Misteri Kecelakaan Air India Tahun 1966 yang Tewaskan Tokoh Penting Mulai Terkuak, Ada Campur Tangan CIA

0
Boeing 707 'Kanchenjanga' jatuh dengan memuat Homi Jehangir Bhabha, fisikawan nuklir dan bapak program nuklir India pada 24 Januari 1966. Foto: Twitter @IamMPNath

Gunung Mont Blanc di Pegunungan Alpen, Perancis, jadi saksi bisu kecelakaan pesawat maskapai Air India dengan nomor penerbangan AI-101. Pesawat diketahui jatuh pada 24 Januari 1966 atau 54 tahun silam dan menewaskan seluruh penumpang dan kru pesawat yang berjumlah 117 orang tewas. Pesawat diketahui tengah menuju London dari Mumbai, melalui Delhi, Beirut, dan Jenewa. Jelang tiba di Jenewa itulah pesawat dilaporkan jatuh.

Baca juga: Hari ini 31 Tahun Lalu, Terjadi Kecelakaan Kereta Terbesar di India, Tewaskan 140 Orang!

Disebut menjadi saksi bisu, sebab, sampai saat ini, belum ada keterangan resmi yang cukup memuaskan terkait jatuhnya pesawat Boeing 707 ‘Kanchenjanga’. Pemerintah Perancis sendiri menyimpulkan bahwa kecelakaan tersebut disebabkan oleh humam error.

Pilot diketahui salah menilai posisi pesawat. Sang kapten pilot mengatakan pesawat yang dikendalikannya berada di ketinggian 19.000 kaki atau sekitar 5.791 meter, atau lebih tinggi 514 meter dari puncak Mount blanc, padahal (ATC, menurut laporan pemerintah) sejatinya belum.

Disebutkan, radar controller mencatat kekeliruan pilot dan petugas segera memberitahu posisi pesawat. Namun, tak lama kemudian pesawat hilang kontak dan diketahui jatuh usai menabrak gunung. Oleh karena itulah, banyak pihak, termasuk jurnalis Perancis, banyak melakukan penyelidikan independen.

Menariknya, lokasi jatuhnya pesawat Boeing 707 Air India sama persis dengan lokasi kecelakaan pesawat Lockheed L-749A Constellation ‘Malabar Princess’ Air India 245 pada 1950. Sama halnya dengan kecelakaan Air India AI-101, insiden ‘Malabar Princess’ juga tak diketahui dengan pasti penyebabnya.

Sejak tahun 80an, berbagai teori konspirasi tentang insiden tersebut terus bermunculan. Teori yang dihadirkan pun sangat beragam, mulai dari campur tangan politik, diplomatik, serta intrik-intrik lainnya berkenaan dengan budaya.

Dari laporan The Print, konspirasi pertama diketahui keluar dari lisan Philippe Réal, editor radio dan televisi nasional, ORTF. Réal menyebut terjadi beberapa kejanggalan. Dari temuan-temuan ia dan tim di lokasi kejadian, salah satunya terdapat sebuah puing bertuliskan tanggal 1 Juni 1960. Padahal, Boeing 707 Air India yang jatuh baru beroperasi pada 1961.

Selain itu, Réal juga meminta pendapat para ahli untuk menilai puing-puing tersebut. Hasilnya, para ahli menyebut puing-puing yang dimaksud bukan berasal dari Air India. Dua kejanggalan di atas, dalam perjalanannya, dilengkapi dengan adanya upaya penghalangan oleh pemerintah dalam proses penyelidikan independen. Dari situ, tim ORTF, termasuk Réal menyebut bahwa pesawat jatuh akibat bertabrakan dengan jet tempur F-104G Starfighter.

Teori konspirasi lainnya datang dari Jean-Daniel Roche, pengusaha, olahragawan, sekaligus pribadi yang sangat penasaran. Dengan data dan fakta yang ada, Ia menyimpulkan bahwa kecelakaan pesawat maskapai Air India dengan nomor penerbangan AI-101 akibat dirudal. Namun, ia kemudian merevisi teorinya itu dan bergabung dengan teori tim ORTF.

Alasannya, pada tahun 1960-an, Italia masif mengoperasikan Starfighters untuk memata-matai instalasi militer Perancis di Mont Blanc setiap pekan dan mengambil sejumlah gambar. Terlebih, terbang di sekitar gunung membuat jet tempur tersebut lebih sulit dideteksi radar.

Teori tersebut juga didukung dengan sejumlah temuan penting lainnya. Jean-Noël Benoît, seorang kolektor puing-puing kecelakaan pesawat, tak terkecuali pesawat Air India, menunjukkan adanya panel, bantalan kabel, sakelar, dan braket berkarat bertuliskan USAF atau Angkatan Udara Amerika Serikat.

Bila dikaitkan dengan laporan Boeing yang menyebut pesawat kecelakaan akibat cuaca buruk, tentu patut diduga pabrikan tersebut tidak mengakui fakta di lapangan mengingat F-104G Starfighter juga buatan Amerika, negara tempat Boeing bernaung.

Baca juga: Hipotesa Baru Misteri MH370: Kopilot Sempat Ambil Kendali Penuh dan Arahkan Pesawat Kembali ke Malaysia

Buntut dari konspirasi tersebut, Badan Intelijen Pusat AS (CIA), akhirnya ikut terseret, yang diduga sebagai aktof intelektual terjadinya kecelakaan. CIA hendak mensabotase program nuklir India, mengingat Air India 101 memuat Homi Jehangir Bhabha, fisikawan nuklir dan bapak program nuklir India. Dalam beberapa kabel diplomatik peninggalan Bhabha, terdapat beberapa penilian New Delhi tentang program nuklir Cina, analisi Delhi soal hubungan Cina-Barat, serta perpecahan Cina-Soviet.

Temuan lainnya juga tak kalah penting, berupa surat kabar keluaran tahun 1966, keluaran National Herald dan The Economist. Surat kabar itu muncul akibat gletser di Gunung Mont Blanc mencair akibat pemanasan global. Selain itu banyak temuan penting lainnya akibat mencairnya es.

Leave a Reply