Pesawat komersial regional bermesin baling-baling (turboprop), seperti ATR 72 dan De Havilland Dash 8, adalah tulang punggung penerbangan jarak pendek di banyak negara, terkenal karena efisiensi bahan bakarnya. Namun, di Amerika Serikat (AS) dan sebagian besar Eropa Barat, popularitas mereka jauh tertinggal dibandingkan dengan jet regional kecil (regional jet).
Analisis ini menguraikan alasan utama mengapa turboprop gagal mendominasi pasar penerbangan regional yang kompetitif di Barat. Alasan utama mengapa jet regional (seperti Embraer E-Jets dan CRJ Series) mengalahkan turboprop adalah faktor waktu tempuh dan persepsi kenyamanan.
Turboprop terbang lebih lambat (sekitar 250–300 knot) dibandingkan jet regional (sekitar 400–450 knot). Di pasar AS yang didorong oleh konektivitas yang cepat, penumpang sering memilih penerbangan jet, bahkan jika perbedaannya hanya 15–20 menit pada rute pendek.
ATR-72 600, Pesawat Tercanggih Untuk Penerbangan Perintis Nasional
Secara historis, turboprop memiliki reputasi sebagai pesawat yang lebih bising dan lebih banyak getaran di kabin, meskipun teknologi modern (Active Noise and Vibration Suppression/ANVS) telah banyak meredam masalah ini. Namun, stigma “turboprop = pesawat kuno/kurang nyaman” sulit dihilangkan.
Sebagian besar kontrak pilot maskapai utama AS (seperti Delta, United, American) mencakup Klausul Lingkup. Klausul ini membatasi ukuran dan berat pesawat yang boleh dioperasikan oleh maskapai regional afiliasi (seperti SkyWest atau Republic Airways).
Secara historis, batasan kapasitas tempat duduk (misalnya, maksimum 76 kursi) sangat cocok dengan model jet regional yang lebih kecil (misalnya CRJ700 atau Embraer E175). Turboprop modern yang lebih besar (seperti Dash 8-Q400 atau ATR 72) sering kali memiliki kapasitas yang sama atau bahkan lebih besar, tetapi maskapai AS memilih jet untuk konsistensi operasional dan kenyamanan penumpang.
Klausul ini secara efektif membatasi permintaan maskapai regional AS untuk model turboprop berkapasitas tinggi.
Meskipun turboprop jauh lebih efisien bahan bakar per mil kursi terbang, maskapai besar AS dan Eropa mengutamakan efisiensi dalam hal waktu turnaround (waktu antara kedatangan dan keberangkatan) dan utilisasi blok waktu. Sebagian besar rute regional di AS adalah rute feeder (pengumpan) yang masuk ke hub besar (misalnya Chicago, Dallas, Frankfurt). Turboprop, yang bergerak lebih lambat, dapat mengganggu kelancaran lalu lintas jet yang padat di hub tersebut, menciptakan masalah slot waktu dan flow lalu lintas udara.
Penghematan bahan bakar turboprop tidak selalu menutupi biaya operasional keseluruhan jika pesawat menghabiskan lebih banyak waktu di udara (karena lebih lambat), yang mengurangi jumlah penerbangan yang dapat dilakukan per hari.
Popularitas turboprop di pasar lain membuktikan bahwa kelemahan di Barat adalah masalah strategis, bukan teknis, di pasar yang memiliki landasan pacu pendek, medan pegunungan, atau harga bahan bakar sangat tinggi (seperti Indonesia, Filipina, atau Australia), turboprop adalah pilihan logis karena kemampuan lepas landas dan mendarat yang lebih baik di landasan pendek (Short Takeoff and Landing/STOL).
Arah Baling-baling pada Mesin Pesawat Turbopropeller Ada Dua Jenis, Co-rotating dan Counter Rotating
