Penerbangan Repatriasi Qantas Pulangkan Ratusan Aussie dari Bali

0
Boeing 787-9 Dreamliner milik Qantas. Sumber: Skyscanner Australia

Hari ini Qantas dijadwalkan melakukan penerbangan repatriasi, yaitu memulangkan ratusan warga negara Australia (Aussie) yang terdampar di Bali dan beberapa wilayah lainnya. Ini tentu menjadi jawaban atas penantian panjang mereka mengingat sulitnya menemukan celah untuk kembali ke Negeri Kangguru.

Baca juga: Corona RI Makin Gawat, Jepang Evakuasi Warganya dari Indonesia!

Sepanjang Agustus tahun ini, tidak ada penerbangan komersial terjadwal antara Denpasar dan kota manapun di Australia. Sebetulnya ada penerbangan sepekan sekali dari Garuda Indonesia.

Tetapi, sejak krisis yang dialami maskapai penerbangan nasional Indonesia itu dan tentu saja pembatasan jumlah penumpang per penerbangan sebagai konsekuensi dari pandemi virus Corona, penerbangan tersebut terkadang sulit diakses.

Akibatnya, ratusan warga Australia, baik itu pekerja migran maupun traveler, terdampar tanpa ada kejelasan kapan mereka bisa pulang. Itu pula yang membuat gelombang protes kecil yang ditujukan ke Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) terjadi.

Dilansir Simple Flying, sebelum melakoni penerbangan repatriasi Rabu ini, Boeing 787-9 Qantas bermalam terlebih dahulu di Darwin setelah diterbangkan dari Sydney. Barulah pada Rabu dini hari, pesawat yang diregistrasi sebagai VH-ZNC itu terbang tiga jam ke Denpasar.

Belum ada keterangan resmi berapa banyak penumpang yang dibawa Qantas dalam penerbangan repatriasi sore nanti. Tetapi, DFAT sudah memberikan pesan bahwa ada sekitar 350 dari 780 WN Australia yang rentan dan harus dipulangkan segera.

Meski begitu, satu hal yang pasti, semua tiket satu-satunya penerbangan repatriasi yang tersedia ludes terjual hanya dalam hitungan menit.

“Kami terus mengeksplorasi opsi bagi warga Australia untuk kembali,” kata DFAT dalam sebuah pernyataan.

DFAT sejauh ini memang sudah terbukti berandil besar dalam setiap pemulangan WN Australia. Selain menyediakan penerbangan repatriasi, mereka juga membantu melobi maskapai, dalam hal ini Garuda Indonesia, untuk mengamankan beberapa slot kursi di setiap penerbangan.

Tak berhenti sampai di situ, harganya juga jauh lebih murah dibanding travel agent kenamaan maupun dari harga tiket yang tertera di web Garuda Indonesia.

Baca juga: Corona Melonjak, Australia Batasi Penumpang Internasional! Tiket Melonjak Sampai Rp400 Jutaan

Disebutkan, DFAT menawarkan kursi di penerbangan Garuda Indonesia kepada warganya hanya dengan US$1815. Bandingkan dengan harga yang ditawarkan travel agent spesialis penerbangan Indonesia-Australia sebesar US$3.260 ataupun harga tiket yang ditersedia di web maskapai itu sendiri, sebesar US$6.400.

Harga tersebut (di website Garuda) sebetulnya wajar mengingat maskapai hanya diizinkan mengangkut 25 penumpang per penerbangan. Sedikitnya kursi berarti harus meningkatkan tarif tiket agar penerbangan bisa untung.