Mengenal Pengujian Statis, Proses Sertifikasi Pesawat Tanpa Perlu Terbang

0
Airbus A350 XWB tengah menjalani pengujian statis. Foto: Airbus

Sebelum dioperasikan oleh maskapai di seluruh dunia, pesawat harus melewati sertifikasi terlebih dahulu. Mengingat tahapan ini amatlah penting dan menentukan kelaikan sebuah pesawat, prosesnya sangat panjang dan mahal. Tetapi, lain halnya dengan pengujian statis. Di tahap ini, pesawat diuji tanpa perlu terbang. Selain lebih aman dari risiko kecelakaan, pengujian statis juga mempercepat proses sertifikasi pesawat.

Baca juga: Begini Proses Sertifikasi Pesawat Baru, Panjang dan Mahal

Sebagaimana pengujian langsung di udara, pengujian statis juga memiliki tujuan besar, yaitu untuk mensimulasikan kekuatan pesawat ketika di udara. Caranya, para insinyur biasanya akan melakukan simulasi tekanan ke sayap, badan (body), dan ekor pesawat.

Pada umumnya, pesawat diuji lebih dari kemampuan normal atau batas maksimum pesawat. Itu dilakukan sebagai langkah antisipatif terhadap segala macam kemungkinan yang terjadi ketika pesawat beroperasi mengangkut penumpang.

Itulah mengapa tes seperti itu dilakukan secara statis. Sebab, bila itu dilakukan di udara, kemungkinan pesawat gagal dalam pengujian cukup besar dan menyebabkan pesawat jatuh berserakan di daratan. Tentu itu akan membuat produsen pesawat kehilangan jutaan dolar.

Dikutip dari Simple Flying, pada September 2019, silam, misalnya, pintu pesawat uji Boeing 777X meledak saat tengah melalui pengujian statis. Beruntung insiden itu tak sampai menimbulkan korban jiwa. Lebih dari itu, beruntung, insiden itu terjadi saat pengujian statis, bukan saat pengujian di udara. Tak terbayang bukan bila itu terjadi saat di udara, berapa juta dolar yang terbuang karenanya.

Selain menghemat waktu dan tentu saja finansial, pengujian statis tetap bisa memberikan informasi akurat terkait kemampuan pesawat.

Masih dalam kasus Boeing 777X, setelah menjalani pemeriksaan intensif dan pengujian ulang, para insinyur menemukan bahwa insiden pintu pesawat terpanjang di dunia yang dilengkapi dengan mesin terkuat di dunia itu meledak bukan terjadi karena pintu itu sendiri, melainkan karena dekompresi eksplosif akibat body pesawat di bagian tengah lemah; tepatnya di belakang landing gear.

Baca juga: Lolos Tes Terowongan Angin, Pesawat Supersonik Ramah Lingkungan Aerion Kian Nyata

Saat itu, Boeing 777X tengah diuji dengan tekanan 1,48 beban maksimum yang biasa dialami pesawat ketika terbang, meleset dari target Regulator Penerbangan Sipil AS (FAA) sebesar 1,50 yang harus ditahan selama tiga detik.

Meski berhasil melewati pengujian statis di darat, pada akhirnya, pesawat baru ataupun pesawat lama yang disertifikasi ulang, akan tetap menjalani penerbangan langsung di udara. Itu akan lebih meyakinkan daripada hanya sekedar pengujian statis. Sebab, tak semua hal terkait pesawat bisa diuji di laboratorium di darat.

Leave a Reply