Mulai 7 Januari, Jepang Kenakan “Pajak Keberangkatan” untuk Seluruh Penumpang Internasional

Ada kabar yang harus dicermati bagi Anda yang ingin bertandang ke Jepang, baik dengan latar kunjungan bisnis dan wisata, mulai 7 Januari 2019, bagi setiap penumpang internasional yang akan meninggalkan Jepang akan dikenakan biaya baru, yaitu pajak keberangkatan (departure tax) dengan nilai 1000 yen, atau setara US$9 per penumpang.

Baca juga: Selundupkan Emas di Toilet Pesawat, Warga Jepang Berusaha Hindari Pajak Barang Mewah

Dikutip dari mainichi.jp (7/1), disebutkan pajak keberangkatan tersebut dikenakan dengan tujuan untuk mendanai berbagai proyek dan program untuk menarik wisatawan asing menjelang Olimpiade Tokyo dan Paralimpiade 2020.

Pajak baru ini dikenakan tidak hanya pada moda udara internasional, moda laut seperti yang akan keluar Jepang menggunakan kapal pesiar juga akan terkena pajak ini, tanpa pengecualian pada asal negara mereka. Meski begitu, otortitas Jepang tetap memberi pengecualian pada balita di bawah usia 2 tahun dan penumpang yang sedang transit di bandara sejak 24 jam dari kedatangan mereka.

Nantinya penghasilan dari departure tax akan dialokasikan pada tiga fungsi, yaitu penyediaan layanan perjalanan yang lebih baik, akses informasi tentang lokasi wisata di penjuru Jepang, dan meningkatkan kepuasan kunjungan wisatawan dengan mempromosikan di sumber daya regional, seperti budaya dan fitur khas di masing-masing daerah.

Pada tahun fiskal 2019, Pemerintah Jepang memperkirakan pendapatan dari pajak keberangkatan internasional mencapai 50 miliar yen. Sebagian dari pendapatan pajak juga akan dimanfaatkan untuk membangun gerbang pemeriksaan keamanan di bandara dengan teknologi facial recognition di bandara dan pelabuhan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang telah mendapatkan berkah lonjakan wisatawan asing. Badan Pariwisata Jepang bahkan menyebut jumlah wisatawan asing yang berkunjung selama 2018 mencapai 30 juta orang. Peningkatan wisatawan internasional dipercaya merupakan berkah dari stabilitas yang terjadi di wilayah Asia, seperti Cina, Korea Selatan, Hong Kong, dan Taiwan. Di tahun 2020, Jepang mematok target 40 juta wisatawan internasional, khususnya upaya untuk menarik lebih banyak wisman asal Eropa.

Meski bertujuan positif, namun beberapa penumpang yang hari ini berangkat dengan tujuan internasional menyatakan rasa skeptis atas penetapan tax departure. Takuma Asai (33 tahun) yang meniggalkan Bandara Kansai dengan tujuan Cina pada Senin ini menyebut bahwa dirinya tidak mengetahui kapan dimulainya penetapan pajak ini. “Ini seperti sebuah beban baru, setelah kenaikan pajak konsumsi yang dikenakan kepada warga pada Oktober 2018 lalu,” ujar Takuma.

Baca juga: Jepang Tawarkan Paket Wisata dengan Kereta Mewah Yang Ramah Dompet

Pengelola jasa tur juga khawatir tentang dampak tax departure, “Kebanyakan wisatawan selalu mencari paket yang lebih murah, jadi meskipun itu hanya 1000 yen, tentu akan menjadi beban besar bagi kami,” ujar petugas tur berusia 47 tahun di Osaka.