Retrofit Cessna Catat Sejarah Sebagai Pesawat Listrik Terbesar di Dunia

0
Cessna eCaravan bertenaga listrik, tanpa emisi langsung, dan berbiaya rendah berhasil mengudara selama 30 menit di langit Washington, Kamis lalu. Foto: sea.mashable.com

Retrofit atau peningkatan kemampuan pesawat Cessna berhasil mencatat sejarah sebagai pesawat listrik terbesar di dunia. Kepastian itu didapat setelah uji coba pesawat retrofit Cessna 208B Grand Caravan sembilan kursi berbahan bakar cair menjadi Cessna eCaravan bertenaga listrik, tanpa emisi langsung, dan berbiaya rendah berhasil mengudara selama 30 menit di langit Washington, Kamis lalu.

Baca juga: Pesawat Listrik NASA X-57 Maxwell Segera Terbang Perdana

Seperti dilansir sea.mashable.com, ke depan, pesawat listrik terbesar hasil kolaborasi antara perusahaan angkasa AeroTEC dan perusahaan propulsi listrik magniX ini diproyeksikan bakal mampu melahap rute sejauh 300 mil atau 482 kilometer, lebih kurang setara Jakarta-Semarang.

Hal itu dimungkinkan berkat kemampuan sistem propulsi magni500 berkekuatan 750 tenaga kuda (560 kW) sehingga dapat menggerakan pesawat amfibi enam kursi yang dimodifikasi melalui penerbangan pertamanya pada Desember lalu. Ini menandai keberhasilan dari penerbangan pesawat komersial listrik, sebelum akhirnya magniX mendorong untuk meretrofit pesawat tersebut.

“Penerbangan perdana eCaravan ini merupakan langkah lain untuk mengoperasikan pesawat bermesin menengah dengan biaya sangat murah, dan dengan nol emisi. Pesawat komersial ini akan memungkinkan penawaran layanan penerbangan orang dan paket dengan cara yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan,” kata CEO magniX, Roei Ganzarski.

Walaupun hanya dalam rute-rute pendek, namun, buah dari penerbangan tersebut cukup signifikan dalam upaya menekan angka emisi gas buang atau pemanasan global. Sebab, pada umumnya, pesawat konvensional membakar lebih banyak bahan bakar ketika hendak lepas landas dan mendarat. Belum lagi emisi gas buang yang dihasilkan ketika di udara serta dalam jarak yang beragam, baik pendek maupun jauh.

MagniX dilaporkan memang memiliki rencana besar untuk sistem propulsi magni500. Sebagai yang terbaru dari motor listriknya, perusahaan ini telah berurusan dengan sejumlah pamain utama di kancah penerbangan listrik. Ini termasuk menjadi pemasok mesin startup asal Israel Eviation, untuk maskapai regional independen terbesar Amerika Serikat di Cape Air, dan perjanjian untuk menyediakan mesin listrik lebih lanjut untuk Harbor Air.

Meski demikian, inovasi serta ambisi tinggi perusahaan teknologi seperti MagniX diperkirakan belum akan mengubah masa depan penerbangan jet komersial untuk mengoperasikan pesawat listrik sepenuhnya. Alasannya klasik, terkait dana dan efisiensi.

Seorang peneliti energi dan transportasi di University College London, Andreas Schafer, mengatakan, untuk mewujudkan penggunaan pesawat listrik di masa mendatang butuh investasi yang tak sedikit. Misalnya, untuk biaya pengembangan baterai saja, setidaknya butuh sekitar US$23 miliar atau Rp353 triliun.

Baca juga: Mungkinkah Seluruh Penerbangan Di Masa Mendatang Gunakan Pesawat Listrik?

Prinsipnya, bagaimana caranya membuat baterai dengan ukuran kecil atau paling tidak seperti ukuran baterai yang ada saat ini (baterai pesawat) namun dengan kapasitas yang jauh lebih besar. Tak hanya itu, pengembangan baterai juga mencakup durasi pengisian daya yang harus jauh lebih cepat dari yang sudah ada

Selain itu, kendala logistik, harganya yang mencapai 3-4 kali lipat dari bahan bakar konvensional, serta ekosistem bisnis pendukungnya yang belum tersedia, membuat maskapai belum bisa beralih sepenuhnya dari bahan bakar konvensional ke era pesawat listrik.

Leave a Reply