Setelah 100 Tahun Lebih, Ilmuan Sedunia Masih Bingung Jelaskan Mengapa Pesawat Bisa Terbang

0
Ilustrasi mengapa pesawat bisa terbang. Foto: Telegraph

Jika kita mengetik di sebuah mesin pencari, “Mengapa pesawat bisa terbang?” atau mengetiknya dalam berbagai bahasa, umumnya ada begitu banyak penjelasan terkait hal itu. Padahal, fakta yang ada, ilmuan sampai saat ini masih kesulitan -jika tak ingin dibilang bingung- dalam menjelaskan pertanyaan tersebut. Termasuk pertanyaan yang serupa tapi tak sama, “Mengapa pesawat bisa tetap berada di udara?”

Baca juga: Inilah Alasan, Mengapa Tetap ada Asbak di Pesawat, Meski Merokok Dilarang dalam Penerbangan

Dilansir scientificamerican.com, memperingati 100 tahun penerbangan bersejarah Wright bersaudara pada Desember 2003 lalu, New York Times mengulas tulisan simpel tapi mengena, berjudul, “Staying Aloft: What Does Keep Them Up There?” kurang lebih pertanyaan yang sama dengan pertanyaan di awal tulisan.

Menjawab pertanyaan NYT, John D. Anderson, kurator aerodinamika di National Air and Space Museum sekaligus penulis beberapa buku tentang penerbangan coba buka suara. Ia mengakui bahwa sampai saat itu, tidak ada kesepakatan antar para ilmuan tentang sebab munculnya gaya aerodinamis atau yang kita kenal sebagai gaya angkat. “Tidak ada jawaban sederhana untuk ini,” jelasnya.

Begitu juga dengan Albert Einstein, fisikawan kenamaan dunia, yang juga tak menemukan jawaban sederhana atas pertanyaan itu, tak lama setelah Wright bersaudara mengukir sejarah. “Ada banyak ketidakjelasan seputar pertanyaan-pertanyaan ini (mengapa pesawat bisa terbang)” katanya. “Memang, saya harus mengakui bahwa saya tidak pernah menemukan jawaban sederhana untuk mereka bahkan dalam literatur spesifik,” tambahnya.

Belasan tahun setelah tulisan itu dimuat, pakar penerbangan, ilmuan, peneliti, dan ahli matematika tingkat dewa serta fisikawan dari seluruh dunia masih belum menemukan jawaban dan lebih penting dari itu, kesepakatan tentang mengapa pesawat bisa terbang dan tetap berada di udara.

Secara umum, ada dua tipe teori terkait hal itu, teknis dan non teknis. Teori teknis, tentu sebagaimana yang kita dengar selama ini, dimana pesawat bisa terbang berkat daya angkat yang bisa membuatnya meninggalkan daratan. Sebagian besar, daya angkat pesawat dihasilkan melalui sayap. Adapun besarnya daya angkat pada pesawat tergantung pada beberapa faktor, yakni ukuran, bentuk, dan kecepatan pesawat terbang.

Fenomena daya angkat pesawat ini pertama kali dijelaskan oleh Daniel Bernoulli, seorang ahli matematika dan ilmuwan Swiss abad ke-18 yang mempelajari pergerakan fluida. Bernoulli menemukan bahwa semakin cepat gas bergerak, semakin rendah pula tekanan yang diberikan. Yang mana tekanan terhadap tepi atas sayap lebuh rendah dibanding tekanan di tepi bawah sayap, sehingga bisa menyebabkan pesawat menggantung di angkasa.

Tak hanya daya dorong dan daya angkat, pesawat bisa terbang karena ada gaya hambat udara yang arahnya berlawanan dengan gaya dorong. Dengan kata lain, semakin cepat pesawat bergerak, semakin besar gaya hambat udara.

Selain teori atau pendekatan teknis, pendekatan non teknis dalam menjelaskan fenomena pesawat -termasuk burung- bisa terbang juga harus dilibatkan, agar memberikan pemahaman intuitif kenapa itu terjadi.

Baca juga: Mengapa Kokpit Disebut Kokpit? Inilah Jawaban dari 3 Teori Termasyhur

Seorang ahli aerodinamika, Doug McLean, coba mengurai pertanyaan itu, sekalipun dinilai belum bisa menjelaskan pertanyaan mengapa pesawat bisa terbang.

Menurut insinyur di Boeing Commercial ini, “Saat gaya angkat dihasilkan, awan difus bertekanan rendah selalu terbentuk di atas airfoil (sayap pesawat), dan awan difus bertekanan tinggi biasanya terbentuk di bawah. Dimana awan ini menyentuh airfoil, itu merupakan perbedaan tekanan yang memberikan gaya angkat pada airfoil,” tulisnya dalam sebuah tulisa berjudul “A Basic Explanation of Lift on an Airfoil, Accessible to a Nontechnical Audience.”

Leave a Reply