Mengenang Tragedi Superga, Kecelakaan Pesawat yang Tewaskan Generasi Emas Torino dan Italia

0
Generasi emas Torino FC dan Italia yang disebut sebagai Grande Torino tewas dalam kecelakaan pesawat Fiat G.212 CP di bukit Superga, Turin, Italia. Foto: Getty Images

Sepanjang sejarah, ada beberapa tim sepak bola tragis yang terlibat dalam kecelakaan pesawat. Di tahun 2016, kecelaakan pesawat LaMia Airlines dengan nomor penerbangan 2933 menewaskan banyak pemain klub Brasil, Chapecoense.

Baca juga: Tragedi 11 September, Mengenang Momen Keberanian Penumpang Melawan Teroris di United Airlines Flight 93

Mundur jauh ke belakang, Tragedi München atau Munich tahun 1958 turut menghilangkan delapan nyawa pemain Manchester United. Ketika itu, pesawat British European Airways dengan nomor penerbangan 609 jatuh tak lama setelah lepas landas.

Mundur sedikit, kecelakaan pesawat tragis yang melibatkan para pemain sepak bola juga terjadi pada 1949 yang dikenang sebagai Tragedi Superga (Superga Air Disaster). Tanpa mendiskreditkan tragedi kecelakaan udara yang melibatkan pemain dan klub sepak bola lainnya, Tragedi Superga menjadi salah satu yang paling menyesakkan.

Bagaimana tidak, generasi emas pesepak bola Italia dan klub Torino FC yang kondang disebut Grande Torino, beserta pelatih fenomenalnya, tewas dalam tragedi tersebut.

Saat ini, Juventus bersama Cristiano Ronaldo dkk memang menjadi penguasa Italia dan Turin. Tetapi, di dekade 40an, Torino FC adalah jawaranya. Ketika itu, Torino bersama generasi emas Grande Torino berhasil memenangkan lima gelar liga berturut-turut.

Tak berhenti sampai di situ, Grande Torino juga menjadi andalan di tim nasional Italia. Dalam kemenangan 3-2 melawan Hungaria pada tahun 1947, misalnya, 10 dari 11 starter Timnas Italia adalah pemain Torino FC. Sungguh generasi emas yang amat berharga buat Torino dan Italia.

Mirisnya lagi, Grande Torino tewas bersama pelatih yang membesarkannya, Leslie Lievesley. Pelatih ini bukan sembarang orang. Ia adalah mantan Angkatan Udara Inggris saat Perang Dunia II. Selama hidupnya, ia berhasil lolos dari tiga kecelakaan pesawat sampai akhirnya tewas dalam kecelakaan pesawat keempatnya di Tragedi Superga.

Dilansir Simple Flying, sehari setelah pertandingan atau 4 Mei 1949, Grande Torino berangkat dari Lisbon, untuk melakoni laga persahabatan melawan Benfica, menggunakan pesawat Fiat G.212 CP maskapai Avio Linee Italiane.

Selain 18 pemain dari generasi emas Grande Torino, pesawat membawa serta staf pelatih, jurnalis, dan eksekutif klub. Total ada 27 penumpang ditambah empat kru dalam pesawat tersebut.

Setelah berangkat dari Lisbon pada pukul 09:40 waktu setempat, pesawat mendarat di Barcelona pada pukul 13:00. Di sini, saat mengisi bahan bakar pesawat, Grande Torino berkesempatan bertemu dengan tim AC Milan, yang sedang dalam perjalanan untuk bermain di Madrid. Pesawat lepas landas sekali lagi pada pukul 14:50.

Namun nahas, saat ingin mendarat di Bandara Turin-Aeritalia, 2 jam setelah lepas landas, pesawat menabrak Basilika Superga atau bukit Superga di ketinggian 669 meter mdpl.

Baca juga: Hanya Empat Penumpang Selamat, Tragedi JAL 123 Kecelakaan Udara Terburuk di Jepang

Kecelakaan diduga akibat cuaca buruk dimana jarak pandang hanya 40 meter, hujan, serta angin kencang. Pesawat diduga menyimpang dari jalur penerbangan hingga akhirnya menabrak bukit. Tetapi, penyelidikan di kemudian hari menyebut kemungkinan kecelakaan disebabkan oleh kegagalan altimeter.

Pada 6 Mei 1949 atau dua hari setelah Tragedi Superga, Torino dianugerahi gelar juara Liga Italia lima kali beruntun sebagai bentuk penghormatan. Kini, puing-puing dari kecelakaan pesawat di Tragedi Superga disimpan di Museum Turin.