Pernah Dengar PBE? Inilah Andalan Pilot dan Pramugari Saat Terjadi Kebakaran di Pesawat

0
Protective Breathing Equipment (PBE). Foto: Essex Industries

Insiden di pesawat memang tak pernah diinginkan siapapun, baik penumpang, kru, maskapai, atau bahkan regulator. Namun, ketika itu terjadi perlengkapan atau peralatan pendukung harus sudah tersedia, termasuk saat terjadi sebuah kebakaran. Bila penumpang dilengkapai masker oksigen, maka, awak kabin dan kru kokpit dilengkapai oleh Protective Breathing Equipment (PBE).

Baca juga: Kargo di Kabin Penumpang Bikin Pramugari Beralih Fungsi Jadi ‘Petugas’ Pemadam Kebakaran

PBE sendiri adalah alat pelindung diri berupa stadiumpod pribadi yang dirancang untuk melindungi awak pesawat dari asap, karbon dioksida, gas berbahaya, dan kurangnya oksigen akibat adanya kebakaran di pesawat, sambil melakukan upaya memadamkan api.

Secara fungsi, sebetulnya PBE dan masker oksigen penumpang sama saja. Keduanya sama-sama menyuplai oksigen untuk pengguna. Dari segi durasi, keduany juga memiliki sama-sama hanya mampu menyuplai oksigen selama 15 menit. Tetapi, dari segi desain dan perlindungan, keduanya memiliki perbedaan drastis.

Dikutip dari essexindustries.com, masker oksigen penumpang umumnya hanya melindungi mulut dan hidung (pernapasan). Adapun PBE lebih dari itu. Selain dapat melindungi pernapasan, PBE juga dapat melindungi mata dan wajah secara keseluruhan. Hal itu dimungkinkan berkat desain PBE yang menyerupai helm astronot, dimana PBE menutup semua bagian atas, mulai dari kepala sampai ujung leher. Visibiliti pengguna juga cukup memadai, mencapai 270 derajat.

Sebelum digunakan, awak pesawat harus memastikan terlebih dahulu alat tersebut berfungsi atau tidak. Caranya, mudah, cukup melihat tanda berupa lampu indikator yang terletak di tak jauh dari posisi mata di sebelah kiri. Bila lampu indikator berwarna hijau, berarti alat tersebut berfungsi. Selain itu, lampu indikator berwarna hijau juga menandakan bahwa stok oksigen masih aman.

Sebaliknya, ketika lampu indikator berwarna merah, berarti stok oksigen di PBE sudah menipis dan harus segera keluar dari tempat berbahaya. Pasalnya, PBE akan mengalami disfungsi dalam beberapa kondisi tertentu, seperti disimpan di tempat yang kering dan umur penggunaan yang sudah bertahun-tahun.

Baca juga: Mengenal ELT, Komponen Penting Pesawat yang Selalu Dicari Saat Kecelakaan

Mengingat fungsi dan kegunaannya sebagai bagian dari prosedur kesalamatan dan keamanan penerbangan, PBE digunakan hampir 90 persen oleh maskapai di AS. Letaknya pun juga harus se-strategis mungkin, bersama dengan perlengkapan pendukung lainnya, seperti portable oxygen, oxygen mask, alat pemadam portable, serta survival kit. Tak hanya digunakan maskapai penerbangan, berbagai perusahaan bertaraf internasional pun juga selalu menyediakan PBE sebagai salah satu prosedur evakuasi.

Dilihat dari bentuk dan fungsinya, sebetulnya, PBE bisa saja difungsikan sebagai penangkal virus corona. Selain menyediakan oksigen mandiri, alat yang diproduksi oleh perusahaan teknologi Essex Industries tersebut juga mampu melindungi pengguna dari droplet atau bahkan airborne virus corona yang notabene dapat menular lewat percikan yang terhirup oleh hidung atau percikan yang Covid-19 ke mata.

Leave a Reply