Sederet Masalah Ini Jadi Biang Kerok Era Pesawat Supersonik Concorde Berakhir

0
Sumber: The Christian Science Monitor

Di masanya, pesawat supersonik Concorde begitu menyita perhatian. Setiap hari, surat kabar, televisi, dan sejenisnya tak ada kata lelah meliput dan menginformasikan segala hal tentang Concorde dan turunannya. Namun, siapa nyana, 27 tahun setelah terbang perdana, sederet masalah pada pesawat ini akhirnya mengakhiri era penerbangan supersonik.

Baca juga: (Eksklusif) Inside Tupolev Tu-144: Pesawat Supersonik Pertama di Dunia Sebelum Concorde

2 Maret 1969 merupakan kali pertama Concorde dengan prototipe pertamanya, Concorde 001, membelah angkasa. Kala itu, langit Toulouse di Perancis menjadi saksi bisu dari terbangnya prototipe ini selama kurang lebih setengah jam lamanya.

Sejak saat itu, dibutuhkan waktu sekira tujuh tahun lamanya bagi perusahaan yang dikembangkan oleh Aerospatiale (Perancis) dan British Aircraft Corporation untuk bisa memulai layanan komersialnya.

Penerbangan penumpang terjadwal perdana dari Concorde ini terjadi pada 21 Januari 1976, dimana maskapai Air France menjabani rute penerbangan Paris – Rio de Janeiro, dan British Airways yang melakoni rute penerbangan London – Bahrain.

Setelah penerbangan perdana sampai penerbangan penumpang berjadwal perdana, pamor Concorde terus meningkat sampai di puncak tertinggi. Namun, sederet masalah satu per satu menghampiri dan klimaksnya saat Concorde Air France (AF) dengan nomor penerbangan 4590 jatuh tak lama setelah lepas landas dari Bandara Charles de Gaulle Paris, Perancis pada 25 Juli 2000.

Jejak awal masalah pada Concorde diketahui sudah muncul sejak masih dalam tahap pengembangan. Dari US$130 juta, biaya pengembangan bengkak drastis menjadi US$2,8 miliar dengan total enam unit prototipe pesawat.

Saat resmi beroperasi, tiket per penerbangan Concorde juga mahal. Rute London – Washington Dulles oleh British Airways, misalnya, pada tahun 1977 harga tiketnya kira-kira dibanderol US$3.200 untuk ukuran hari ini. Pada akhir 1990-an, tarif penerbangan transatlantik Concorde melonjak drastis mencapai US$6.000 per penerbangan.

Ketika Concorde dirancang, bahan bakar penerbangan bisa dibilang masih murah. Namun, krisis minyak dunia pada tahun 1973 hingga 1974 membuat margin keuntungan operator jauh berkurang dengan rata-rata 92 hingga 128 penumpang per penerbangan.

Puncak masalah pada Concorde yang membawanya pada akhir era penerbangan supersonik transatlantik tentu saat kecelakaan Concorde Air France (AF) dengan nomor penerbangan 4590 terjadi. Ketika itu, 109 penumpang dan kru, termasuk empat orang di hotel tewas.

Meskipun ini adalah kecelakaan fatal pertama selama hampir tiga dekade beroperasi, namun, itu berdampak sangat besar. Kepercayaan penumpang menurun drastis dan butuh biaya peningkatan keselamatan sebesar US$ 93 juta.

Selain itu, penerbangan supersonik Concorde dinilai tak efisien. Ini membuat British Airways dan Air France, yang mengoperasikan masing-masing tujuh pesawat Concorde, dari total 20 unit yang diproduksi (14 beroperasi secara komersial dan enam lainnya sebagai prototipe), mau tak mau menyesuaikan tarif tiket penerbangan.

Ini yang pada akhirnya membuat tarifnya menjadi mahal, berkisar US$12.000 atau sekitar Rp174 juta (kurs 14.552) per sekali terbang di penghujung karirnya.

Dari empat masalah pada Concorde, mulai dari mahalnya biaya pengembangan, melonjaknya harga bahan bakar, mahalnya harga tiket, dan isu keselamatan, bisa dibilang, yang paling menentukan akhir dari era Concorde adalah tarifnya yang cukup mahal.

Menurut salah satu pejabat United Airlines, tarif tiket Concorde dinilai tak masuk akal di era penerbangan sudah sangat mudah dijangkau masyarakat.

Itu sebab, ketika Boom Supersonic mengembangkan pesawat supersonik berkecepatan Mach-2.2 (sedikit di atas kemampuan pesawat supersonik Concorde dikisaran Mach 2.04 atau di bawah konsep pesawat supersonik Virgin Galactic dikisaran Mach 3), United Airlines sangat tertarik. 

Lewat penerbangan supersonik, United Airlines bisa memangkas penerbangan trans-atlantik dari New York ke London dan sebaliknya menjadi hanya 3,5 jam, dua kali lebih cepat dari pesawat komersial yang ada saat ini dikisaran 6,5 jam. Apalagi harganya terjangkau.

Baca juga: Eksklusif: Foto Kabin Penumpang Concorde Saat Ngebut Secepat Kilat Menuju New York

United Airlines berencana hanya memasang tarif penerbangan supersonik sebesar US$2.500 atau Rp36 juta (kurs 14.552), 80 persen lebih murah atau berbanding jauh dengan penerbangan supersonik Concorde seharga US$12.000 atau sekitar Rp174 juta (kurs 14.552) per sekali terbang.

Bila tak ada aral melintang, pesawat supersonik komersial Overture besutan Boom, yang dirancang untuk menampung antara 55 hingga 75 orang, akan memulai penerbangan penumpang pada tahun 2030.