Peneliti di University of Cincinnati Kembangkan Alat Ukur Stress dari Keringat!

Sumber: phys.org

Deretan panjang lampu rem di pagi hari, suara klakson kendaraan yang saling menyahut, hingga tuntutan pekerjaan yang belum rampung di kemarin hari menjadi pemicu yang sangat mudah untuk menyulut seseorang menjadi stress. Memiliki julukan sebagai “the silent killer”, stress ternyata memiliki efek yang terselubung dan misterius sekaligus trigger dari berbagai penyakit mematikan, seperti jantung hingga kesehatan mental seseorang.

Baca Juga: Kendalikan Pikiran Anda, Cara Ampuh Atasi Dampak Stress dari Kemacetan

Memang, selama ini kita hanya mengetahui bahwa kadar stress seseorang itu tidak dapat diukur melainkan oleh si empunya badan. Tapi baru-baru ini, kumpulan peneliti dari University of Cincinnati telah menemukan cara untuk mengukur tingkat stress seseorang melalui sesuatu yang dihasilkan oleh tubuh kita sendiri. Wah, seperti apa ya inovasinya?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman phys.org (24/5/2019), para peneliti tengah mengembangkan sebuah penelitian yang dapat dengan sederhana mengukur hormon strss secara umum dengan menggunakan media keringat, darah, urin, hingga air liur. Pada akhirnya, para peneliti ini berharap agar dapar mengkonversi ide-ide mereka menjadi sebuah alat sederhana yang dapat digunakan oleh seseorang untuk memantau kesehatan mereka – terutama tingkat stress mereka.

“Saya menginginkan sesuatu yang sederhana namun mudah untuk diinterpretasikan,” tutur Andrew Steckl, seorang profesor dari University of Cincinnati.

“Ini mungkin tidak akan memberikan semua informasi yang Anda butuhkan, tapi setidaknya alat ini dapat membantu Anda untuk menentukan apakah Anda butuh seorang ahli atau tidak,” tandasnya.

Salah satu peneliti yang ikut mengembangkan alat pendeteksi stress ini Prajokta Ray mengatakan, “stress telah menjadi topik hangat selama beberapa tahun terakhir. Para peneliti telah berusaha sangat keras untuk mengembangkan tes yang murah, mudah, dan efektif serta mampu untuk mendeteksi hormon-hormon ini dalam konsentrasi rendah,”

Dengna menggunakan teknologi biosensor, diharapkan para peneliti ini dapat mengkonversi keringat atau varian lain menjadi tolak ukur tingkat stress seseorang.

Baca Juga: Terjebak Macet? Yuk Lakukan Hal Berikut Ini Biar Tidak Stress!

Wah, keren sekali, bukan? Dapat Anda bayangkan teknologi ini kelak dijual dengan bebas, dan diaplikasikan oleh orang Indonesia yang memiliki ritual tahunan wajib, yaitu mudik Lebaran. Ya, di momen krusial seperti musim mudik ini, tidak sedikit pengemudi yang mengalami stress dijalan karena macet, kelelahan, hingga variabel lain yang mamu menyulut tingkat stress seseorang.

Apabila kelak alat yang tengah dikembangkan ini masuk ke Indonesia, bukan tidak mungkin apabila tingkat stress para pengemudi ini dapat diukur dan mereka bisa langsung menentukan langkah apa yang harus mereka tempuh, apakah itu beristirahat atau aktivitas lain yang dapat meregangkan otot.