Saturday, January 17, 2026
HomeBandaraProyek Kereta Maglev Incheon Senilai 450 Miliar Won Kini Jadi "Gajah Putih"...

Proyek Kereta Maglev Incheon Senilai 450 Miliar Won Kini Jadi “Gajah Putih” yang Sepi Penumpang

Proyek ambisius kereta rel magnet (maglev) di Bandara Internasional Incheon, yang menelan investasi fantastis sebesar 450 miliar won (sekitar Rp 5,3 triliun), kini tengah menghadapi krisis finansial yang serius. Meskipun sempat digadang-gadang sebagai sistem transportasi masa depan, kereta ini kini justru dijuluki sebagai “Gajah Putih” karena jumlah penumpangnya yang sangat minim.

Berdasarkan laporan terbaru pada Januari 2026, jumlah penumpang harian rata-rata kereta maglev ini hanya berkisar di angka 1.000 orang. Angka tersebut sangat jauh panggang dari api jika dibandingkan dengan prediksi awal saat proyek ini dirancang, yakni antara 30.000 hingga 40.000 penumpang per hari.

Dibangun oleh pemerintah pusat, pemerintah kota Incheon, dan Incheon International Airport Corporation, kereta maglev ini resmi dibuka pada tahun 2016. Saat itu, Korea Selatan berambisi menjadi negara kedua di dunia yang mengoperasikan kereta maglev perkotaan setelah Jepang. Teknologi ini dipuji karena tingkat kebisingan yang rendah dan minim getaran karena kereta melayang di atas rel menggunakan gaya magnet.

Namun, prediksi permintaan penumpang terbukti meleset total. Rencana awal pembangunan hotel, resor, dan taman air di sepanjang rute 6,1 kilometer tersebut banyak yang terbengkalai atau batal. Sebagai contoh, di sekitar stasiun “Water Park,” tidak ditemukan taman air sama sekali—hanya hamparan lahan kosong tanpa rencana pembangunan yang jelas.

Dari Transportasi Umum Menjadi Kereta Wisata
Sempat dihentikan operasionalnya selama tiga tahun akibat pandemi Covid-19, layanan ini baru dilanjutkan kembali pada Oktober tahun lalu. Untuk menekan kerugian operasional yang membengkak, status kereta ini diubah dari “transportasi perkotaan” menjadi “kereta wisata.”

Langkah efisiensi juga dilakukan dengan memangkas frekuensi perjalanan secara drastis, dari sebelumnya 103 perjalanan per hari menjadi hanya 24 perjalanan. Hal ini berhasil menurunkan biaya operasional tahunan dari 8 miliar won menjadi 5 miliar won, namun tetap tidak mampu mendongkrak jumlah penumpang.

Masa depan proyek ini terlihat semakin kelam. Studi dari Kementerian Pertahanan dan Infrastruktur Korea Selatan memperkirakan bahwa diperlukan dana tambahan sebesar 400 miliar won untuk biaya perawatan selama 30 tahun ke depan.

Opsi pembongkaran sempat dibahas, namun biaya untuk meruntuhkan infrastruktur tersebut diperkirakan mencapai 60 miliar won, sebuah beban finansial tambahan yang sulit ditanggung. Para ahli mengkritik pemerintah karena terlalu optimis terhadap teknologi baru tanpa riset pasar yang mendalam, yang akhirnya berujung pada pemborosan dana publik yang masif.

Kini, kereta maglev Incheon menjadi simbol peringatan bagi proyek-proyek infrastruktur berbasis teknologi tinggi lainnya agar lebih realistis dalam memprediksi kebutuhan publik dan pengembangan wilayah di sekitarnya.

Yuk Kenali AREX – Kereta Ekspress yang Hubungkan Bandara Incheon dan Kota Seoul

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru