Sejarah Boeing 737-500 (737-1000), Seri 737 Klasik Paling Tidak Laku!

0
Boeing 737-500 Sriwijaya Air. Foto: Flickr via Simple Flying

Pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 pada Sabtu siang (9/1) dilaporkan hilang kontak empat menit setelah lepas landas. Pesawat itu dilaporkan hilang pada pukul 14.40 WIB di perairan Kepulauan Seribu di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki.

Baca juga: Berapa Banyak Pesawat Boeing 737 All Series yang Masih Terbang dan dalam Pesanan?

Pesawat itu hilang kontak pada posisi 11 nautical mile di sebelah utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Pesawat yang dipiloti Capt. Afwan tersebut semula dijadwalkan take-off atau lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 13.25 WIB dan tiba di Bandara Supadio, Pontianak pada 15.00 WIB, sebelum akhirnya delay selama 30 menit sebelum lepas akibat cuaca buruk.

Terlepas dari usia Boeing 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC yang sudah mencapai hampir 27 tahun, pada dasarnya seri ini memang tidak laku di pasaran.

Dilansir dari b737.org.uk, di antara deretan Boeing 737 klasik, Boeing 737-500 menjadi yang terendah dengan mencatat penjualan sebanyak 389 unit. Bandingkan dengan dua seri klasik lainnya, Boeing 737-400 dan Boeing 737-300, dimana masing-masing mencatat penjualan 486 dan 1.113 unit.

Boeing 737-500 terbang perdana pada 30 Juni 1989. Dengan bentang sayap 28,8 meter, panjang 31,06 meter, dan tinggi 11,13 meter, pesawat yang diplot untuk menggantikan peran Boeing 737-200 ini merupakan varian Boeing 737 seri klasik terpendek. Sebab, pengembangan pesawat ini memang didasari pada desain 737-200, dengan beberapa peningkatan.

Setahun setelah terbang perdana, pesawat yang awalnya dikenal sebagai 737 Lite dan 737-1000 ini akhirnya memulai pengalaman baru saat memasuki tahun layanan bersama Southwest Airlines pada 1990.

Awalnya, pesawat ini begitu diminati karena memungkinkan rute yang lebih panjang dengan lebih sedikit penumpang, menjadikannya lebih ekonomis dibandingkan dengan 737-300. Pesawat berkapasitas hingga 140 penumpang yang menggunakan mesin CFM56-3 ini juga diklaim lebih hemat 25 persen bahan bakar dibandingkan dengan mesin P&W Boeing 737-200.

Baca juga: Geser Dominasi 737 Series, Airbus Catatkan Pengiriman Unit ke-1000 Keluarga A320neo

Sayangnya, seri ini hanya unggul dibanding saudara kandungnya, tidak untuk kompetitor lain. Seiring berjalannya waktu, penjualan peswat dengan jangkauan mencapai 4.398 km ini makin menurun dan cenderung tak banyak berkutik melawan kedigdayaan kompetitor dari Eropa, Airbus A320, yang terbang perdana pada 22 Februari 1987 bersama Air France.

Setelah 21 tahun layanan, Boeing pun resmi mempensiunkannya. Saat ini, dari total 389 pesawat yang diproduksi, 199 di antaranya masih aktif beroperasi.

LEAVE A REPLY