Selain Antonov An-225 Mriya, Ilyushin Il-62 Pernah Jadi Pesawat Terbesar di Dunia Buatan Soviet

0
Ilyushin Il-62. Foto: Getty Images via Simple Flying

Antonov An-225 Mriya sudah pasti menjadi pesawat terbesar di dunia buatan Uni Sovet atau Rusia paling dikenal oleh avgeek. Padahal, dibalik itu ada lagi pesawat terbesar di dunia buatan Soviet, kendati berada di kelas yang berbeda. Itu adalah Ilyushin Il-62.

Baca juga: Inilah Daftar Pesawat Buatan Uni Soviet dan Rusia Terlaris

Di masanya, atau paling tidak ketika diluncurkan, pesawat tersebut didapuk menjadi pesawat jet terbesar di dunia.

Pesawat dengan panjang 53 meter ini mampu mengangkut hingga 165 penumpang dalam sekali jalan. Itu memang tak mengangkut lebih banyak penumpang dibanding Boeing 707 (183 penumpang) yang sudah meluncur lebih dahulu, tetapi, dari panjang pesawat Il-62 menjadi tak ada yang mampu menandinginya.

Dikutip dari Simple Flying, Ilyushin Il-62 pertama kali terbang pada Januari 1963. Itu terjadi setelah melalui proses pengembangan tak terlalu panjang mulai Februari 1960. Ketika itu, pengembangan pesawat jet empat mesin sedang gencar-gencarnya usai kemunculan pesawat jet komersial pertama di dunia, De Havilland Comet.

Namun Ilyushin Il-62 berbeda. Pesawat ini mampu terbang sejauh 4.500 km saat terisi penuh dan 6.700 km saat diisi oleh sekitar 100 penumpang, didukung oleh empat mesin jet lokal, Kuznetsov NK-8-4. Ilyushin kemudian mengganti mesin tersebut menjadi Soloviev D-30KU yang lebih senyap dan tentu saja buatan lokal.

Akan tetapi, bukan range, empat mesin, mesin yang lebih halus, dan kapasitas penumpang yang menjadi pembeda pesawat jet terbesar di dunia tersebut dibanding pesawat kompetitor, melainkan peletakan mesinnya yang unik.

Mesin Ilyushin Il-62 terletak di bagian belakang badan pesawat layaknya pesawat trijet. Hanya saja, bila pesawat trijet seperti Boeing 727, Yakolev Yak-42, dan berbagai pesawat lainnya, satu di kanan dan kiri belakang badan pesawat dan satu lainnya di horizontal stabilizer, Ilyushin Il-62 meletakkan kedua mesinnya di bagian kanan dan kiri bagian belakang pesawat.

Tak cukup sampai di situ, mesin juga dibungkus oleh nacelle sambung atau nacelle ganda. Ini sebetulnya bukan barang baru mengingat De Havilland Comet sudah mengaplikasikannya lebih dahulu.

Tetapi, pada poin peletakan mesin di bagian belakang badan pesawat sangat jarang pada saat ini. Kompetitor, seperti Boeing 707 dan Douglas DC-8. Menariknya, kompetitor asal Inggris, Vickers VC10, justru menerapkan konsep peletakan mesin yang sama dengan Ilyushin Il-62. Sampai di sini, sempat adanya gonjang-ganjing kemungkinan sadur-menyadur satu sama lain.

Meski demikian tak ada temuan apapun terkait spionase dan sejenisnya. Dengan kata lain, masing-masing memiliki konsep tersendiri sekalipun mirip-mirip. Lagipula, Vickers VC10 tidak menggunakan nacelle ganda sebagaimana Il-62.

Baca juga: Tupolev “Concordski” T-114 – Jiplakan Concorde Yang Kalah Digdaya

Sejak terbang perdana, Il-62 baru memasuki tahun layanan empat tahun setengah setelahnya, yaitu pada September 1967. Ketika itu, Aeroflot mengoperasikan pesawat untuk rute Moskow – Montréal. Enam tahun kemudian, varian Il-62M dengan berbagai peningkatan berhasil memasuki layanan komersial.

Saat ini, pesawat jet terbesar di dunia itu, dari 292 yang diproduksi, 10 di antaranya masih aktif beroperasi bersama Rada Airlines, maskapai nasional Korea Utara Air Koryo, Unit Penerbangan ke-223 Angkatan Udara Rusia.