Sistem Tiket MRT Jakarta Mengacu Ke Singapura, Paling Jauh Ditaksir U$1

0
Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar (Istimewa)

Jalur Mas Rapid Transit (MRT) fase satu saat ini masih dalam pembangunan yakni sepanjang 16 km dari Lebak Bulus menuju Bundaran Hotel Indonesia. Untuk keretanya sendiri, PT MRT Jakarta menggunakan kereta buatan Nippon Sharyo, LTD yang juga merupakan pembuat kereta cepat Shinkansen di Jepang.

Baca juga: MRT Jakarta – Mulai Lakukan Fase Pertama Pembangunan Interior Stasiun

Direktur Operasi dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta, Agung Wicaksono mengatakan, kereta untuk MRT yang akan dipesan sebanyak 16 set dengan satu setnya terdiri atas enam gerbong kereta. “Bila ada 16 set dengan enam gerbong kita akan punya 96 gerbong untuk MRT,” ujar Agung saat di wawancarai KabarPenumpang.com di Jakarta, kemarin (5/7/2017).

Ia mengatakan untuk pengoperasiannya, pada jam sibuk akan ada 14 kereta dan dua lainnya sebagai cadangan. Diketahui sekali mengangkut, kereta ini mampu memuat 2 ribu penumpang sekali jalannya. Selain itu Agung menambahkan, 2 ribu penumpang tersebut dalam hitungan penumpang yang duduk mengisi tempat duduk dan yang berdiri.

Baca juga: Jelang Beroperasi, PT MRT Jakarta Buka Lowongan Kerja

“Perhitungan awalnya kan sekitar 174 ribu penumpang per harinya, sedangkan KRL sudah 1,2 juta penumpang atau 10 kali lipat dari kapasitas MRT karena jangkauannya yang luas,” jelas Agung.

Kereta yang digunakan untuk MRT menggunakan Automatic Train Operation (ATO) dengan masinis yang tugasnya untuk membuka dan menutup pintu saja, dan peran masinis diperkukan untuk antisipasi jika ada keadaan darurat. Adapun spesifikasi rolling stock untuk MRT Jakarta yakni 16 rangkaian, dengan gerbong per setnya ada enam, headway atau jarak kedatangan sekitar lima menit.

Baca juga: Bangun TOD di Lebak Bulus, MRT Jakarta Lalukan Studi Pengembangan dengan Wijaya Karya

Selain itu kecepatan maksimum 100 km per jam di jalur layang dan 80 km per jam dibawah tanah, sementara untuk rata-rata kecepatan saat beroperasi nanti ada di kisaran 30-40 km per jam. Tiap gerbongnya nanti MRT Jakarta akan memiliki dimensi lebar 2.950 mm dan tinggi 3.655 mm.

Agung menambahkan, untuk tiket MRT nantinya akan ditentukan oleh Peraturan Daerah, sebab harus konsultasi dengan proses yang cukup panjang. “Dari benchmark yang sudah ada harga tiketnya sekitar US$1 atau sekitar Rp12 ribu hingga Rp13 ribuan. Ini bisa lebih atau kurang tergantung pemerintah,” jelasnya. Benchmark yang digunakan mengacu pada solusi yang telah diterapkan di Singapura. Nantinya akan ada vending machine untuk tiketnya sendiri.

Menurut Agung sistem tiket MRT Jakarta akan terbagi dalam tiga skema. Pertama, yang menyerupai MRT Singapura yakni dengan electronic fare collection. Skema ini memungkinkan pengguna untuk mendapatkan tiket MRT dengan memasukkan uang ke dalam mesin. Kedua, berupa clearing house dengan pemilikan dari konsorsium operator. Ini digunakan untuk membedakan penumpang lanjutan dari transportasi lainnya. Kemudian ketiga berupa kerja sama dengan perbankan menggunakan e-money seperti yang sudah diterapkan di Transjakarta dan Commuter Jabodetabek.

Baca juga: Dampak Pengiriman Material MRT, Jalan Sisingamangaraja Mendapat Rekayasa Lalu Lintas

Agung menjelaskan, untuk tiketnya bisa saja seharga Rp5 ribu tetapi, berapa banyak yang akan di subsidi oleh pemerintah. Sebenarnya, harga ini bukan hanya ditentukan dari hasil studi benchmark saja melainkan dari perhitungan cost operational, apalagi bila kontraktor yang digunakan berbeda.

“Untuk harga yang jelas masih kita hitung-hitunglah untuk dapat hasil finalnya,” tambah Agung. Terkait masalah kereta yang digunakan untuk MRT, Direktur Utama PT MRT William Sabandar mengatakan, saat ini belum ada rencana untuk pembagian gender pada gerbong. Namun tetap akan ada kenyamanan saat menunggu dan di dalam MRT tersebut, untuk keamanan di setiap rangkaian akan selalu terpantu dalam pengawasan keamanan lewat CCTV.

Baca juga: Proyek MRT: Mulai 20 Mei 2017 Ada 4 Tahap Rekayasa Lalu Lintas di Jalan Panglima Polim

Sedangkan fasilitas untuk disabilitas sudah dilengkapi oleh pihak MRT. Direktur Konstruksi PT MRT, Silvia Halim mengatakan, MRT sudah ramah untuk disabilitas, sebab ada lift untuk para pengguna kursi roda dan lansia selain itu untuk para tuna netra juga sudah ada tanda khusus pada lantai. Dalam kesempatan berbeda, William Sabandar pernah menyebut bahwa setiap stasiun nantinya akan dilengkapi lift untuk memudahkan keluar masuk para penyandang disabilitas. Lebih hebat lagi, untuk sinyal juga bisa digunakan seperti bunyi yang mudah didengar bagi para penyandang disabilitas.

Leave a Reply