Mengapa Airbus A330 Sangat Diminati di Asia-Pasifik? Inilah Alasannya

0
Garuda Indonesia merupakan maskapai penerbangan nasional Indonesia. Foto: Instagram ari_setiawan.20

A330 memang bukanlah pesawat Airbus paling mentereng di angkasa. Pamor dan kemampuannya tentu masih kalah jauh dibanding saudara kandungnya, Airbus A350. Tetapi, sejak pertama kali beroperasi pada 1990-an, pesawat ini mendapat begitu banyak peminat di seluruh dunia, utamanya di Asia-Pasifik, dimana 42 persen total pesawat A330 dioperasikan oleh maskapai-maskapai besar di sana. Mengapa demikian?

Baca juga: Hari Ini, 28 Tahun Lalu, Airbus A330 Sang Penantang Boeing 767 Terbang Perdana

Airbus A330 disebut sebagai pesawat twin engine andal, besar, nyaman, dan dapat memuat banyak penumpang dalam sekali angkut. Selain itu, pesawat juga disebut hemat bahan bakar. Tak ayal, dengan efisiensi dan efektivitas, Airbus A330 begitu diandalkan maskapai Asia-Pasifik (dan juga maskapai lainnya) dalam berbagai situasi, baik itu rute jarak pendek ataupun jarak jauh lintas benua.

Per 30 November 2020 lalu, Airbus telah mengirimkan 1.506 A330 ke maskapai di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 604 unit atau 42 persennya dimiliki oleh maskapai penerbangan yang berbasis di kawasan Asia-Pasifik. Sisanya, 359 unit atau 25 persen dikirim ke maskapai penerbangan berbasis di Eropa dan 100 unit lainnya atau 6,6 persen dari total produksi dioperasikan oleh maskapai Amerika Utara.

Dalam daftar 10 maskapai terbesar yang mengoperasikan A330, tujuh di antaranya didominasi oleh maskapai-maskapai di Asia-Pasifik; mulai dari China Southern Airlines, Qantas, Cathay Pacific, China Eastern Airlines, Air China, Korean Air, dan Hainan Airlines. Lebih luas lagi, dari 20 maskapai teratas di seluruh dunia yang mengoperasikan A330, 12 di antaranya berbasis di Asia; termasuk Turkish Airlines, Air Asia, dan maskapai-maskapai Indonesia, seperti Citilink, Garuda Indonesia, dan Lion Air Group.

Laporan Simple Flying, popularitas A330 di Asia-Pasifik hampir dipastikan tak terlepas dari pengaruh Boeing 787 Dreamliner. Dengan berbagai isu permasalahan pada mesin dan sistem oksigen darurat pada pesawat itu, praktis, penumpang jadi khawatir untuk terbang bersamanya dan maskapai mau tak mau mencari pesawat lain yang bisa membuat penumpang nyaman dan merasa aman; dalam hal ini pesawat yang serupa dengan 787 Dreamliner.

Baca juga: Usai Raih 63.900 Jam, Airbus A330-300 Pertama di Dunia Pensiun

Hal ini tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi Airbus, mengingat Asia-Pasifik merupakan pasar besar yang sangat berpengaruh untuk kesuksesan perusahaan. Sebab, pangsa pasar Amerika Utara sudah pasti tak bisa berbuat banyak, dimana isu nasionalisme mendorong maskapai di sana menggunakan pesawat-pesawat Boeing.

Selain memiliki populasi besar, mencapai 60 persen dari total populasi di dunia atau sekitar empat miliar orang, pertumbuhan pasar penerbangan di sini juga tergolong cepat, baik rute regional antar negara di Asia maupun lintas benua ke Eropa dan Benua Amerika. Sudah begitu, Asia, secara umum, juga dinilai akan menjadi pusat peradaban masa depan Barat. Menarik ditunggu, akankah di masa mendatang keluarga Airbus A330 terus menjadi pilihan favorit maskapai Asia-Pasifik?

Leave a Reply