Sopir Bus SMRT Singapura Keder, Penumpang Pun Berperan Sebagai Navigator

Bus SMRT (mothership.sg)

Serba teratur dan tertib, itulah ciri transportasi di Singapura, selain kondang dengan keberadaan kereta komuter MRT (Mass Rapid Transit), transportasi di Negeri Pulau tersebut juga akrab dengan eksistensi bus kota yang dikelola SMRT Busus Ltd, maklum tetap dibutuhkan bus untuk mennjangkau rute-rute ‘pedalaman’ kota yang tak terjamah jaringan kereta. Dan baru-baru ini, SMRT dikabarkn membuka rute baru, namun bus di rute baru ini sempat membuat penumpangnya mengalami gejolak, lantaran ada kesalahan sistem pada navigasi yang menandu sopir.

Baca juga: Bus Singapura Gunakan Aroma Terapi Sebagai Tanda

Kejadian tersebut berlangsung pada jam puncak, yakni Kamis malam dan Jumat pagi lalu, dimana penumpang wajib merencanakan kepergian mereka pada Jumat malam. Dilansir KabarPenumpang.com dari mothership.sg (19/8/2017), jalur bus SMRT yang bermasalah tersebut melayani antar jemput gratis dari stasiun MRT North Line – South Line. Ironisnya saat itu sopir tidak tahu harus pergi kearah mana, bukan karena sopir tidak hafal jalan, melainkan sopir mengalami kebingungan dengan rute baru, akibat panduan GPS dari pusat operasi mengalami masalah dalam transmisi data.

Salah seorang reporter CNA, Justin Ong yang saat itu berada di bus tersebut langsung menyadari kesulitan yang dialami sopir. Saat itu, Ong menaiki bus SMRT dari Bishan MRT dan berbicara pada pengemudi saat tiba di stasiun Braddell MRT. Sopir mengaku dirinya ditunjuk untuk pertama kalinya dalam 22 tahun mengemudi melakukan perjalanan tanpa mengenal daerah Bishan dan Toa Payoh. Dia mengatakan, awalnya pusat kendali SMRT akan memberi arahan pada dirinya melalui interkom.

Ong mengatakan, kejadian tersebut belum pernah terjadi sama sekali dan ini untuk pertama kalinya mendegar suara panduan lewat radio HT kepada sopir bus, dari pusat kendali di kantor pusat, diingatkan untuk perhentian terakhir di stasiun Network MRT. “Bisakah kamu memperlambat agar bus di belakang bisa menyusul? Mereka juga tidak tahu jalurnya,” ujar Ong menirukan suara dari komunikasi radio di SMRT. Ini menyiratkan bahwa ada beberapa sopir SMRT yang mengalami masalah serupa.

Sang sopir yang membawa Ong dan penumpang lainnya masih mengikuti instruksi hingga akhirnya turun di Novena. Tanpa sadar Ong sebagai penumpang memiliki inisiatif menjadi naigator atau “GPS manusia” untuk melakukan navigasi ke tujuan berikutnya. “Perjalanan ini diserahkan kepada saya dan akan saya arahkan ke Newton,” ujar Ong dalam komunikasi radio ke pusat kendali.

Sebagai navigator, Ong harus berhati-hati memberikan rute kepada sopir, berlaku layaknya staf SMRT dadakan, Ong mengumumkan pada penumpang bahwa SMRT tidak berhenti di halte bus reguler dan hanya berhenti di stasiun-stasiun kereta aja. “Saat mendekati Far East Plaza, seorang penumpang membunyikan bel untuk berhenti, tetapi sopir mengabaikannya,” kata Ong. Diketahui penumpang tersebut berteriak karena pengemudi tidak memberhentikan busnya. Ong menjelaskan pada penumpang tersebut bahwa perhentian hanya di stasiun dan si penumpang akhirnya mengerti.

Ternyata bukan Ong saja yang berperan sebagai navigator bus, melainkan ada tiga bus SMRT lainnya yang juga dipandu oleh penumpangnya. “Sebagai bagian dari rencana pemulihan dan kontinjensi SMRT, sopir bus atau disebut Kapten Bus (BC) kami mengikuti pelatihan untuk mempelajari beberapa rute layanan pemadu moda di sepanjang jalur LRT Utara, Jalur Timur-Barat, Lingkaran dan LRT Panjang Panjang. BC harus mempelajari rute-rute ini, selain rute reguler yang mereka lalui setiap hari, dan pelatihan penyegaran dilakukan agar BC terbiasa dengan rute tersebut,” ujar Wakil Presiden untuk Komunikasi Korporat SMRT, Patrick Nathan.

Baca juga: Bus 3 Pintu, Calon Primadona Masyarakat Singapura

Ketika diminta untuk menyediakan layanan bus pemadu moda (feeder) untuk membantu penumpang yang terkena gangguan layanan MRT, BC mungkin diminta untuk melewati rute yang kurang mereka kenal. Tugas mereka yang mendorong layanan bus feeder ini lewat bus guide onboard, atau jarak jauh melalui komunikasi radio dengan service controllers di Bus Operations Control Center, yang membantu mereka untuk bernavigasi. “BC kami selalu siap melayani dan membantu komuter, dan melakukan yang terbaik untuk memastikan agar para penumpang komuter mencapai tujuan mereka dengan selamat. Situasi ini dinamis dan bisa membuat stres bagi BC kita. Kami menyadari bahwa ada ruang untuk perbaikan, dan kami terus berupaya memperbaiki upaya pemulihan layanan,” kata Nathan.