Meski Boeing Keok, Airbus Belum Bisa Salip Boeing dalam Urusan Produksi Pesawat

0
Proses perakitan pesawat Airbus di pabrik Tianjin, Cina. Foto: REUTERS/Joseph Campbell

Terpuruknya Boeing akibat sederet masalah yang terkait dengan 737 MAX, membuat manufaktur asal Eropa, Airbus, berada di atas angin. Sejumlah pengamat menyebut, kondisi ini membuat apapun yang dilakukan Airbus saat ini (dalam keadaan Boeing yang sedang terpuruk) akan senantiasa mengantarkan mereka berada selalu di depan.

Baca juga: Musibah Virus Corona Justru Selamatkan Boeing 787 dan Rolls-Royce

Terbukti, dalam urusan pengiriman pesawat pada 2019 lalu dan pesanan pesawat pada 2020 mendatang, Airbus memang unggul dan mencatatkan rekor pengiriman pesawat internalnya. Namun nyatanya, tidak demikian dalam urusan produksi pesawat.

Dikutip KabarPenumpang.com dari nytimes.com, Jumat, (14/2), kepala eksekutif Airbus, Guillaume Faury, melaporkan, tahun lalu pihaknya memang berhasil memecahkan rekor, yakni berhasil mengirimkan 863 pesawat komersial, naik dari tahun sebelumnya sebesar 800. Selain itu, pesanan juga meningkat dari semula 747 menjadi 768 pesawat di tahun 2020 mendatang.

Hal tersebut kemudian didukung dengan pangsa pasar pesawat narrow body Airbus yang kini semakin bergairah dengan meningkatkan kepemilikannya di A220, sebuah jet yang dikembangkan bersama oleh Bombardier, pabrikan pesawat asal Kanada.

Meski demikian, Guillaume Faury menyebut, dalam urusan produksi pesawat, pihaknya belum bisa menyalip Boeing, khususnya dalam jangka pendek. Hal itu disebabkan banyak faktor yang erat kaitannya dengan sebuah ekosistem bisnis. Singkatnya, mulai dari hulu hingga hilir; yang notabene banyak melibatkan pihak lain, seperti penyediaan bahan baku, kapasitas produksi, pengiriman bahan baku, mulai dari bahan mentah, setengah jadi, hingga barang jadi ke mitra kerja Airbus, baik internal maupun eksternal, yang tersebar di 11 negara, seperti Wales, Spanyol, Perancis, Jerman, hingga Cina.

“Ini mungkin terlihat seperti sebuah paradoks, tetapi dalam jangka pendek, kami tidak mendapatkan manfaat dari situasi dengan pesaing kami,” kata Faury, dalam pidatonya pada hari Kamis, di sebuah konferensi pers terkait laporan keuangan perusahaan pada 2019 lalu, di Kota Toulouse, Perancis.

Dalam kesempatan tersebut, dirinya juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar Airbus adalah mengirim pesanan pesawat ke pelanggan, yang sangat terpengaruh dengan kemampuan perusahaan dalam memproduksi pesawat secepat mungkin.

Oleh karenanya, pihaknya berencana untuk meningkatkan kapasitas produksi A320NEO, jet lorong tunggal terlaris sekaligus alternatif pelarian dari 737 MAX, menjadi sekitar 67 unit sebulan di tahun 2023, naik dari target 63 sebulan di tahun 2021. Namun, hal tersebut kini mendapat penolakan dari para pemasok. Belum jelas apa dasar penolakannya.

Akan tetapi, kedigdayaan Airbus dalam menyaingi Boeing sebagai pesaing utama merebut status raksasa dirgantara nomor satu dunia, diperkirakan akan mulai memudar saat Boeing 737 MAX mulai kembali mengudara. Pimpinan Federal Aviation Administration (FAA) sendiri pekan lalu melaporkan bahwa uji terbang 737 MAX akan diadakan dalam waktu dekat. Bila lulus, maka, pesawat tersebut akan dapat kembali mengudara musim panas mendatang atau sekitar pertengahan tahun 2020.

Ketika 737 MAX sudah kembali mengudara, hal tersebut dapat menjadi ancaman bagi Airbus. Bukan karena pangsa pasar mereka akan kembali tertekan karena kuallitas 737 MAX, melainkan perang diskon yang terjadi. Di awal kemunculannya kembali, Boeing memang diprediksi akan memberikan diskon menarik untuk merebut kembali kepercayaan maskapai pada 737 MAX.

Jika itu terjadi, Airbus mau tak mau juga harus mengikuti langkah Boeing untuk memberikan diskon menarik, agar pangsa pasar tidak sepenuhnya lepas ke tangan Boeing. Tentu hal tersebut akan menjadi petaka bagi kedua pihak bila tidak diimbangi dengan strategi penjualan lainnya, terlebih Airbus yang tengah mengalami kerugian besar tahun lalu.

Baca juga: Diduga Terima ‘Cashback’ dari Airbus, Tony Fernandes Mundur 2 Bulan dari AirAsia

Dalam acara jumpa pers laporan keuangan kemarin, Guillaume Faury, kepala eksekutif Airbus, juga melaporkan bahwa perusahaan yang dipimpinnya mengalami kerugian besar. Padahal sebelumya, ia justru mengabarkan bahwa Airbus berhasil mencetak rekor pengiriman dan lonjakan pesanan pesawat.

“Airbus melaporkan kerugian keseluruhan 1,36 miliar euro, atau US$1,48 miliar untuk 2019. Alasan utama kerugian itu adalah kesepakatan untuk membayar denda US$4 miliar ke Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat untuk menyelesaikan skandal korupsi,” ujarnya.

Leave a Reply