Bagi masyarakat Kota Surabaya tentu sangat identik dengan kereta api untuk melakukan perjalanan ke berbagai wilayah di Jawa Timur. Tak hanya kereta api lokal, berbagai kereta api rute jarak jauh pun banyak di gandrungi masyarakat tersebut dengan keberangkatan dari beberapa stasiun besar di Surabaya, salah satunya adalah Stasiun Surabaya Kota.
Keadaan Surabaya yang makin sibuk merupakan salah satu pusat perekonomian dan pemerintahan yang mendorong adanya pembangunan infrastur kereta api di kota tersebut. Nah, Stasiun Surabaya Kota merupakan stasiun pertama di Surabaya. Pembangunannya pun dimulai pada tahun 1870 dan resmi dibuka pada 16 Mei 1878.
Bangunan Stasiun Surabaya Kota kemudian diperluas dengan dua bangunan sudut dari tahun 1880 dan selesai dibangun pada tahun 1889. Awalnya, stasiun ini dirancang untuk mengangkut hasil bumi dan perkebunan dari Malang ke pelabuhan Tanjung Perak.
Seiring meningkatnya penggunaan kereta api pada akhir abad ke-19, bangunan lama stasiun tidak lagi memadai. Pada 1899, stasiun lama dirobohkan dan digantikan dengan bangunan baru berarsitektur Neo-Klasik. Lokasinya bergeser sekitar 200 meter ke arah barat dari tempat sebelumnya. Perubahan ini bertujuan untuk memperluas fasilitas demi mengakomodasi peningkatan jumlah penumpang dan barang.
Nama stasiun yang sebelumnya dikenal sebagai Soerabaia kemudian resmi berubah menjadi Surabaya Kota pada pertengahan 1900. Namun, suatu keunikan bahwa Stasiun Surabaya Kota juga dinamaksn sebagai Stasiun ‘Semut’. Sebagai titik sentral transportasi, Stasiun Semut menjadi saksi perjalanan panjang perkeretaapian di Pulau Jawa dan evolusinya dari zaman kolonial hingga modern.
Ternyata penyebutan nama Stasiun Semut, jika ditelusuri sejarahnya terpapar dalam dua buku literasi kuno. Yaitu Spoorwegstations op Jawa karya Michiel Van B De Jong dan Gedenboek Van Staatspoer en Tramwegen van Nederlands Indie 1875-1925 tulisan S.A Reitsma. Dalam buku tersebut dituliskan bahwa pada zaman kolonial pernah ada perkemahan militer Belanda yang bermukim di dekat stasiun dengan nama ‘Semoet.’
Sehingga, kemudian nama stasiun di tepi Kalimas ini dikenal dengan nama Stasiun Semut. Namun demikian, pemerintah Gemeente Soerabaja (Pemkot Surabaya) secara resmi mengakui stasiun ini dengan nama Stasiun Soerabaja Kota. Tak hanya di era kolonial, keberadaan Stasiun Semut selama periode kemerdekaan Indonesia memegang peran vital dalam menyatukan kota Surabaya dengan daerah-daerah di sekitarnya.
Namun pada 13 Juli 2012, Stasiun Semut mulai dipugar untuk dikembalikan ke bentuk aslinya setelah kesepakatan yang didapatkan dari beberapa pihak terkait, seperti Pemerintah Kota Surabaya, Balai Pelestarian Purbakala (BP3) Jatim dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Saat ini, Stasiun Semut telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM 23/PW007/MkP/2007 tentang Penetapan Stasiun Kereta Api Semut Surabaya sebagai Bangunan Cagar Budaya yang dilindungi Undang-Undang No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Tidak hanya sebagai pusat transportasi, Stasiun Semut juga mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar. Kemudian, perkembangannya pun bukan hanya tempat naik dan turun penumpang, Tetapi juga menjadi saksi bisu perubahan sosial, ekonomi dan politik di Surabaya.
Gubeng, Angkut Hasil Bumi Hingga Serdadu Belanda, Inilah Stasiun Kebanggaan Arek Suroboyo!
