Sejarah Life Jacket – Mulai dari Berbahan Gabus Sampai Berteknologi Hybrid Inflatable

Life jacket jaman dulu yang masih menggunakan gabus dan kayu. Sumber: cottagelife.com

Bagi Anda para pengguna setia moda udara, mungkin Anda kerap mendengar nama barang yang satu ini – namun berharap untuk tidak pernah sama sekali menggunakannya. Apakah Anda tahu barang apa yang dimaksud? Ya, life jacket atau yang biasa disebut jaket pelampung merupakan salah satu instrumen keselamatan yang dapat Anda temui tidak hanya di pesawat saja, pun dengan di kapal. Tentu Anda tidak pernah berharap untuk mengenakan pelampung berwarna jingga ini, bukan?

Baca juga: Kerap Hilang, Jaket Pelampung di Kabin Harus Rutin Diperiksa Keberadaannya

Layaknya instrumen-instrumen lain yang mengalami imbas dari perkembangan jaman, jaket pelampung ini pun mengalami perubahan dari masa ke masa – kendati masih menyandang fungsi yang sama, hanya saja perubahan terjadi pada bahan yang digunakan dan bentukannya.

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, jaket pelampung ini mulai dikembangkan pada sekitar tahun 1850-an – periode yang sama ketika kapal-kapal berbahan dasar besi mulai menggantikan eksistensi dari kapal tradisional yang berbahan kayu.

“Ketika sebuah kapal berbahan besi tenggelam, maka muatan berbobotnya (penumpang) juga akan ikut tenggelam, maka dari itu dirancanglah jaket pelampung untuk mencegah penumpangnya ikut tenggelam,” tulis Dr. Christopher Brooks, seorang dokter, ilmuwan, dan penulis buku “Designed for Life: Life Jackets Through the Ages”.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, evolusi dari jaket pelampung ini sendiri sebenarnya hanya terjadi pada model dan bahan dasarnya saja. Mundur ke tahun-tahun awal jaket ini dikembangkan, orang-orang jaman dulu masih menggunakan kulit binatang sebagai bahan dasar dari jaket pelampung ini.

Maju ke awal abad 19, Anda akan menemukan jaket pelampung yang sudah menggunakan lembaran gabus sebagai bahan dasarnya. Menilai gabus merupakan bahan yang tepat agar manusia bisa mengambang, jaket keselamatan ini terus dikembangkan sebagaimana mestinya.

Pada pertengahan abad ke-19, para pengembang jaket ini mulai menggunakan blok kayu atau gabus yang dibentuk menyerupai sebuah rompi.

Perkembangan terus berlanjut dengan serangkaian insiden yang terjadi di dalamnya – dimana insiden-insiden yang berhubungan dengan nyawa seseroang di laut menjadi pelatuk yang siap memicu perkembangan dari jaket pelampung ini dengan bentuk, bahan, dan fungsi yang lebih mutakhir.

Baca juga: Ini Alasan Tak Boleh Kembangkan Pelampung di Dalam Kabin

Jaket pelampung pesawat (Hong Kong Airlines)

Sampai pada akhirnya, jaket pelampung ini menggunakan teknologi hybrid inflatable dimana jaket baru akan mengembang ketika tali yang terletak di bagian dada ditarik atau peluit yang juga tersemat pada jaket tersebut ditiup.

Kendati sederhana, namun jaket pelampung ini terbukti menurunkan angka korban meninggal karena tenggelam dengan sangat signifikan. Mengutip dari laman cottagelife.com, angka korban meninggal karena tenggelam sudah sangat berkurang drastis terhitung sejak tahun 1994 silam. Di tahun 2016 kemarin, masih ada 1,4 kematian akibat tenggelam di Kanada untuk setiap 100.000 orang, dan sebagian besar dari mereka dapat dicegah.