PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) terus melakukan inovasi atau gebrakan terbaru untuk melayani masyarakat. Alih-alih memiliki rangkaian kereta api yang berusia lebih dari 50 tahun, tentunya akan kembali dimodifikasi dengan rangkaian kereta yang lebih baru dan nyaman. Tentunya jika rangkaian tersebut masih bisa kembali digunakan dan memiliki hasil lulus uji. Karena beberapa kereta yang berusia cukup tua ternyata masih bisa dimodifikasi ulang dengan rangkaian yang lebih baru.
Seperti halnya Balai Yasa Surabaya Gubeng. Diketahui balai yasa ini merupakan tempat yang dipakai untuk perawatan besar sarana perkeretaapian. Sama seperti balai yasa yang tersebar di Jawa dan Sumatra. Di sinilah, transportasi kereta api maupun gerbong bahkan lokomotif memperoleh semi perawatan akhir (SPA), pemeliharaan akhir (PA) hingga modifikasi.
Diketahui Balai Yasa Surabaya Gubeng ini terletak di Jalan Tampak Siring, Surabaya, tak jauh dari Stasiun Gubeng. Melansir informasi dari situs resmi heritage.kai.id, Balai Yasa SGU dibangun pada 1912 oleh Pemerintahan Belanda, Staatspoorwegen, perusahaan kereta api milik Hindia Belanda.
Di sini banyak kereta diperbaiki. Setiap satu kereta dibutuhkan kurang lebih lima hari untuk perbaikan. Sedangkan untuk perbaikan besar, misalnya pada kereta api kecelakaan, dibutuhkan waktu paling lama sekitar dua minggu. Tentunya perawatan di balai yasa sanhat mengandalkan keamanan saat melakukan perbaikan.
Nah, setelah Balai Yasa Surabaya Gubeng ini sukses menciptakan Kereta Panoramic dan Kereta Petani – Pedagang, informasi yang menarik lainnya balai yasa ini akan meluncurkan rangkaian kelas ekonomi yang bernuansa Heritage. Saat ini KAI tengah menyiapkan rangkaian kereta berkonsep experience, luxury, dan heritage yang memadukan fasilitas premium dengan karakter historis.
Sebanyak 12 unit sedang dikerjakan di Balai Yasa Surabaya Gubeng. Rangkaian tersebut mencakup kereta sleeper dengan ruang privat, kereta makan berkonsep fine dining, kereta lounge dengan fasilitas hiburan, serta kereta pendukung operasional.
Menariknya, pengembangan ini mengusung revitalisasi sarana era 1980 hingga 1990-an yang dirancang ulang sesuai standar kenyamanan masa kini. Bisa dikatakan menggunakan rangkaian yang terdahulu dan kembali untuk dimodifikasi. Pendekatan ini tidak hanya meremajakan aset, tetapi juga menjaga identitas historisnya.
Hingga kini, tahap pertama pengerjaan telah mencapai sekitar 38 persen dan ditargetkan memasuki uji coba pada Juni 2026 sebelum diluncurkan secara komersial. Ke depan, operasional rangkaian tersebut akan difokuskan pada perjalanan tematik dengan rute pilihan yang menawarkan panorama terbaik serta terintegrasi dengan destinasi wisata unggulan.
Melalui inovasi itu, KAI optimistis dapat memperluas peran kereta api sebagai bagian penting dari industri pariwisata nasional. Serta pengembangan konsep tersebut dilakukan tentunya dengan mempertimbangkan pertumbuhan sektor pariwisata di Pulau Jawa.
