Sering Lihat Pesawat Mengeluarkan Asap Putih? Ini Dia Penjelasannya

Sumber: wikipedia

Beberapa dari Anda pasti pernah melihat garis putih panjang di angkasa yang secara kasat mata bentuknya hampir menyerupai awan. Tidak sedikit juga orang jaman dulu menyangkut pautkan fenomena ini dengan nilai keagamaan. Dewasa ini, sebagian dari kita mungkin acuh dengan garis putih tersebut, namun tahukah Anda apa itu sebenarnya?

Baca Juga: 11 Kasus Misterius Dalam Dunia Penerbangan

Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, secara garis besar ada dua teori yang mendefinisikan fenomena yang ditimbulkan oleh pesawat tersebut. Pertama adalah condensation trail (contrail), yaitu efek alami dari kondensasi udara dingin yang secara tiba-tiba menjadi hangat akibat pembakaran mesin lalu mengandung uap air dan terbentuklah gumpalan awan. Jika disederhanakan, suhu panas di mesin pesawat bertabrakan langsung dengan udara di luar pesawat yang super dingin, dan terbentuklah contrail.

Jejak uap air terkondensasi ini dapat terlihat dalam waktu beberapa detik atau menit, atau bahkan berjam-jam, tergantung pada kondisi atmosfer. Patut digaris bawah, contrail ini sendiri merupakan efek alami dari kondensasi udara yang tidak berbahaya dan hanya mengandung uap air. Fenomena contrail sendiri terjadi saat pesawat berada di ketinggian 16.500 kaki atau kurang lebih setara dengan 5.000 meter.

Lalu fenomena contrail ini bertolak belakang dengan chemical trail (chemtrail). Sesuai dengan namanya, chemtrail merupakan bahan kimia atau biologis yang sengaja disebar pada ketinggian tertentu oleh beberapa oknum dengan tujuan tertentu. Chemtrail ini erat kaitannya dengan teori konspirasi yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat untuk membatasi laju pertumbuhan penduduk. Tidak sedikit juga yang beranggapan bahwa penyebaran chemtrail ini merupakan proyek rahasia pemerintah.

Pada awalnya, Teori konspirasi chemtrail mulai beredar setelah United States Air Force (USAF) menerbitkan sebuah laporan pada tahun 1996 tentang modifikasi cuaca. Setelah laporan tersebut terbit, di akhir 1990an, USAF dituduh “telah menyemprotkan populasi AS dengan zat misterius” dari pesawat terbang yang menghasilkan pola contrail yang tidak biasa. Sejak saat itulah teori konspirasi chemtrail mulai marak diperbincangkan.

Salah satu kasus yang belum lama terjadi adalah militer Amerika menyemprotkan chemtrail pada bulan April 2016 silam. Namun pihak NASA mengakui bahwa zat kimia yang disemprotkan di lapisan ionosfer bumi itu merupakan zat lithium yang dapat membantu mengobati orang-orang yang mengidap kelainan bipolar.

Baca Juga: Kenapa Mayoritas Badan Pesawat Berwarna Putih? Ini Dia Alasan Ilmiahnya!

Namun pernyataan NASA tersebut tidak sejalan dengan pemerintah yang tidak pernah mengakui adanya proyek terselubung tersebut. Jim Marss, penulis buku Above Top Secret yang juga mengupas tentang teori chemtrail ini pun mengamini statemen di atas, dimana pemerintah tidak pernah mengakui tentang keberadaan proyek chemtrail. “Tak ada satu pun pejabat yang punya otoritas mau mengakui keberadaan proyek ini, juga apa tujuannya,” tulis Jim, dikutip dari laman seekers.com.

Tidak dilandasi hipotesa semata, Jim membeberkan bukti bahwa Amerika pernah disemprotkan chemtrail. Pada 2007, reporter stasiun televisi di Lousiana menguji kandungan yang ada pada chemtrail yang ditinggalkan oleh sebuah pesawat. “Hasilnya, ada 6,8 part per million (ppm) barium,” tukas Jim. Ia mengklaim, kadar barium di udara ini tiga kali lebih tinggi dari standar yang diperkenankan oleh Environmental Protection Agency (EPA).