Stasiun Probolinggo, Dahulu Sempat Jadi Jalur Trem Uap

(Kekunaan)

Berada di antara Stasiun Surabaya Gubeng dan Banyuwangi, Stasiun Probolinggo melayani kereta api kelas ekonomi dan bisnis. Berada dalam naungan Daerah Operasional (Daop) IX Jember, stasiun ini berada di ketinggian +5 meter diatas permukaan laut.

Baca juga: Stasiun Sukacinta, Menjadi Besar Karena Tambang Batu Bara di Dekatnya

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Stasiun Probolinggo merupakan stasiun kelas 1 yang dioperasikan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Stasiun tersebut diresmikan pada 3 Maret 1884 silam, terletak di Jalan K.H. Mas Mansyur No. 26, Kelurahan Mayangan, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Mudah dijangkau, stasiun tersebut berada di depan alun-alun Probolinggo.

Bangunan stasiun ini merupakan peninggalan masa Hindia Belanda yang diperkirakan pembangunannya bersamaan dengan jalur kereta dari Pasuruan-Probolinggo-Klakah. Stasiun Probolinggo dibangun oleh perusahaan milik pemerintah Hindia Belanda yakni Staatsspoorwegen (SS), dari tahun 1884 hingga tahun 1895.

Jalur tersebut merupakan bagian dari proyek jalur kereta api di Jawa untuk line menuju bagian timur (oosterlijnen) sepanjang 74 km. Pengerjaannya dimulai dari Pasuruan menuju Probolinggo dan selesai pada tahun 1884, sepuluh tahun kemudian baru dilanjutkan pengerjaannya dari Probolinggo menuju Klakah. Dulu, di sebelah timur Stasiun Probolinggo terdapat stasiun kecil, yaitu Stasiun Jati, dan diteruskan ke Kraksaan.

Jalur ini dikerjakan pada tahun 1897. Kemudian dari Kraksaan bercabang ke Stasiun Kalibuntu dan ke Stasiun Paiton melewati Jabung yang selesai dikerjakan pada tahun 1898. Untuk jalur dari Probolinggo-Jati-Gending-Kraksaan yang diteruskan ke Kalibuntu maupun ke Paiton dikerjakan oleh Probolinggo Stroomtram Maatschappij (PbSM).

Tapi jalur tersebut sekarang ini sudah tidak aktif lagi. PbSM sendiri sempat mengoperasikan trem uap di Kabupaten Probolinggo dan menggunakan jalur di Stasiun Probolinggo. Disinilah tempat lokomotif-lokomotif uap milik PbSM dirawat, karena diponya memang terletak satu kompleks dengan Stasiun Jati. Kraksaan–Kalibuntu hanya dijadikan sebagai lintas cabang pendukung Pelabuhan Kalibuntu. Jalur kereta api Probolinggo–Paiton mulanya dari Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo lalu sejajar dengan jalur SS di petak Probolinggo–Jati.

Pada masa pemeritahan Hindia Belanda, Stasiun Probolinggo menjadi focal point di kota tersebut sebab terletak di akhir jalan sebelah utara dari sumbu kota tersebut. Karena menjadi kota pelabuhan, Stasiun Probolinggo juga berhubungan langsung dengan pelabuhan. Apalagi letak pelabuhannya berada di belakang stasiun dan tidak mengganggu.

Baca juga: Kisah Stasiun Pulau Air, Saksi Bisu Kebangkitan Perkeretaapian di Sumatera Barat

Stasiun kelas 1 ini memiliki enam jalur dan kini hanya tinggal empat yang tersisa di mapa jalur 1 dan 2 merupakan sepur lurus dan lainnya persilangan. Termasuk golongan stasiun besar, Stasiun Probolinggo sendiri memiliki banyak aktivitas dalam menaikkan maupun menurunkan penumpang di stasiun ini.