Stasiun Mayong, Beralih Fungsi Menjadi Lobi Hotel di Magelang

0
Stasiun Mayong yang menjadi lobi hotel

Ketika berbicara stasiun yang beralih dari fungsi semestinya, ada stasiun Demak yang menjadi kafe, stasiun Bantul menjadi warung makan dan beberapa stasiun lainnya yang berubah fungsi. Kali ini ada yang berbeda yakni sebuah stasiun yang menjadi lobi hotel. Penasaran ada di mana dan bagaimana stasiun menjadi lobi hotel?

Baca juga: Jalur Mau Dihidupkan, Stasiun Demak Justru Sudah Menjadi Kafe

Jejak sejarah perkeretaapin di wilayah Jepara masih sangat terasa karena dulunya sempat dilintasi kereta api. Tapi di daerah ini transportasi kereta tinggallah kenangan. Salah satu yang membekas adalah stasiun Mayong.

Stasiun ini  menjadi salah satu stasiun tertua di Pulau Jawa. Berdiri tahun 1873 bangunan stasiun Mayong terbuat dari kayu jati pilihan dan memiliki bentuk yang berkarakter.

Lokasi stasiun Mayong sendiri dulunya di Desa Pelemkerep, Kecamatan Mayong, Jepara atau tepatnya di depan SMPN 2 Mayong. Saat ini bekas daerah stasiun Mayong berdiri kios dan toko sedangkan bangunan aslinya sudah berpindah pada investor.

Bagian dalam stasiun Mayong

Stasiun Mayong tak lagi beroperasi sejak tahun 1980an dikarenakan penumpang yang turun drastis karena adanya pelebaran jalan dan semakin banyaknya kendaraan pribadi. Padahal dulunya stasiun ini menjadi salah satu titik berkumpulnya penumpang.

Namun sejak akhir tahun 1990an bangunan stasiun Mayong yang terbuat dari kayu jati ini dipindahkan oleh investor dan di tempatkan di daerah Grabag Magelang menjadi Losari Spa Retreat & Coffee Plantation. Kemudian pada tahun 2001, menjadi sebuah lobi hotel di daerah Magelang yakni hotel bergaya Jawa klassik MesaStila.

Bangunan stasiun Mayong di hotel ini menjadi lobi dan respsionis dengan bangunan berwarna krem serta masih bergaya kolonial Belanda. Untungnya bentuk luar bangunan stasiun ini masih dipertahankan oleh pemilik hotel dengan papan yang bertuliskan nama serta ketinggian stasiun menempel di bagian sisi bangunan.

Tak hanya itu, kotak surat, loket pembelian tiket, hingga ruang informasi dan ruang kepala stasiun juga masih terlihat jelas dengan papan namanya. Menurut pihak pengelola hotel stasiun ini diselamatkan untuk dilestarikan agar tidak punah.

Baca juga: Setelah Baso, Butuh, dan Tanggung, Kapas Juga Ternyata Nama Stasiun Kereta!

Selain itu juga karena hotel yang ada disana menggunakan rumah joglo yang sudah tidak digunakan lagi. Selain menikmati bangunan tua, pengunjung juga bisa menikmati perkebunan kopi di areal hotel ini.

Leave a Reply