Pengemudi Uber Dilecehkan oleh Penumpang, Tanggapan Uber Bikin Menohok!

Sumber: businesstimes.com.sg

Kasus pelecehan seksual memang bisa menimpa siapa saja dan dimana saja. Jangankan wanita yang mengenakan baju minim dan dapat mengundang syahwat para kaum adam, wanita yang mengenakan pakaian serba sopan dan menutupi aurat saja bisa menjadi korban dari kasus pelecehan seksual. Pun kasus semacam ini tidak mengenal jenis pekerjaan, mulai dari pekerja kantoran hingga pengemudi layanan ride-hailing, Uber. Ya, di akhir tahun 2018 lalu, seorang pengemudi Uber melaporkan tindak pelecehan seksual yang menimpa dirinya.

Baca Juga: Uber Donasikan US$5 Juta Untuk Cegah Pelecehan dan Kekerasan Seksual

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman ktnv.com (1/3/2019), adalah Doris Peterson, seorang wanita berusia 57 tahun yang melaporkan tindak pelecehan seksual yang menimpa dirinya kepada perusahaan Uber. Pada 21 Desember 2018 silam, Doris mendapatkan pesanan dari seorang laki-laki yang disinyalir berusia 30 tahunan di McDonald’s yang terletak di Paradise Road dan Twain Avenue. Si pria ini lalu minta diantarkan ke rumah yang ia sewa tidak jauh dari lokasi penjemputannya.

Setibanya di lokasi pengantaran, Doris menyebutkan bahwa ia sempat memperhatikan si penumpang yang kesulitan untuk masuk ke dalam rumah sewa tersebut, sehingga ia memutuskan untuk turun dari mobil dan menolongnya. Ketika masalah tersebut teratasi, si pria memberikan Doris uang tip senilai US$20 dan mengatakan bahwa ia ingin memberikan tip lebih. Seketika si pria meminjam ponsel Doris dan mengunduh aplikasi untuk mentransfer uang secara elektronik.

Ketika sedang menguduh aplikasi tersebut, Doris sempat mendapatkan tawaran berupa bir dan kentang goreng dari si pria, namun ia menolaknya. Sejurus sesaat, Doris menyadari bahwa apa yang diunduh oleh pria ini bukanlah aplikasi untuk transfer uang secara elektronik, melainkan aplikasi percakapan – dan seketika itu juga ia langsung gugup. Menyadari sesuatuyang buruk akan segera terjadi, Doris lalu meminta pria itu untuk mengembalikan ponselnya – dan benar saja, pecelehan seksual pun tak bisa dihindarkan.

Doris mengatakan bahwa dirinya mulai diciumi oleh penumpangnya tersebut sembari tangannya ‘menjelajahi’ bagian dada dan kemaluan Doris. Tidak berhenti sampai di situ, ia juga mengatakan kepada pihak berwajib bahwa si pria sampai mengeluarkan alat vitalnya dan menuntut Doris untuk melakukan tindakan seksual lainnya.

Doris yang ketakutan dan panik langsung menendang pangkal paha si pria mesum tersebut dengan dengkul dan berlari meninggalkannya. Ketika dalam ‘pelariannya’, Doris langsung melayangkan aduan kepada pihak Uber via e-mail. 15 menit berselang, atau sekira pukul 21.15 waktu setepat, Doris langsung menghubungi polisi untuk melaporkan apa yang telah ia alami. Satu hal yang membuat Doris memutuskan untuk melaporkan kejadian ini ke pihak yang berwajib adalah ketika ia mendapatkan pesan dari si penumpangnya tersebut melalui aplikasi yang diunduh tadi.

Berselang 16 hari setelah kejadian tersebut, Doris menyebutkan pihak Uber sama sekali tidak ada menghubunginya untuk mengkonfirmasi apa yang sebenarnya terjadi. Menanggapi hal itu, inilah pernyataan yang dirilis oleh Uber guna menanggapi laporan dari Doris tadi.

Baca Juga: Banyak Kasus Pelecehan, Inikah Momen Taksi Online Perketat Penerimaan Pengemudi?

“Apa yang dilaporkan pengemudi (Doris) tidak dapat diterima, dan kami menyesal tidak memiliki pengalaman layanan pelanggan yang ia harapkan dari Uber. Pengendara (Doris) telah dihapus dari aplikasi,” papar pihak Uber.

Tentu saja pernyataan dari perusahaan ini mengundang pertanyaan besar terhadap setiap orang yang memperhatikan kasus ini. Apakah Uber benar-benar tidak perduli dengan apa yang menimpa para pekerjanya? Atau memang data yang dipaparkan Doris tidaklah lengkap?