Pangkas Durasi Security Check, Ini yang Dilakukan Beberapa Bandara dan Maskapai

Sumber: airlinereporter.com

Banyaknya tahap yang dilewati oleh penumpang di bandara terkadang memang membuat mereka lelah dan kesal. Terkesan seperti bertele-tele, namun sebagai salah satu gerbang masuknya pelancong ke suatu negara, pihak bandara terpaksa melakukan ini guna menyaring siapa-siapa saja yang kiranya dapat membahayakan negara tersebut. Ditambah lagi peraturan baru yang dikeluarkan oleh Presiden Amerika Serikat teranyar, Donald Trump yaitu larangan mengenai laptop masuk ke dalam kabin seolah menambah satu babak baru bagi sistem keamanan di bandara.

Baca Juga: Mudahkan Calon Penumpang, Bandara Gatwick Adopsi Augmented Reality

Dihimpun KabarPenumpang.com dari slate.com (21/6/2017), ada banyak yang bisa dilakukan oleh pihak bandara untuk menyingkat semua proses tersebut menjadi lebih sederhana, ini semua bertujuan untuk memberikan kenyamanan lebih kepada para calon penumpang atau pelancong yang berada di bandara. Janji yang diberikan pada para penumpang adalah perasaan lebih aman dan lebih tidak membuat stress. Sementara bagi pihak bandara, adalah keamanan yang lebih baik- dan lebih banyak waktu bagi penumpang untuk berbelanja.

“Saya pikir kita tidak benar-benar memahami pentingnya perubahan proses yang didukung teknologi terkini dan terdepan bagi pengalaman di bandara,” ujar Paul Griffiths, Airport Chief Executive Bandara Dubai. Lebih lanjut, ia mengatakan mengintegrasikan pihak yang berkepentingan dalam keamanan bandara menjadi satu proses dengan pos pemeriksaan yang seminim mungkin bisa jadi awalan yang baik. Bekerja lebih dekat dengan pihak keamanan pemerintahan dan representatif imigrasi memungkinkan pihak bandara untuk meningkatkan kapasitas dengan memproses para penumpang dengan lebih cepat. Pengecekan dokumen, pengecekan keamanan, imigrasi dan bea cukai bisa dipersingkat menjadi satu langkah yang lebih eifisien.

Dengan adanya anggapan seperti ini, mulai muncul beberapa inovasi yang dilakukan baik oleh pihak banda maupun maskapai dalam memotong waktu para penumnpangnya itu. Ambil contoh Bandara Dubai yang tengah menguji teknologi yang memungkinkan beberapa penumpang untuk melewati imigrasi menggunakan data biometric yang disimpan secara digital di smartphone mereka. Hal ini bisa menghilangkan penggunaan paspor atau kartu identifikasi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Uji coba ini berlangsung dengan didukung oleh pemerintah Dubai, yang menjaga database tersebut.

Baca Juga: Better Airport, Sistem Baru Atasi Antrean di Bandara Luton

Lain halnya dengan yang dilakukan oleh salah satu maskapai asal Belanda, KLM. Maskapai ini pernah menguji coba sebuah robot di tahun lalu, bernama Spencer, untuk membantu para penumpang bernavigasi di bandara pusat mereka yang besar, Shciphol. Robot yang memiliki ukuran sebesar orang dewasa dan beroda ini didesain untuk terlihat mirip manusia agar dapat berinteraksi lebih baik dengan para pelanggan. Robot ini memiliki layar untuk memperlihatkan instruksi-instruksi dalam berbagai bahasa. Spencer akan menemui para penumpang di gerbang kedatangan dan mengarahkan mereka ke gerbang pergantian pesawat bagi orang-orang dengan penerbangan yang membutuhkan pergantian pesawat.

Lain KLM, lain Delta Airlines. Delta Air Lines Inc. tengah menguji coba teknologi yang memungkinkan para penumpangnya untuk bisa menitipkan tasnya dan naik ke pesawat dengan hanya menggunakan sidik jari mereka. Di tahap pertama uji coba ini, beberapa penumpang yang terbang dari bandara nasional Ronald Reagan akan dapat mengakses lounge maskapai penerbangan dengan menggunakan sidik jari mereka sebagai bukti identitas. Sejalan dengan waktu, sebagaimana dikatakan oleh pihak maskapai bulan lalu, sidik jari yang sama akan bisa digunakan untuk menitipkan tas atau naik ke pesawat.

JetBlue Airways telah meluncurkan percobaan self-boarding bekerjasama dengan U.S. Customs and Border Protection dengan menggunakan teknologi biometrik dan pengenalan wajah, sebagaimana telah diumumkan oleh pihak maskapai penerbangan akhir bulan lalu. Uji coba pertama akan dilakukan di penerbangan dari bandara internasional Logan di Boston menuju bandara internasional Aruba Queen Beatrix.

Baca Juga: Ini Dia! 9 Tipe Orang yang Biasa Kita Temui di Bandara

Sementara waktu, para inovator harus berhati-hati untuk tidak telalu berlebihan. Memaksakan informasi bandara ke telpon cerdas para penumpang saat mereka masih melewati pengecekan keamanan atau kontrol paspor dapat menambahkan rasa stres mereka, dibanding mempermudah mereka, ujar Sarah Wittlieb, Head of Innovation di bandara Munich, yang telah menangani lebih dari 42 juta penumpang pada tahun 2016 silam.

Sarah menyatakan bahwa ada juga para penumpang yang masuk kategori orang berada, atau yang disebut “generasi perak,” yang lebih suka berbicara dengan seseorang, dibanding harus berurusan dengan aplikasi.