruk karena pesawat stall sekitar 22.000 kaki (7 km). Akibatnya pembuluh darah di kepala bisa pecah, darah bisa keluar dari mata, telinga, hidung, dan mulut. Penumpang dan awak pesawat yang tidak siap akan kolaps, bahkan bisa tewas. Aksi ini diduga kuat sebagai upaya pilot untuk menguasai keadaan pesawat tanpa gangguan.

Namun, terlepas dari teori tersebut, poin utamanya adalah, bila pesawat mencapai ketinggian maksimum atau ketinggian tertentu di luar batas wajar, seluruh penumpang dan awak hanya memiliki beberapa detik kemungkinan untuk hidup. Istilah ini disebut time of useful consciousness (TUC). Pada ketinggian 35 ribu kaki, harapan hidup seluruh penumpang dan awak hanya memiliki kemungkinan hidup selama 15 hingga 30 detik. Pada ketinggian 50.000 kaki akan berkurang menjadi hanya lima detik, lebih dari pada itu, mereka akan pingsan. Bila kondisi tak beranjak kembali normal, bukan tak mungkin mereka akan menemui ajalnya, kecuali menggunakan masker oksigen.

Leave a Reply