“Ogah Rugi, Cari Paling Murah dan Tidak Ada Pilihan,” Jadi Momok Pemumpang Pesawat di Indonesia

Boeing 737 MAX 8 Milik Lion Air. Sumber: Tribun

Lebih dari satu bulan, nama Boeing 737 MAX menjadi sorotan publik dunia, pasca dua kecelakaan maut yang menyeret nama Ethiopian Airlines dan Lion Air sebagai operatornya. Upaya demi upaya, jawaban demi jawaban telah dilontarkan pihak Boeing yang terus diberondong pertanyaan hingga pernyataan negatif terkait kapabilitas dari pesawat jenis ini. Apabila pesawat jenis ini kembali mengudara di masa yang akan datang, akankah Anda mempercayakannya kembali?

Baca Juga: Hasil Pertemuan dengan Boeing, Garuda Indonesia Ingin Tukar Pesanan 737 MAX 8

Tentu saja ini bukan pertanyaan yang mudah untuk di jawab – terlebih apabila Anda merupakan seorang yang cermat dalam menyikapi sesuatu. Apabila Anda termasuk seseorang yang punya trauma tersendiri terhadap suatu kejadian, mungkin Anda bisa lebih cermat sebelum memesan tiket perjalanan. Anda bisa menggali informasi lebih dalam tentang perjalanan yang hendak Anda lakukan di situs resmi maskapai terkait – seperti mencari informasi tentang jenis pesawat yang akan digunakan.

Sialnya, prinsip ogah rugi, cari yang paling murah, dan tidak ada pilihan – sudah terlalu mengakar bagi kebanyakaan orang Indonesia. Tidak bermaksud ofensif, namun tiga prinsip ini memang terlihat seperti telah ‘menggadaikan’ rasa takut bahkan pada nyawanya sekalipun.

Ogah Rugi
Poin pertama, siapa sih diantara Anda yang ingin merugi? Tentu tidak ada. Lalu, apakah Anda akan melakukan refund jika ternyata tiket penerbangan yang sudah Anda beli (sialnya) menggunakan jenis pesawat yang sama dengan yang tengah ramai dibicarakan di media – sebut saja Boeing 737 MAX. Hampir dapat dipastikan, Anda akan lebih sayang dengan kompensasi penalti 20 hingga 25 persen yang dikenakan pihak OTA (Online Travel Agent) atau pihak maskapai ketimbang keselamatan diri Anda sendiri. Betulkah begitu?

Cari paling murah
Lalu poin kedua tentang pilihan yang paling ‘bersahabat dengan dompet’. Lagi, terkadang kebanyakan orang enggan keluar uang sedikit lebih banyak untuk menggunakan maskapai yang lebih kredibel ketimbang maskapai lain yang sebut saja baru tertimpa satu masalah atau terlibat dalam suatu kecelakaan. Tanpa bermaksud untuk menyudutkan satu atau lebih banyak pihak, namun stigma ini seolah tidak bisa dihapus begitu saja oleh sebagian kalangan masyarakat.

Tidak ada pilihan transportasi lain
Dan poin terakhir adalah tentang tidak punya pilihan. Ya, sebenarnya poin ini masih berkorelasi dengan poin kedua, namun lebih bermain ke arah institusi. Ambil contoh, apabila Anda hendak pergi dari Jakarta menuju Jayapura, terdapat tiga pilihan maskapai yang melayani penerbangan direct; Lion Air (raksasa LCC Indonesia), Batik Air (bagian dari Lion Air Group), dan Garuda Indonesia (flag carrier Indonesia), maskapai mana yang Anda pilih?

Mungkin sebagian dari Anda akan lebih memilih untuk menggunakan Batik Air atau bahkan Garuda Indonesia, dengan dalih trauma dengan Lion Air yang memiliki track record tidak terlalu gemilang di sektor aviasi nasional – tapi percayalah, tidak sedikit juga yang akan tetap menambatkan pilihan terhadap Lion Air dengan mengedepankan pakem ekonomis. Lalu, apalah arti dari trauma yang selama ini digaungkan?

Baca Juga: Boeing 737 MAX 7, Pecahkan Rekor Internal Penjualan Pesawat Tercepat Sepanjang Sejarah!

Namun kembali lagi, pilihan ada di tangan Anda. Sebagai pencerahan, banyak jenis pesawat di luar sana yang telah mencatat tinta hitam di dalam sejarah kedirgantaraan global – melebihi 737 MAX yang tercatat baru mengalami dua kecelakaan saja.

Boeing 747-100/200/300: 26 peristiwa fatal
Airbus A300 (semua model): 10 peristiwa fatal
Airbus A318 / A319 / A320 / A321: 14 peristiwa fatal
Boeing 737-600/700/800/900: 9 peristiwa fatal