Sebagai pengguna kereta api tentu saat ini sudah menjadi hal yang wajib dilakukan saat bepergian ke berbagai wilayah di Jawa dan Sumatra. Tak hanya cepat dan praktis, masyarakat juga menilai dari segi tarif yang diberikan untuk yang diinginkan. Tentunya beberapa masyarakat sebagai pengguna setia kereta api tak melulu menggunakan tarif yang cukup mahal. Namun, tarif yang berkisar harga yang paling murah pun tetap menjadi pilihan masyarakat.
Ya, dengan adanya tarif bersubsidi inilah, masyarakat yang menggunakan kereta api baik lokal maupun antar kota masih menjadi pilihan favorit bahkan menjadi pilihan utama. Tentunya, kereta api kini menjadi salah satu penopang utama mobilitas nasional, berkat instrumen kebijakan strategis bernama Public Service Obligation (PSO) atau subsidi pelayanan publik dari pemerintah.
Melalui penugasan PSO yang diberikan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan (Kemenhub), PT Kereta Api Indonesia (KAI) Group memastikan layanan transportasi berbasis rel tetap hadir dan dapat diakses masyarakat di berbagai wilayah, mulai dari perjalanan harian, regional, hingga antarkota.
Menurut Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba yang dilansir laman Kompas mengatakan bahwa PSO merupakan wujud sinergi berkelanjutan antara pemerintah dan operator perkeretaapian dalam menjaga kesinambungan layanan transportasi publik. Serta adanya PSO ini memastikan layanan kereta api tetap dapat diakses masyarakat di berbagai wilayah.
Tingginya jumlah pelanggan mencerminkan kepercayaan publik terhadap kereta api sebagai moda transportasi yang andal dalam mendukung mobilitas harian, regional, hingga perkotaan. Ke depannya KAI akan terus memperkuat keandalan operasi dan integrasi antar layanan, serta berkoordinasi secara berkelanjutan dengan pemerintah agar manfaat transportasi publik berbasis rel semakin luas dirasakan masyarakat.
Sebagai contoh data penumpang kereta api lokal yang menyebutkan, sepanjang tahun 2025, layanan PSO ini melayani sebanyak 6.225.944 penumpang. Itu berarti naik dari angka 5.375.104 penumpang pada tahun 2024. Peningkatan tersebut mencerminkan peran PSO sebagai penghubung kawasan permukiman, sentra produksi, dan simpul aktivitas ekonomi daerah.
Kemudian untuk kereta api antar kota menyebutkan bahwa sepanjang 2025, melayani 11.418.824 penumpang. Ini sebuah peningkatan dibandingkan 11.133.268 penumpang pada tahun 2024. Layanan ini mendukung perjalanan masyarakat untuk berbagai kepentingan, mulai dari kerja, pendidikan, aktivitas sosial, hingga mobilitas rutin antar daerah.
Tentunya, kondisi tersebut mempertegas kebutuhan akan transportasi massal berbasis rel yang andal, berkelanjutan, dan mampu melayani pergerakan masyarakat secara konsisten. Dalam konteks ini, PSO juga berfungsi sebagai instrumen kebijakan publik yang menjaga keberlangsungan layanan kereta api di tengah dinamika mobilitas masyarakat yang terus meningkat.
Selanjutnya di wilayah perkotaan, sepanjang tahun 2025 layanan PSO yang dikelola KAI Commuter melayani 400.737.915 penumpang melalui Commuter Line Jakarta – Bogor – Depok – Tangerang – Bekasi (Jabodetabek), Bandara Soekarno-Hatta (Basoetta), Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta, Daop 2 Bandung, Daop 6 Yogyakarta (KRL dan Prameks), dan Daop 8 Surabaya.
Bagaimana pun, capaian ini menegaskan bahwa kereta api bukan hanya soal tiket murah, melainkan fondasi penting dalam menjaga mobilitas masyarakat serta pemerataan akses transportasi nasional. Dan masyarakat tentunya bisa menikmati pelayanan dan fasilitas kereta api walaupun dengan tarif yanv relatif murah.
Dampak Ekonomi KA Kahuripan: Kereta Termurah yang Hidupkan Jalur Selatan Jawa
