ST Engineering Kembangkan Sistem Garbarata Otomatis

Sumber: istimewa

Bagi Anda yang sering menggunakan pesawat, tentu tidak asing dengan yang namanya boarding bridges atau yang dikenal sebagai Garbarata. Sebagai salah satu infrastuktur tambahan, kehadiran garbarata bisa dibilang penanda kemajuan dari suatu bandara, walaupun pada kenyataannya, tidak semua bandara memiliki garbarata. Kurangnya lahan parkir hingga padatnya jadwal penerbangan menjadi alasan mengapa beberapa bandara tidak menghadirkan garbarata yang terbukti dapat membantu penumpang untuk berpindah dari ruang tunggu bandara ke dalam pesawat tersebut.

Baca Juga: Quintiq Siap Otomatisasi Bandara Internasional Dubai

Namun, sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com (19/4/2017), sebuah perusahaan asal negeri tetangga, Singapore Technologies Engineering (ST Engineering) tengah mengembangkan garbarata otomatis yang diperkirakan akan memakan waktu lima hingga enam tahun. Direktur ST Engineering – NTU Corporate Lab., Paul Tan mengatakan kehadiran garbarata disebuah bandara harus mendapatkan perhatian lebih. Jika tidak, malah akan mengganggu jadwal hingga membahayakan penerbangan lain.

“Jika jembatan penyebrangan penumpang tidak dipasang dengan benar, dikhawatirkan akan mengganggu jadwal penerbangan, dan kemungkinan terburuknya adalah bisa menyebabkan kecelakaan yang merusak pesawat,” ungkap Paul. “Khususnya di Singapura, kehadiran garbarata akan sangat berguna jika cuaca sedang tidak bersahabat,” tambahnya.

Rencana pengadaan garbarata otomatis ini diharapkan dapat membantu operasional di suatu bandara. “Dengan memperkenalkan otomasi, kami menyediakan kemampuan kontrol presisi yang memungkinkan garbarata menancap secara otomatis ke pesawat, terlepas dari kondisi cuaca, sehingga menghilangkan risiko kerusakan potensial atau benturan dengan kendaraan darat,” tambah Tan.

Baca Juga: Pepper Robot, Bantu Check In Penumpang Eva Air

Menurut Tan, garbarata ini menggunakan sistem yang telah disesuaikan sebelumnya berdasarkan jenis pesawat yang ada untuk menyelaraskan jembatan dengan pesawat. Ini akan memungkinkan garbarata beroperasi dalam kondisi cuaca buruk, baik siang maupun malam hari,” tuturnya. Faktanya, ST Engineering mulai berpikir tentang rangkaian solusi robotika di bandara sejak dua tahun yang lalu. “

Tepatnya saat banyak otoritas mulai mengenalkan robotika dan AI ke lingkungan bandara,” tutur Tan saat dirinya menghadairi pameran Robocraft Asia 2017. Langkah tersebut dilakukan saat otoritas penerbangan dan pelaku industri mendorong otomatisasi dan penggunaan teknologi dalam operasi sehari-hari, di tengah krisis tenaga kerja yang menderu. Pada bulan Januari lalu, Changi Airport Group (CAG) mengumumkan program kerja sama dengan Economic Development Board (EDB) senilai S$50 juta untuk mengembangkan solusi dalam sistem robotika dan sistem tak berawak di bandara.

“Sebagai bagian dari upaya ST Engineering untuk membantu Changi Airport dalam transformasi bandara, kami memfokuskan sistem robotika dan intelijen kami di semua sudut bandara,” kata Tan.

Adapun otomatisasi lain yang dicanangkan masuk menginvensi bandara antara lain traktor bagasi otomatis untuk menangani masalah bagasi, dan sistem smart wheelchair. Tan optimis, masuknya otomatisasi ke dalam sebuah bandara dapat meningkatkan produktifitas dan efektifitas hingga 50 persen. Selain itu, Tan pun yakin penyebaran “wabah” otomatisasi ini tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama. “Namun kami harus melakukan serangkaian uji coba hingga mendapatkan sertifikasi produk,” tutur Tan. “Dalam satu hingga dua tahun ke depan, nampaknya kami akan sibuk melakukan sejumlah uji coba sebelum akhirnya sistem ini bisa bergabung dengan aktifitas bandara.”tutupnya.