Mengapa Navigasi Penerbangan Pakai Satuan Nautical Mile? Ini Jawabannya

0
Ilustrasi navigasi penerbangan pakai sistem naiutical. Foto: Boeing

Umumnya, masyarakat menggunakan sistem imperial atau metrik, seperti kilometer, meter, dan lain-lain, saat menghitung jarak tertentu. Namun, tidak demikian dengan navigasi penerbangan dan laut. Dua itu diketahui sudah sejak lama mengadopsi sistem nautical (NM). Lantas, mengapa navigasi penerbangan menggunakan NM?

Baca juga: Mengapa Pesawat Buang Bahan Bakar Saat di Udara? Simak Penjelasannya

Dilansir Simple Flying, nautical mile atau dalam bahasa Indonesia berarti mil laut adalah satuan panjang yang digunakan di seluruh dunia untuk keperluan kelautan seperti menghitung jarak dalam pelayaran dan penerbangan.

Satuan ini biasa digunakan pada hukum dan perjanjian internasional, terutama menyangkut batas wilayah perairan. Satu mil laut sama dengan 1,852 km; 1,1508 mil normal; atau 6,076 feet. Lambang untuk nautical mile adalah M, NM atau nmi.

Secara historis, satu mil laut berarti busur satu menit dari garis lintang di sepanjang garis bujur. Satu busur lintang, pada gilirannya, dibagi menjadi 60 menit, dengan demikian, satu NM sama dengan 1/60 derajat lintang.

Namun, pada Konferensi Hidrografi Luar Biasa Internasional Pertama di Monako, pada tahun 1929 silam, mil laut internasional ditetapkan sebagai 1.852 meter atau 1.151 mil. Jadi, bisa dibilang, alasan penggunaan nautical mile di navigasi penerbangan lebih dikarenakan terkait erat dengan koordinat peta.

Dalam peta, terdapat garis bujur dan lintang yang sama-sama memiliki satuan derajat. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin terbiasa menyebut “Berapa meter jarak rumahmu ke rumahnya Sully?”.

Tetapi, jika seseorang tersebut mengucapkannya dengan bahasa peta, maka yang ada menjadi “Berapa derajat selisih jarak rumahmu ke rumah Sully?”. Jadi setiap derajat perbedaan garis bujur atau lintang di bumi, menandakan bahwa dalam perbedaan derajat tersebut terdapat juga perbedaan jarak.

Sebetulnya, pada tahun 1947, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) sempat mengadopsi resolusi untuk membakukan sistem unit di seluruh penerbangan untuk memperkenalkan Sistem Satuan Internasional, yang dikenal sebagai SI dari ‘Système International d’Unités’, dan akan didasarkan pada sistem metrik.

Hanya saja, ICAO sadar bahwa mengubah sistem nautical mile menjadi sistem metrik secepat itu akan membuat penerbangan kacau. Alhasil, nautical mile tetap digunakan sampai saat ini.

Kekhawatiran ICAO terkait perubahan sistem nautical mile ke metrik dengan terburu-buru memang terbukti. Pada 22 Juli 1983, pesawat Air Canada Boeing 767 dalam penerbangan dari Montreal ke Edmonton via Ottawa, Kanada, mengalami masalah.

Kapten Robert Pearson, 48 tahun, dengan pengalaman 15.000 jam terbang, dan kopilot Maurice Quintal, 36 tahun, dengan waktu terbang 7.000 jam, mendapati bahwa alarm tekanan bahan bakar rendah pesawat yang dikemudikannya tiba-tiba berbunyi.

Ketika itu, pilot berasumsi bahwa bahan bakar masih banyak, merujuk pada indikator Flight Management Computer (FMC). Alarm pun dimatikan. Tak lama berselang, alarm yang sama kembali berbunyi dan kru pun memutuskan untuk mendarat di Winnipeg, berjarak sekitar 120 mil.

Baca juga: Kenapa Mayoritas Badan Pesawat Berwarna Putih? Ini Dia Alasan Ilmiahnya!

Saat pesawat mulai turun, mesin kiri mati, diikuti dengan ledakan pada mesin kanan. Alhasil, pesawat pun kehabisan bahan bakar di ketinggian 41 ribu kaki atau 12 kilometer dari permukaan tanah.

Setelah diusut, ternyata salah satu penyebabnya karena sistem metrik. Teknisi memberikan sejumlah catatan dalam bentuk pound / L sedangkan pesawat menggunakan kg / L. Alhasil, dari seharusnya pesawat mengisi 20.088 liter bahan bakar menjadi hanya di bawah 5.000 liter. Tak heran bila pada akhirnya pesawat kehabisan bahan bakar saat tengah mengudara.