Perjalanan kereta api yang melewati Stasiun Purwakarta sudah mulai terlihat ramai. Meskipun jeda antar kereta tidak terlalu dekat, namun jalur kereta api menuju selatan ini masih melewati perlintasan baik menggunakan palang pintu maupun tanpa palang pintu. Salah satunya perlintasan sebidang yang berada tak jauh dari Stasiun Purwakarta ini.
Ya, diinformasikan bahwa perlintasan sebidang tersebut memang tidak memiliki palang pintu resmi. Tapi terlihat bahwa banyaknya kendaraan bermotor terutama roda dua yang menyeberangi perlintasan tersebut. Masyarakat pun lebih sering melewati perlintasan itu dengan alasan akses yang lebih dekat. Apalagi menurutnya kereta api yang melintas tak begitu banyak dibanding jalur lain yang berada diutara.
Meski belum memiliki fasilitas resmi, maayarakat setempat secara swadaya membantu mengatur arus kendaraan dari kedua sisi rel agar pengguna jalan dapat melintas secara bergantian dengan aman. Masyarakat setempat pun berinisiatif membangun palang pintu seadanya, karena yang terpenting bagi mereka adalah masyarakat bisa mematuhi lalu lintas saat di perlintasan kereta api.
Salah satu masyarakat yang biasa menyeberangi rel kereta api di perlintasan sebidang ini pun menuturkan bahwa keberadaan akses tersebut sangat membantu aktivitas sehari-hari masyarakat. Apalagi saat berangkat bekerja, masyarakat menilai akses tersebut menjadi jalur penting bagi mobilitas sekitar.
Tak sedikit pula masyarakat berharap bahwa perlintasan sebidang ini kedepannya bisa difasilitasi, misalnya dibuatkan palang atau petugas resmi supaya lebih aman. Serta pemerintah daerah bersama pihak terkait dapat memberikan perhatian terhadap kondisi perlintasan tersebut.
Sebelumnya, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) wilayah Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung, melakukan penutupan perlintasan liar kereta api tanpa palang pintu di wilayah Kabupaten Purwakarta, pada 30 Oktober 2024 lalu. Upaya tersebut, dinilai perlu dilakukan guna meminimalisasi risiko yang bisa membahayakan pengguna jalan.
Di saat bersamaan ratusan masyarakat dari berbagai kalangan menggelar aksi damai di lokasi kegiatan sebagai bentuk penolakan agar perlintasan tanpa palang pintu tersebut tidak ditutup. Mereka tak sepakat dengan rencana penutupan perlintasan oleh PT KAI ini karena dinilai akan berdampak negatif terhadap mobilitas dan kehidupan sehari-hari mereka.
Perwakilan dari masa demo mengatakan, penutupan perlintasan kereta api akan mengakibatkan kesulitan akses bagi warga, terutama bagi pelajar, pekerja, dan petani yang bergantung pada jalur tersebut untuk beraktivitas. Menurut dia, penutupan perlintasan jalur kereta api di wilayahnya ini dapat merugikan warga. Sehingga, pihaknya mendesak PT KAI memberikan solusi terlebih dahulu sebelum melakukan penutupan perlintasan jalan.
Ini Dia Alasan Kenapa Singkatan Stasiun Solo Jebres Adalah “SK” Bukan “SJ”
