Meski Visa Sudah Ditangan, Bukan Jaminan Bisa Masuk Ke Amerika Serikat, Lho!

0

Dalam beberapa hari ini, kabar tentang dunia keimigrasian tengah riuh, lantaran Pemerintah Amerika Serikat lewat US Customs and Border Protection Agency yang bagian dari US Department of Homeland Security tak mengizinkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo untuk menginjakan kaki di Negeri Paman Sam. Gatot Nurmantyo yang berangkat bersama istri dan delegasi TNI tak mendapatkan izin meski visa valid sudah dipegang oleh Jenderal bintang empat ini.

Baca juga: Departemen Keamanan Dalam Negeri AS Umumkan Langkah Keamanan Penerbangan Baru

KabarPenumpang.com melansir dari laman abc.net.au (23/10/2017), saat itu Gatot hendak berangkat menggunakan penerbangan Emirates menuju ke Washington pada Sabtu malam. Kepergiannya ke AS pun atas undangan resmi Jenderal Amerika Serikat Joseph F Dunford Jr, Kepala Staf Gabungan AS untuk menghadiri sebuah konferernsi dalam memerangi ekstremisme dan kekerasan.

Namun, sebelum berangkat Gatot beserta istri mendapat pemberitahuan dari maskapai jika tidak diizinkan masuk ke Amerika Serikat berdasarkan Perintah dari US Customs and Border Protection Agency. Biasanya seseorang yang dilarang dan tidak diperbolehkan masuk pada suatu negara, dikarenakan visa yang mereka miliki bermasalah atau si pemilik visa merupakan anggota kawanan teroris dan pemberontak.

Tetapi, diketahui Jenderal bintang empat ini tidaklah terkena tuduhan apapun baik terorisme, pelaggaran hak asasi manusia atau hal lainnya, sehingga tidak ada alasan untuk melarang masuk ke negara tersebut. Apalagi di Februari 2016 lalu, Gatot sudah berkunjung ke Amerika Serikat dan tidak ada masalah apapun yang terjadi.

Meski hujan permintaan maaf telah dilayangkan pemerintah AS lewat Kedutaan Besar-nya di Jakarta, penolakan Panglima TNI ini terasa ‘misterius.’ Sepeerti diwartakan, boarding pass Gatot untuk rute Jakarta – Doha telah keluar, namun boarding pass Doha – Washington DC yang kemudian diketahui ‘bemasalah,’ yang kemudian pihak Emirates menyampaikan kabar tersebut saat Sang Jenderal telah tiba untuk check in di Bandara Soekarno-Hatta.

Beberapa bulan lalu, hal ini juga menimpa seorang perempuan bernama Abbey Looker yang dikabarkan tidak bisa masuk ke London, Inggris selama sepuluh tahun lantaran visa tidak keluar. Saat itu, Abbey mengajukan visa Tier Five Youth Mobility online pada 6 Mei lalu dan mengirimkan dokumen tersebut tanggal 9 Mei.

Baca juga: Visa on Arrival, Bisa Berdampak Pada Risiko Keamanan di Dalam Negeri

Abbey dijadwalkan akan berangkat pada 19 Juni menuju Inggris. Penasaran atas proses penerbitan visa, Abbey beberapa kali menelpon ke imigrasi Inggris untuk mengetahui kenapa visa yang diajukannya tidak juga sampai ke alamatnya. Diketahui, pengajuan visa memakan waktu selama dua minggu, tetapi setelah enam minggu penantian, dirinya mendapat kabar bahwa visanya sedang di proses, sedangkan dirinya telah membeli tiket pesawat dan memutuskan berangkat dan masuk ke Inggris dengan visa liburan untuk enam bulan.

Saat Looker tiba di Inggris, perempuan ini tidak menemui masalah sedikitpun dan menikmati kota London dengan nyaman dan tenang. Namun muncul masalah pada enam hari kemudian, Looker bersama sang kekasih pergi ke Spanyol untuk wisata liburan lanjutan dan diakhiri dengan rute kembali ke Inggris. Nah, saat Looker tiba dari Spanyol, munculah masalah dengan petugas imigrasi di bandara Gatwick, London, karena masalah tersebut, kini Looker dilarang masuk ke Inggris selama sepuluh tahun.

Baca juga: Gara-Gara Salah Administrasi, Perempuan Ini Tak Bisa Masuk Inggris Selama 10 Tahun

Pelarangan masuk ke dalam suatu negara biasanya dikarenakan visa yang tidak disetujui, visa yang sudah habis masa berlakunya, atau pemilik visa adalah seorang teroris atau pelaku kejahatan yang bisa merugikan negara yang dikunjunginya tersebut.

Kembali ke insiden yang menimpa Panglima TNI, besar kemungkinan pihak AS melakukan prosedur secondary check kepada seseorang yang akan menuju ke AS. Artinya meski visa sudah ditangan akan ada prosedur pengecekan keamanan yang melibatkan beberapa instansi, namun sayangnya otoritas di AS justru melakukan kekeliruan fatal pada orang nomer satu di TNI ini.

Leave a Reply