Penerbangan ‘Tanpa Tujuan’ Qantas Diserbu Traveller, 10 Menit Ludes Terjual

0
Boeing 787-9 Dreamliner milik Qantas. Sumber: Skyscanner Australia

Kerinduan masyarakat mencicipi penerbangan semakin tak terbendung. Hal itu setidaknya bisa dilihat dari fenomena “flight to nowhere” atau penerbangan tanpa tujuan yang masih terus terjadi. Setelah EVA Air, China Airlines, All Nippon Airways (ANA), Singapore Airlines, dan Royal Brunei Airlines, kini giliran Qantas. Bahkan, tiket penerbangan tanpa tujuan maskapai nasional Australia itu habis terjual dalam tempo 10 menit.

Baca juga: Traveller Serbu Penerbangan Tiga Jam ‘Tanpa Tujuan’ Royal Brunei Airlines

“Ini mungkin penerbangan dan penjualan tercepat dalam sejarah Qantas,” kata CEO maskapai, Alan Joyce, dalam sebuah pernyataan.

CNN International melaporkan, berbeda dengan konsep penerbangan tak kemana-mana maskapai di atas, penerbangan tanpa tujuan Qantas sendiri merupakan penerbangan mengelilingi Australia, dimana keberangkatan pertama akan dimulai pada 10 Oktober. Qantas menawarkan 134 kursi dengan harga yang variasi, mulai dari US$566 atau Rp 8 juta hingga US$ 2.734 atau Rp 40,3 juta (kurs 14.735), mengikuti kelas yang dipilih, first class ataupun economy class.

Penerbangan Qantas keliling Australia sendiri meliputi berbagai ikon di Negeri Kanguru, seperti melihat Great Barrier Reef, pedalaman Australia, mengitari Sydney Harbour, dan Outback dari ketinggian 30 ribu kaki serta melakukan penerbangan rendah di atas Uluru dan Pantai Bondi selama kurang lebih tujuh jam. Penerbangan tersebut nantinya akan berangkat dari Bandara Internasional Sydney dan mendarat di bandara yang sama.

Dalam penerbangan tanpa tujuan ini, Qantas akan mengerahkan armada Boeing 787 Dreamliner. Hal ini tentu spesial mengingat dalam kondisi normal, pesawat tersebut hanya digunakan pada penerbangan jarak jauh.

Selain itu, penggunaan pesawat tersebut dalam flights nowhere Qantas terasa spesial berkat jendela besar pesawat untuk mendukung visibilitas penumpang dari dalam kabin selama penerbangan tersebut berlangsung. Semua itu juga bakal dilengkapi dengan hiburan spesial dari musisi papan atas serta dipandu oleh salah satu host ternama Australia; di samping hidangan spesial onboard khas maskapai.

Saat ini penerbangan internasional di Australia belum dibuka karena pembatasan perjalanan. Menurut Departemen Kesehatan Pemerintah, perbatasan Australia masih tertutup untuk negara lain. Meski tak ada tiket perjalanan jarak jauh, kini penerbangan tak kemana-mana banyak diminati untuk menghilangkan dahaga traveller mencicipi penerbangan.

Sebelum Qantas, maskapai EVA Air, China Airlines, dan All Nippon Airways (ANA) sudah lebih dahulu meluncurkan “flights to nowhere” atau terbang tanpa tujuan. Hanya saja, konsep yang ditawarkan berbeda. EVA Air menawarkan “flight to nowhere” dengan tetap memiliki negara tujuan, yakni ke Jepang. Hanya saja, maskapai tersebut tidak mendarat di Negeri Sakura dan kembali ke Taiwan untuk mendarat di bandara yang semula.

Berbeda dengan EVA Air, maskapai Taiwan lainnya, China Airlines lebih ke ranah wisata edukasi. Konsep “flight to nowhere” salah satu maskapai terbesar di Taiwan itu mengajak penumpang masuk ke kabin pesawat tanpa terbang ke suatu destinasi.

Di sini penumpang dapat mengenang pelayanan pramugari dan rasanya duduk di kursi pesawat. Selain itu, maskapai ini juga menawarkan pelajaran menjadi pramugari untuk anak-anak.

Baca juga: Singapore Airlines Tawarkan Traveller Terbang Tiga Jam ‘Tanpa Tujuan’

Selain dapat belajar menjadi pramugari, melalui kegiatan ini para penumpang juga berakting seolah mereka akan liburan ke negara lain. Setiap penumpang tetap harus melakukan check-in, melakukan pemeriksaan paspor, dan bahkan ada petugas keamanan yang siap mengarahkan penumpang menuju pesawat.

Adapun All Nippon Airways (ANA), konsep terbang ‘tanpa tujuan’ maskapai tersebut sedikit banyaknya hampir mirip dengan konsep yang akan ditawarkan Singapore Airlines, yakni terbang keliling langit sekitar bandara dan kemudian mendarat di bandara yang sama. Sedangkan penerbangan tanpa tujuan Royal Brunei Airlines bisa dibilang mirip dengan Qantas.

Leave a Reply