Seperti yang diketahui bahwa jalur kereta api di wilayah Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang memiliki jalur kereta api yang memiliki nilai historisnya yang tinggi. Tak hanya jalur aktif, namun yang non aktif pun masih sangat ikonik dengan bangunan cagar budaya peninggalan jaman Kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Salah satu yang cukup dikenal di wilayah ini adalah jalur tengah antara Brumbung hingga Kedungjati.
Ya, jalur tersebut memang terdapat beberapa warisan cagar budaya berupa stasiun yang berusia bahkan lebih dari satu abad lamanya, semenjak jalur kereta api tersebut sudah beroperasi. Salah satu diantaranya adalah bangunan Stasiun Kedungjati. Dikutip dari Journal of Indonesian History Universitas Negeri Semarang (Unnes), berjudul ‘Stasiun Kereta Api Kedungjati dan Perekonomian Desa Kedungjati Tahun 1966- 1989’, Stasiun Kedungjati dengan kode (KED) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Kedungjati, Grobogan.
Stasiun yang terletak pada ketinggian +36 mdpl ini berada di Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang. Stasiun Kedungjati diresmikan pada 21 Mei 1873. Stasiun kereta api Kedungjati ini dibangun enam tahun setelah jalur kereta api Semarang-Tanggung yang merupakan jalur pertama yang beroprasi di pulau Jawa, yang beroperasi pada tahun 1867.
Pada masa itu, Kedungjati memiliki hutan yang sangat luas dan merupakan penghasil kayu jati terbesar di Jawa Tengah, sehingga pemerintah Belanda memerintahkan untuk dibangunnya stasiun kereta api Kedungjati di desa Kedungjati, untuk mengangkut hasil hutan yang berupa kayu jati dari desa Kedungjati menuju Yogyakarta melalui Solo.
Menariknya, arsitektur stasiun Kedungjati ini serupa dengan Stasiun Willem I di Ambarawa, bahkan dulu beroperasi jalur kereta api dari Kedungjati ke Ambarawa, yang sudah tidak beroperasi pada tahun 1978. Meskipun hingga kini jalur Kedungjati – Tuntang masih terputus, namun pemerintah merencanakan untuk kembali direaktivasi agar jalur tersebut bisa terhubung.
Ya, jalur legendaris Kedungjati – Tuntang merupakan bagian dari sejarah awal perkeretaapian Indonesia dan termasuk koridor tertua dalam pembangunan jaringan rel nasional. Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) Bobby Rasyidin melakukan kunjungan kerja ke wilayah Daerah Operasi 4 Semarang, Kamis (12/2/) lalu, untuk meninjau kondisi jalur nonaktif relasi Kedungjati – Tuntang.
“Reaktivasi jalur Kedungjati – Tuntang membuka akses ekonomi baru, memperluas mobilitas masyarakat, dan mendorong pengembangan kawasan yang memiliki potensi di sektor pertanian, kehutanan, serta pariwisata sejarah,” ujar Bobby dalam keterangan tertulisnya yang dikutip dari laman CNBC pada Sabtu, (14/2).
Selain potensi ekonomi, jalur ini memiliki nilai sosial dan budaya yang kuat. Stasiun Tuntang dikenal sebagai salah satu stasiun tertua dengan arsitektur khas Swiss Chalet, sedangkan Stasiun Kedungjati memiliki bangunan bersejarah yang menjadi bagian penting perkembangan perkeretaapian nasional.
Masyarakat pun berharap bahwa jika jalur Kedungjati – Tuntang kembali aktif, tentunya perekonomian makin berjalan dengan lancar. Dan lebih memudahkan masyarakat untuk menuju ke berbagai kawasan destinasi wisata yang berada di lokasi terhubung tersebut.
Karena sudah jelas bahwa Jalur ini adalah bagian dari titik awal sejarah perkeretaapian Indonesia. Pelestarian heritage harus berjalan selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
Merasakan Nuansa Khas Vintage Stasiun Gundih di Jalur Penghubung Semarang-Solo
