Nasib Malang Airbus A380, Tak Dilirik Jadi Angkutan Kargo Gegara Empat Alasan Ini

0
Airbus A380. Sumber: helicecluster.com

Pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380 di atas kertas sebetulnya mempunyai semua prasyarat untuk dialihfungsikan menjadi angkutan kargo. Namun, pesawat ini dinilai terlalu berat dan mahal untuk dioperasikan dibanding dengan konversi pesawat kargo lainnya.

Baca juga: Airbus Umumkan Produksi A380Ultra, Pesawat Mewah Tiga Lantai

Oleh karena itu, di tengah sepinya penumpang dan ketidakmampuan A380 merambah pangsa pasar kargo, praktis tak ada pilihan lain bagi maskapai kecuali ‘mengubur’ pesawat fenomenal abad 21 tersebut. Padahal, bila A380 mampu bersaing dengan pesawat lainnya, mungkin maskapai dapat sedikit terbantu.

Simple Flying belum lama ini membahas terkait kenaikan penerbangan hanya kargo dan bagaimana maskapai penerbangan global mengubah pesawat penumpang yang ada menjadi angkutan kargo guna memenuhi tingginya permintaan. Bahkan, tingginya permintaan penerbangan khusus kargo di kuartal I dan II 2020 ini tercatat menjadi yang pertama kalinya sejak beberapa dekade terakhir.

Secara matematis, dimensi lebar A380 harusnya mampu membuat muatan kargo jauh lebih fantastis. Belum lagi bila kabin penumpang dimuat kargo, sebagaimana tren penerbangan akhir-akhir ini, saking tingginya permintaan lalu lintas kargo pesawat. Namun, kalkulasi konversi A380 menjadi angkutan hanya kargo tidak semudah pesawat lainnya. Setidaknya ada beberapa hal yang membuatnya menjadi rumit.

Pertama, bobot pesawat bahkan dalam keadaan kosong sekalipun. Bobot kosong A380 masih lebih tinggi dibanding angkutan kargo besutan Boeing, 747-8F yang dinilai jauh lebih kompetitif. Dalam setiap penerbangan, setidaknya A380 butuh suntikan sebesar Rp464 juta lebih per jam. Bisa dibayangkan berapa cost dalam sekali terbang.

Kedua, sekalipun dimensi A380 jauh lebih besar bukan berarti pesawat itu dapat mengangkut lebih banyak kargo ketika dikonversi menjadi angkutan kargo. Pasalnya, A380 akan mencapai bobot maksimum sebelum seluruh sudut pesawat terisi dan menyisakan banyak ruang kosong. Dengan mahalnya operasional, ditambah banyaknya ruang kosong yang tak bisa dimanfaatkan, sudah barang tentu maskapai akan mengalami kerugian.

Ketiga, dunia tentu tahu bahwa A380 adalah pesawat komersial terbesar di dunia dengan double decker. Bila dikonversi menjadi angkutan hanya kargo, justru konsep itulah yang menjadi penghalang. Dek bawah tentu masih dimungkinkan untuk memuat bobot maksimal. Namun, tidak demikian dengan dek kedua, dimana secara matematis, hanya mampu mengangkut setengah dari bobot atau untuk material ringan saja. Lagi-lagi, A380 menyisakan ruang yang tidak pernah bisa dimaksimalkan maskapai.

Baca juga: HAECO Luncurkan Inovasi Mudahkan Kargo di Kabin Penumpang

Keempat, efektivitas. Lokasi kokpit yang berada di dek bawah membuat proses bongkar muat kargo harus dilakukan perlahan-lahan ke sisi pesawat. Hal ini membuat efektivitas A380 dinilai buruk dan tak lebih baik dibanding angkutan kargo 747 yang bagian depannya dapat terbuka lebar.

Sebelum berbagai analisa terkait berbagai kekurangan angkutan kargo A380 diungkap, beberapa raksasa kargo dunia, seperti UPS dan Fed Ex Express awalnya sempat berminat untuk memakai jasa pesawat super jumbo itu. Ketika masalah demi masalah muncul selama proses konstruksi dan bermuara pada temuan beberapa kelemahan yang cukup signifikan sebagai angkutan kargo, UPS dan Fed Ex Express pun mundur dan beralih ke Boeing.

Leave a Reply