Perahu Getek, Riwayatmu Kini

perahu getek di Ibu Kota. Sumber: oomph.co.id

Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar kata Getek? Mungkin bagi Anda yang berasal dari daerah Sunda, Anda akan mendefinisikannya sebagai pengganti kata geli. Namun definisi itu akan berbeda 180 derajat ketika Anda menanyakannya kepada masyarakat Ibu Kota. Di Jakarta, getek dikenal sebagai perahu tradisional yang menghubungkan daerah satu dengan daerah lainnya yang terpisah oleh kali atau sungai. Tidak hanya di Jakarta, Solo juga merupakan daerah yang masih menggunakan getek sebagai salah satu alat transportasinya.

Khusus di Ibu Kota, perahu getek merupakan alat transportasi air yang keberadaannya sudah cukup lama. Perahu getek ini sering digunakan oleh warga pesisir sungai Ciliwung untuk menyebrang tanpa harus memutar jauh untuk mencari jembatan. Pada era 80an, perahu getek banyak dijumpai di sungai atau kali di Jakarta, namun keberadannya mulai terkikis oleh kemajuan jaman. Perahu getek ini terbuat dari kayu atau bambu yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat mengapung di air dan membawa beban.

Tenaga yang digunakan oleh perahu getek ini adalah tenaga manusia. Ada beberapa cara untuk menggerakkan perahu getek. Yang pertama, Pengemudi akan mengayuh dari satu titik menuju titik lainnya dengan menggunakan kayu panjang yang fungsinya sebagai alat untuk menggerakkan perahu getek. Cara kedua yaitu dengan mengikatkan tali pada kedua sisi sungai, jadi pengemudi tinggal menarik tali tersebut hingga perahu sampai di titik seberang.

Perahu getek juga dilengkapi dengan atap terpal yang berfungsi untuk mencegah penumpang kehujanan dan panas sinar matahari. Dengan tarif yang cukup murah, yaitu rata-rata Rp3.000 sekali perjalanan, menjadi senjata ampuh para pengemudi perahu getek untuk menarik minat penumpangnya. Tentu saja tarif ini bukan merupakan tarif flat, semuanya tergantung jarak (lebar sungai) yang ditempuh. Ternyata, tarif murah yang dikenakan mampu untuk menarik minat para penumpangnya. Para penumpang lebih milih menggunakan perahu getek daripada mesti memutar jauh untuk mencari jembatan.

Walaupun keberadaannya yang sudah mulai tergerus oleh perkembangan jaman, jumlah perahu getek kini sudah semakin sedikit. Banyaknya sarana transportasi baru yang lebih memudahkan penumpang, tidak menyurutkan semangat pengemudi perahu getek untuk tetap setia menunggu penumpang di dermaga kecil yang tersusun dari tangga kecil yang terbuat dari kayu.

Tidak berbeda jauh dengan di bantaran sungai Ciliwung, sebagian masyarakat Solo juga masih setia untuk menggunakan perahu getek sebagai alat transportasinya. Sungai Bengawan Solo seolah menjadi saksi bisu keberadaan perahu getek yang melegenda itu. Masyarakat di sekitaran sungai Bengawan Solo seperti Dusun Jagang, Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo dan Kampung Beton Kelurahan Sewu Kecamatan Jebres, Solo yang terlihat masih menggunakan perahu getek.

Layaknya di kota-kota besar di Indonesia, jalur penyebrangan perahu getekpun ramai dibanjiri penumpang saat jam-jam sibuk, seperti jam berangkat kerja dan pulang kerja. Layaknya sebuah moda transportasi yang menawarkan “jalan pintas”, membuat masyarakat seakan tidak memperdulikan bentuk getek yang berupa perahu tua ini. Ditambah dengan ongkosnya yang cukup murah, yaitu kurang dari Rp 5.000, menjadikan getek sebagai tumpuan transportasi masyarakat di sekitaran sungai Bengawan Solo.

Festival perahu getek di sungai Bengawan Solo.Sumber: okezone.com
Festival perahu getek di sungai Bengawan Solo.Sumber: okezone.com

Harumnya nama perahu getek di Solo membuat Kepala Dinas Pariwisata Solo pada tahun 2015 silam, Eni Tyasni Suzana mengadakan sebuah rangkaian acara yang dikhususkan untuk perahu tersebut. Festival perahu getek yang pernah diadakan pada pertengahan 2015 ini merupakan salah satu ajang untuk mengembangkan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan tanpa diskriminasi yang bertujuan untuk mendongkrak kesenian-kesenian tradisional. Perahu-perahu ini nantinya dihias sedemikian rupa sebelum berlomba untuk mencapai garis finish.

Puan Maharani yang tengah memborong kerupuk karak di atas getek. sumber: liputan6.com
Puan Maharani yang tengah memborong kerupuk karak di atas getek. sumber: liputan6.com

Bahkan, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani pernah menaiki perahu ini pada tahun 2016 silam dalam kunjungannya ke kota Solo dan memborong kerupuk karak dari salah satu pedagang yang turut menyebrangi sungai terbesar di pulau Jawa ini.