Seulawah Airlines, Inilah Maskapai Swasta Pertama di Indonesia!

Sumber: aviahistoria.com

Jika Anda ditantang untuk menyebutkan maskapai swasta yang ada di Indonesia, mungkin nama Lion Air akan menjadi jawaban paling populer yang Anda sebutkan saat ini. Namun apabila pertanyaannya diubah menjadi, “apakah maskapai swasta pertama yang ada di Indonesia?”, dapatkah Anda menjawabnya dengan tepat? Sebagai clue, maskapai ini didirikan pada tahun 1968 – jauh sebelum Lion Air berdiri pada 19 Oktober 1999.

Baca Juga: Philippine Airlines – Maskapai Tertua di Asia dan Pertama yang Lintasi Samudera Pasifik

Ternyata, maskapai swasta pertama yang ada di Indonesia ini muncul ketika pemerintah mengeluarkan regulasi yang memberikan kesempatan pada pihak swasta untuk menyelenggarakan usaha angkutan udara untuk umum dan nama maskapai swasta yang pertama di Indonesia adalah Seulawah Airlines. Maskapai ini sendiri didirikan oleh Dharma Putra Kostrad dengan Presiden Komisarisnya kala itu ialah Mayjen Sofyar dan jabatan General Manager diduduki oleh Captain Oediono.

Kantor pusat dari Seulawah Airlines sendiri tercatat berada di Medan, dengan rute-rute penerbangan yang dilayani adalah kota-kota di Sumatera dan satu kota di Pulau Jawa yaitu Jakarta.

Kendati baru hanya menggunakan dua pesawat saja – Convair turboprop dengan kapasitas 50 tempat duduk dan Dakota dengan kapasitas 26 tempat duduk, namun kala itu nama Seulawah Airlines cukup disegani oleh banyak pihak karena perkembangannya yang bisa dibilang cukup pesat.

Sebelum membahasnya lebih jauh, patut Anda garis bawahi bahwa maskapai ini bukanlah Seulawah yang tercatat sebagai pesawat kenegaraan pertama Tanah Air dengan nomor registrasi PK-RI 001 yang dioperasikan oleh Indonesia Airlines, ataupun Seulawah Air yang juga didirikan oleh Kostrad, atau bahkan Seulawah NAD Air yang didirikan oleh pemprov Nanggroe Aceh Darussalam.

Satu faktor yang cukup mendompleng popularitas dari Seulawah Airlines adalah defisit keuangan, manajemen, hingga sejumlah masalah lain yang dihadapi oleh Garuda Indonesian Airways dan Merpati Nusantara Airlines (dua maskapai yang kala itu merajai pasar kedirgantaraan nasional). Karena kedua rivalnya ini tengah mengalami problematikanya masing-masing, maka Seulawah Airlines muncul sebagai kuda hitam yang ternyata berhasil mencuri ceruk pasar.

Namun sayang, kemunduran dari Seulawah Airlines baru dialami ketika pada tahun 1972 saat Menteri Perhubungan Frans Seda mengeluarkan regulasi tentang industri angkatan udara, terutama masalah rute. Maskapai swasta tidak diperbolehkan membuka rute di Ibu Kota provinsi – dimana rute-rute tersebut hanya bisa dilayani Garuda dan Merpati.

Baca Juga: Ternyata, Boeing dan United Airlines Dulu Adalah Satu Perusahaan, Lho!

Padahal, kala itu, Seulawah Airlines baru investasi pesawat Vicker dan Viscon bermesin empat yang tidak mungkin beroperasi di bandara-bandara kecil – harus di kota besar. Belum lagi keuangan Seulawah yang terkuras untuk kegiatan politik oleh Presiden Komisarisnya yang saat itu berafiliasi dengan salah satu partai politik kenamaan Indonesia. Maka perlahan-lahan Seulawah Airlines pun menurun hingga akhirnya berhenti beroperasi sama sekali.