Stasiun Catang – Berdiri Sejak 1905, Identik dengan Sejarah Bendungan Pamarayan

0

Berada di Serang, Stasiun Tjatang atau dikenal dengan Catang merupakan salah satu stasiun yang dibangun tahun 1905 silam. Stasiun ini berada di ketinggian +17 meter diatas permukaan laut. Stasiun Catang masuk dalam Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta.

Baca juga: Stasiun Labuan, Pernah Jadi Stasiun di Paling Ujung Barat Pulau Jawa

Staisun Catang

Meski masih beroperasi, status Stasiun Catang saat ini masuk sebagai salah satu benda cagar budaya. Bangunannya terdiri dari dua ruangan di mana ruang pertama merupakan ruang kontrol perjalanan kereta api dan ruang kepala stasiun.

Sedangkan ruangan kedua merupakan loket dan administrasi. Stasiun Catang merupakan stasiun kelas III atau kecil yang letaknya di Bojong Catang, Tunjung Teja, Serang. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Stasiun Catang memiliki dua jalur kereta api dengan jalur dua merupakan sepur lurus.

Terhitung dua kali perjalanan kereta penumpang yang melintas dengan relasi Stasiun Merak menuju ke Stasiun Tanahabang PP. Dulunya saat masih melayani kereta lokal atau Patas Merak, penumpang tak memiliki tiket pun bisa naik dan meski ada nomor di karcis penumpang juga tidak bisa duduk. Meski begitu, dari Stasiun Catang, pelancong bisa menikmati wisata seperti pantai.

Dari Stasiun Catang pelancong juga bisa ke destinasi sejarah terpendam yakni Bendungan Pamarayan. Untuk menuju ke sini, pelancong bisa jalan kaki, naik andong atau ojek.

Jarak Bendungan Pamarayan ini hanya sejauh 1,7 km dari Stasiun Catang. Bahkan pada tahun 1990 bendungan tersebut dibangun yang baru untuk menggantikan yang lama tetapi bukan lagi waduk melainkan pengendali air di Sungai Ciujung untuk keperluan irigasi yang jarakanya 300 meter dari bendungan lama.

Bendungan Pamarayan

Bendungan Pamarayan sendiri dibangun tahun 1905 sama dengan Stasiun Catang. Bisa dikatakan bendungan ini bisa menjadi wisata ilmu pengetahuan sejarah di masa kolonial. Sayang, sisa Bendungan Pamarayan lama ini tak dibenahi dan teronggok begitu seperti tembok tua tak bertuan.

Berdasarkan catatan sejarahnya, pintu air ini untuk menangani krisis pertanian saat musim kemarau yang sempat mengakibatkan masyarakat Banten dan Belanda kelaparan. Belanda pun menerapkan politik etis, di antaranya membangun irigasi.

Saat dibedol satu tahun sekali, selain untuk perawatan, masyarakat pun berduyun-duyun terjun ke air saat kering untuk menangkap ikan yang mabuk akibat kencangnya pusaran air. Pembangunan pintu air Pamarayan dilakukan setelah pembuatan jalur rel kereta api Rangkasbitung – Anyer Lor selesai. Pasalnya, diperlukan jalur untuk mengangkut batu dan material bahan pintu air yang berasal dari Bukit Cerlang di Anyer Lor.

Baca juga: Beralih Fungsi Menjadi Rumah dan Kandang Ayam, Begini Kabar Stasiun Menes

Batu puluhan ribu ton itu diangkut ke Pamarayan. Karena jalur ke Rangkasbitung ke Anyer Lor sangat jauh, pemerintah kolonial Belanda membuat sub rel dari stasiun Catang ke lokasi Bendungan Pamarayan. Pada 1925, dam utama dinyatakan selesai, kemudian mulai dibuat saluran irigasi induk barat dan timur. Pembangunan bendungan itu telah menghabiskan dana 5 juta gulden lebih dan 200 ribu tenaga kerja.

Leave a Reply