Ngeri, Teknologi Terbaru Bisa Bikin Pesawat Ngebut 21 Ribu Km Per Jam!

0
Konsep pesawat hipersonik UCF yang didukung sistem propulsi terbaru, oblique detonation wave engine. Foto: NASA dan UCF

Teknologi sistem propulsi terbaru kembangan University of Central Florida (UCF) disebut mampu membawa pesawat melesat hingga Mach 17 atau 21 ribu kilometer per jam. Teknologi ini tentu akan membuka jalan geliat penerbangan hipersonik yang diprediksi akan marak di masa mendatang.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah, Jet NASA X-15 Jadi Pesawat Pertama yang Melesat 4,675 Km Per Jam!

Sebagai perbandingan, pesawat Lockheed SR-71 Blackbird sebagai pemegang rekor dunia untuk kecepatan tertinggi di udara saat ini, hanya mampu menyentuh 3.529 kilometer per jam.

Bila segalanya dipermudah, perjalanan dari New York di ujung timur ke Los Angeles di ujung barat Amerika Serikat sejauh 4.500 kilometer bisa tempuh hanya dalam waktu kurang dari 30 menit. Normalnya, penerbangan komersial saat ini membutuhkan waktu rata-rata enam jam perjalanan.

Dalam penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Proceedings of National Academy of Sciences, para peneliti menemukan cara menstabilkan ledakan penggerak hipersonik dengan menciptakan ruang reaksi hipersonik khusus untuk mesin jet.

“Ada dorongan internasional yang intensif untuk mengembangkan sistem propulsi terbaru untuk penerbangan hipersonik dan supersonik yang memungkinkan penerbangan melesat dengan kecepatan sangat tinggi dan juga efisien,” tulis Kareem Ahmed, profesor di Departemen Teknik Mesin dan Dirgantara UCF.

“Penemuan menstabilkan ledakan -yang notabene jadi bentuk paling kuat dari reaksi intens dan pelepasan energi- berpotensi merevolusi sistem propulsi dan energi hipersonik,” tambahnya, seperti dikutip dari Scitech Daily.

Teknologi sistem propulsi terbaru ini memanfaatkan kekuatan apa yang disebut oblique detonation wave. Sebelumnya sistem propulsi saat ini menggunakan kekuatan rotating detonation waves. Sebetulnya agak rumit untuk menjelaskan teknologi ini secara teknis. Untuk penjelasan teknisnya silahkan klik di sini.

Namun, secara sederhana, perbedaan keduanya dapat dilihat pada gelombang udara yang dihasilkan. Bila rotating detonation waves membuat ruang udara berputar, oblique detonation wave justru sebelaiknya, tidak bergerak dan relatif stabil dengan memiringkan ramp di dalam mesin.

Dengan begitu, efisiensi pada mesin penggerak jadi meningkat dan menggunakan sedikit bahan bakar dibanding sistem propulsi atau mesin penggerak sebelumnya. Muara dari itu, tentu mengurangi biaya dan emisi karbon dioksida.

Menariknya, teknologi sistem propulsi terbaru ini bukan hanya bisa digunakan pada pesawat komersial maupun militer, melainkan juga bisa digunakan pada roket untuk misi luar angkasa, menjadikannya lebih ringan dengan sedikit bahan bakar, perjalanan lebih jauh, dan pembakaran lebih bersih.

Baca juga: Cek Fakta, Kereta Shinkansen Melesat 4.800 Km per Jam, Jakarta-Surabaya Cuma 15 Menit!

Sebelum temuan dari para peneliti UCF, ilmuan di dunia sangat penasaran dengan oblique detonation wave engines atau mesin gelombang ledakan miring.

Meski masih butuh pengembangan dan penelitian lebih jauh, bila berhasil, teknologi penggerak hipersonik berbasis ledakan atau detonation-based hypersonic propulsion bisa diaplikasikan di seluruh penerbangan dan roket luar angkasa pada dekade mendatang.