Nantikan Kehadiran Light Rail, George Street di Sydney Akan Terdampak Paling ‘Parah’

Sumber: 1688.com.au

Masih ingat dengan pernyataan media Australia yang mengaku ingin mempelajari seluk beluk dari Program Car Free Day yang diadakan di Jakarta karena tingkat polusi yang berkali lipat lebih tinggi ketimbang di Indonesia? Ternyata tidak hanya itu saja upaya yang dilakukan oleh otoritas Negeri Kangguru dalam mengentaskan masalah polusi. Sebut saja proyek pembangunan jaringan Light Rail yang dimulai pada tahun 2015 silam ini rencananya sudah mulai dapat ditunggangi pada tahun depan.

Baca juga: Ternyata! Jakarta Dijadikan Panutan Dalam Program Pengurangan Polusi di Sydney

Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman asia.nikkei.com (3/6/2018), adapun proyek yang membentang sejuh 12 km ini dibandrol dengan harga yang cukup fantastis, yaitu US$1,58 miliar atau yang hampir menyentuh angka Rp22 triliun! Namun proyek ini memiliki prospek yang positif karena diharapkan satu rangkaian gerbong trem ini dapat mengangkut hingga 450 orang dan berhenti 19 titik yang tersebar.

Karena proyek ini ditujukan untuk menekan laju angka pertumbuhan kendaraan pribadi khususnya mobil, maka otoritas berwenang di Negara Bagian New South Wales (NSW) akan menerapkan pelarangan kendaraan seperti mobil, bus, dan kendaraan lain dalam jarak 1 km dari George Street, kawasan Central Business District di Sydney, lokasi tersebut nantinya akan memiliki titik pemberhentian jaringan Light-Rail terbanyak. Penerapan aturan tersebut tentu saja akan memaksimalkan upaya pemberantasan polusi, karena cleared area seluas 1 km tadi akan jadi area bebas emisi kendaraan bermotor.

Di sisi lain, Pemerintah NSW selaku perencana proyek mengaku telah mengantongi kemitraan publik dan swasta guna membangun dan mengelola sistem. Tidak tanggung-tanggung, konsorsium perusahaan yang turut bekerja sama antara lain Alstom dari Perancis, Acciona selaku penyedia infrastruktur new-energy asal Spanyol, dan perusahaan mobilitas publik asal Perancis, Transdev.

Menanggapi perihal polusi akibat jumlah penduduk yang membludak di wilayahnya, otoritas NSW mengaku akan membangkitkan kembali pamor dari trem, dimana kendaraan tersebut dipercaya mampu ‘membujuk’ para pengguna kendaraan pribadi untuk beralih menggunakan saraan transportasi umum. Selain ramah lingkungan, menghidupkan kembali trem yang sejatinya pernah berjaya di abad ke-19 di Australia ini ternyata juga ramah terhadap penyandang disabilitas dan orang tua, karena menggunakan armada low-deck.

Baca Juga: Di Jakarta Segera Beroperasi MRT dan LRT, Tahukah Artinya?

Seperti yang sudah disinggung di atas, George Street akan menjadi titik transformasi paling drastis diantara kota lain yang juga turut merasakan imbas dari pembangunan jaringan Light Rail ini. Demi memberikan kenyamanan kepada para pejalan kaki, maka trotoar akan dilebarkan dan sejumlah infrastruktur akan dibenahi sehingga mengembalikan fungsi utamanya.