N-250, Pesawat Komuter Fly By Wire “Asli” Indonesia yang Kandas Tersapu Krisis Moneter

0
N-250. Sumber: wikipedia

Berpulangnya Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang akrab dipanggil BJ Habibie pada Rabu (11/9) kemarin memang menyisakan duka yang amat mendalam bagi warga Indonesia. Pria jenius kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 ini tidak bisa dilepaskan begitu saja dengan sektor aviasi, baik domestik maupun mancanegara. Kendati raganya sudah bersatu dengan tanah, namun jasa dan masterpiece-nya akan selalu melekat di setiap orang yang menghormatinya.

Baca juga: Kerap Jadi Bahan Pertanyaan, Apa Perbedaan Antara Fly by Wire dan Hydraulic System di Pesawat?

Salah satu masterpiece BJ Habibie yang paling terkenal di jagad dirgantara adalah airliner regional komuter bertenaga turboprop, N-250. Pesawat rakitan PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio/IPTN (sekarang menjadi PT Dirgantara Indonesia) ini menggunakan desain dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia. Bahkan, kode huruf N yang bertengger di depan nama pesawat ini merupakan akronim dari Nusantara – semakin mempertegas bahwa N-250 merupakan pesawat produksi lokal yang siap bersaing dengan burung besi buatan luar.

Dikutip KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, N-250 sejatinya menjadi primadona IPTN dalam upayanya mencuri ceruk pasar di kelas pesawat berkapasitas 50-70 penumpang dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya. Pesawat dengan bentang sayap 28 meter dan panjang 26,3 meter ini juga pernah menjadi bintang utama pada pagelaran Indonesia AirShow 1996 di Cengkareng.

Setahun sesudahnya, prototipe dari N-250 ini juga pernah diterbangkan sampai ke Eropa, yaitu untuk dipamerkan dalam Paris AirShow 1997 dan berhasil mencuri perhatian publik lewat demo udaranya. Dapat Anda bayangkan, betapa hebatnya pesawat ini pada masanya dulu – menggunakan sistem fly-by-wire, masih berstatus sebagai pesawat prototipe, namun sudah diterbangkan dan diperkenalkan ke luar negeri. Digadang-gadang, N-250 bakal menjadi lawan berat bagi keluarga ATR-72.

Namun sayang, ketika tengah menunggu sertifikasi dari pihak Federal Aviation Administration (FAA) guna menyatakan bahwa pesawat ini laik untuk mengangkut penumpang, sejumlah kendala mulai menghampiri. Satu yang menjadi tembok paling kokoh yang menahan laju dari N-250 untuk mengudara adalah krisis moneter. Hingga pada akhirnya, pengembangan pesawat yang menggunakan dua unit mesin Allison AE2100C turboprop engines ini mangkrak begitu saja. Tercatat, hanya ada dua unit dari N-250 saja yang sudah lahir ke dunia, namun itu pun statusnya masih sebagai prototipe.

Baca Juga: Lanjutkan Asa N250 yang Tenggelam, Ini Dia R80 Besutan B.J. Habibie

Sempat ada niatan dari BJ Habibie untuk kembali mengembangkan N-250 ini, terlebih saat beliau mendapatkan ‘restu’ dari Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, guna meminimalisir cost pengembangannya, BJ Habibie dikabarkan akan mengurangi performa dari N-250, seperti penurunan kapasitas mesin dan dicabutnya sistem fly-by-wire.

Leave a Reply