Mengapa Perusahaan Leasing ‘Diburu’ Maskapai dan Mengapa Maskapai Menyewa Pesawat? Ini Jawabannya

0
GECAS adalah lessor pesawat terbesar kedua di dunia, yang memiliki lebih dari 900 pesawat. Foto: Airbus via Simple Flying

Pada umumnya, masyarakat mengira bahwa pesawat yang dicat dengan livery maskapai tertentu sudah pasti pesawat tersebut adalah milik sendiri. Padahal, hal itu belum tentu, mengingat, maskapai lebih lazim memilih untuk menyewa pesawat ketimbang membeli secara tunai ke produsen pesawat seperti Airbus dan Boeing.

Baca juga: Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing

Garuda Indonesia, misalnya, pada tahun 2018 silam, dari total 202 unit pesawat, 180 unit pesawat di antaranya adalah rental ke perusahaan-perusahaan leasing (pembiayaan) pesawat. Adapun sisanya, sebanyak 22 unit pesawat, itulah milik maskapai pelat merah tersebut.

Berbagai pertanyaan pun muncul khususnya seputar alasan maskapai lebih memilih menyewa pesawat ketimbang membeli. Jawaban atas pertanyaan tersebut sudah pasti karena beban finansial. Dengan membeli pesawat secara tunai, tentu perusahaan harus mencari cara agar likuiditas keuangan tetap stabil sekalipun mengeluarkan uang tunai dalam jumlah besar.

Dikutip dari laman Simple Flying, ambil contoh pada proyeksi Qatar Airways. Maskapai terbaik dunia 2019 versi Skytrax tersebut dikabarkan ingin memperluas operasinya di masa mendatang dengan membutuhkan setidaknya 10 armada Boeing 787 baru untuk memuluskan langkahnya.

Jika maskapai memiliki cukup uang tunai atau dapat memperoleh pinjaman bank, tentu mereka dapat membeli pesawat langsung dari Boeing. Merujuk pada daftar harga, Boeing 787-8 baru dibanderol sekitar US$240 juta atau Rp3,7 triliun (kurs Rp 15,808). Dengan asumsi bahwa Qatar Airways akan mendapatkan diskon 35 persen dari Boeing, maka maskapai tersebut setidaknya harus merogoh kocek sebesar US$1,56 miliar atau Rp24, 8 triliun (kurs Rp 15,808) untuk membeli 10 unit Boeing 787 baru.

Opsi lain yang dimiliki Qatar Airways untuk memperoleh 10 armada baru adalah menyewa pesawat Boeing 787 dreamliner ke beberapa perusahaan leasing ternama di dunia, seperti Avolon atau GECAS, yang tarif rata-rata sewanya sekitar US$1 juta atau Rp15,8 miliar (kurs Rp 15,808) per bulan. Dengan asumsi bahwa Qatar Airways juga akan menerima diskon sebesar 35 persen dari GECAS atau Avolon, dalam setahun, mereka hanya perlu membayar US$78 juta atau Rp1,2 triliun (kurs Rp 15,808) juta per tahun. Cukup hemat, bukan?

Selanjutnya, bila Qatar Airways mengambil kontrak leasing selama sekitar 20 tahun, nilai totalnya akan menjadi sekitar US$2,34 miliar. Dengan begitu, seluruh pihak di dalam lingkaran tersebut, baik Boeing beserta mitranya selaku produsen, GECAS atau Avolon selaku lessor, dan Qatar Airways selaku penyewa, akan sama-sama mendapatkan untung berdasarkan porsinya masing-masing. Khusus untuk Qatar Airways, keuntungan lainnya mereka dapat mengelola uang tunai yang ada untuk kebutuhan lainnya dan mempertahankan likuiditas dalam bisnis mereka.

Dalam kesepakatan peminjaman pesawat pada lessor, biasanya ada tiga model bisnis yang dilakukan, mulai dari sewa basah atau wet lease, sewa kering atau dry lease, dan sewa lembab atau damp lease. Sewa kering pada umumnya adalah model bisnis yang paling banyak digemari maskapai, yang mana maskapai penerbangan komersial mengambil pesawat dari perusahaan leasing untuk jangka waktu tertentu dan maskapai menyediakan krunya sendiri. Jadi, hanya menyewa pesawatnya saja.

Sewa basah, biasa juga dikenal sebagai ACMI atau Aircraft, Crew, Maintenance, Insurance, lebih didasari ketika maskapai mendesak membutuhkan pesawat tambahan untuk mengisi kekurangan armada akibat satu dan lain hal. Misalnya akibat masalah mesin Rolls-Royce pada Boeing 787 beberapa waktu belakangan.

Dengan adanya masalah tersebut, otomatis, maskapai harus meng-grounded armada 787 mereka atas alasan keselamatan. Celakanya, di saat yang bersamaan, maskapai harus tetap mempertahankan jaringan domestik atau global mereka untuk keberlangsungan bisnis perusahaan. Di saat seperti inilah, biasanya sewa basah pesawat sangat digemari maskapai. Biasanya model bisnis seperti ini hanya untuk jangka pendek dengan nilai kontrak jauh lebih sedikit dibanding sewa kering.

Adapun sewa lembab adalah model bisnis dimana lessor menyediakan pesawat, awak pesawat, dan perawatan, sedangkan maskapai hanya menyediakan awak kabin. Umumnya model bisnis seperti ini banyak terjadi di Inggris.

Baca juga: Kata Konsultan Penerbangan: Sebagian Besar Maskapai Global Akan Bangkrut Akhir Mei!

Model bisnis lainnya yang banyak terjadi di luar ketiga itu adalah kesepakatan jual-dan-penyewaan kembali. Model bisnis seperti itu umum dilakukan semata demi mendapatkan uang tunai dan meningkatkan modal. Qatar Airways tercatat pernah membuat perjanjian jual-dan-balik menyewa untuk tujuh unit A350 baru dengan GECAS pada tahun 2017. Selain itu, Cathay Pacific dan BOC Aviation juga pernah membuat kesepakatan jual dan penyewaan kembali yang mencakup enam unit Boeing 777-300ER.

Akan tetapi, opsi membeli ataupun menyewa pesawat sebetulnya sama-sama memiliki andil besar dalam menyokong kesuksesan bisnis maskapai. Bergantung pada bagaimana pengelolaan bisnis itu sendiri. Wizz Air, misalnya, tidak akan mencapai pertumbuhan 253 persen dalam delapan tahun terakhir tanpa menyewa 100 persen armadanya. Baru-baru ini, pertumbuhan dinamis LOT Polish Airlines, Indigo, GOL atau Vueling juga tak terlepas dari keputusan menyewa pesawat. Maskapai tersebut saat ini tercatat memiliki lebih dari 70 persen pesawat sewaan.

Leave a Reply