Sejarah ATR, Produsen Pesawat Regional Terbesar Dunia Besutan Perancis-Italia

0
ATR-72-600 Air Tahiti memegang rute pesawat turboprop non-stop terpanjang di dunia pada bulan ini. Foto: Getty Images

Manufaktur pesawat asal Perancis tidak hanya soal Airbus, tetapi juga ATR (Aerei da Trasporti Regionale atau Avions de transport régional; Regional Transport Airplanes dalam bahasa Inggris). Siapa sangka, manufaktur pesawat regional terbesar di dunia ini adalah anak perusahaan dari Airbus.

Baca juga: ATR-72 600, Pesawat Tercanggih Untuk Penerbangan Perintis Nasional

Dilansir laman resmi perusahaan, ATR didirikan pada tahun 1981 oleh Aérospatiale dari Perancis (sekarang Airbus) dan Aeritalia (sekarang Leonardo) dari Italia. Itu sebab, ATR disebut sebagai anak perusahaan Airbus.

Sebelum itu, berbagai aksi korporasi dan kolaborasi antar manufaktur Eropa masif terjadi sepanjang dekade 60-an dan 70-an. Dari sana tercetuslah ide antar pemimpin kedua perusahaan, Renato Bonifacio (Aeritalia) dan Jacques Mitterrand (Aérospatiale), untuk turut berkolaborasi.

Dalam prosesnya, kedua pemimpin perusahaan tak menemukan titik terang dalam mendirikan perusahaan patungan. Alhasil, keduanya mengembangkan pesawat regional masing-masing di tahun 1978. Aérospatiale membuat konsep desain AS 35, sedangkan Aeritalia merilis AIT 230.

Setelah dirasa kurang dilirik, akhirnya kedua perusahaan memutuskan berkolaborasi pada tanggal 4 November 1981. Desain pesawat keduanya yang sudah dibuat pun akhirnya disatukan, ditambah beberapa pengembangan.

Pesawat pertama ATR dari hasil penggabungan dan pengembangan dua desain tadi akhirnya rampung pada 16 Agustus 1984 sebagai ATR 42–200 dan sukses terbang perdana di tanggal tersebut. Setahun berikutnya, Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil Prancis (DGCA) memberikan sertifikasi ke pesawat ATR 42-300 dan sukses dikirim ke pelanggan pertama, Air Littoral, di tahun yang sama.

Pada September 1989, ATR berhasil mencetak penjualan 400 pesawat, sesuai dengan target dan meningkat drastis dari tahun-tahun sebelumnya. Padahal, setahun sebelumnya, ATR baru mencetak penjualan ke-200 saat mengirim pesawat ke Thai Airways.

Di tahun 1990-an, popularitas ATR di segmen pesawat regional terus menguat dengan kehadiran ATR 72. Pada tahun 1997, ATR berhasil mencetak pengiriman pesawat ke-500 saat merampungkan serah terima pesawat ke maskapai American Eagle.

Di tahun ini pula, ATR terus mengembangkan pesawat-pesawat buatannya, sehingga lahirlah ATR 42-320, ATR 42-300QC untuk memudahkan operator mengubah fungsi pesawat dari freight atau kargo ke mode penumpang, sampai ATR 42-500.

Di dekade berikutnya, ATR mulai fokus pada pengembangan ATR 72, dengan meluncurkan ATR 72-500, -600, dan -700. Meski begitu, pengembangan ATR 42 juga tak dilupakan, dengan diluncurkannya ATR 42-600, bersama dengan varian ATR 72-600, pada 2 Oktober 2007.

Kedua pesawat ini menawarkan berbagai keuntungan, mulai dari efisiensi, tangguh, hemat bahan bakar, dan biaya pengoperasian yang lebih rendah dibanding kompetitor.

Di dekade berikutnya lagi atau pada tahun 2010-an, ATR berhasil mencetak pengiriman pesawat yang ke-900, saat sebuah ATR 72-500 sukses dikirim ke maskapai Brasil, TRIP Linhas Aéreas pada 10 September 2010.

Setahun berikutnya, ATR mencetak pengiriman ke-1.000 usai pengiriman ATR 72-600 ke Air Nostrum Spanyol pada 3 Mei 2012 rampung.

Baca juga: ATR 42-600S – Jawara Terbang di Atas Pegunungan dengan Kemampuan STOL

Pada bulan Oktober tahun 2018, ATR sudah mencatat pengiriman 1.500 pesawat dan pesanan pesawat yang ke 1.700. Sejak tahun 2010, ATR disebut sudah mengusai pangsa pasar pesawat regional sekitar 75 persen. Bila di tahun segitu saja sudah sebesar itu, apalagi tahun 2018? Pasti pangsa pasar yang dikuasai ATR sudah jauh lebih besar.

Tak heran bila di tahun 2018 ATR mengklaim mencatat lebih dari 5.000 penerbangan per hari, mencatat 30 juta jam terbang bersama maskapai, dan lepas landas ataupun mendarat setiap 8 detik.