Sterile Cockpit Rule, Inilah Aturan yang Melarang Pilot dan Kopilot ‘Ngobrol’ Selama Penerbangan

0
Ilustrasi pilot sebelum memutuskan landing atau divert. 43airschool.com

Penyebab pesawat Airbus A320 Pakistan International Airlines (PIA) PK8303 yang jatuh dan terbakar serta menabrak empat rumah di permukiman Model Colony, 3,2 kilometer dari Bandara Internasional Jinnah akhirnya terungkap.

Baca juga: Terungkap, Kecelakaan Airbus A320 PIA Diduga Akibat Kesalahan Pilot, Begini Kronologinya!

Menteri Penerbangan Federal Pakistan, Ghulam Sarwar Khan membeberkan, kapten pilot dan kopilot sibuk ngobrol mengenai Covid-19 sambil melakukan upaya pendaratan awal yang gagal. Padahal, pilot dan kopilot tidak seharusnya berdiskusi soal apapun di kokpit di bawah aturan sterile cockpit rule.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari CNN International dan The Telegraph, sterile cockpit rule merupakan aturan yang wajib ditaati pilot –termasuk oleh awak kabin- selama dalam penerbangan, mulai lepas landas sampai mendarat. Di bawah aturan tersebut, pilot memang tak bisa berbuat banyak kecuali fokus pada hal-hal berkenaan dengan operasional penerbangan.

Pilot dan kopilot baru diizinkan melakukan hal-hal di luar operasional penerbangan, seperti menggunakan telepon seluler, memfoto panorama sekitar, main laptop, melihat pemandangan di daratan, ngobrol , dan kegiatan lainnya ketika pesawat berada di atas ketinggian 10 ribu kaki. Di bawah itu, mereka sama sekali tak bisa berbuat banyak.

Namun perlu diingat, sekalipun pesawat sudah berada pada ketinggian di atas 10 ribu kaki, aturan makan dan minum di kokpit pada umumnya tetap tidak diperbolehkan seiring terjadinya masalah. Di akhir tahun lalu dan awal tahun ini, misalnya, insiden tumpahan kopi atau minuman lainnya telah menyebabkan kerusakan panel center pedestal dan pada akhirnya mempengaruhi kinerja pesawat.

Catatan The Telegraph, aturan sterile cockpit rule mulai digaungkan oleh Amerika Serikat (AS) sebagai respon atas jatuhnya pesawat Eastern Airlines 212 pada tahun 1974. Pesawat tersebut jatuh di runway Bandara International Charlotte Douglas di tengah terjangan kabut tebal yang membatasi visibilitas. 72 nyawa dilaporkan tewas karenanya.

Meskipun visibilitas buruk akibat kabut tebal, Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) AS menyimpulkan kecelakaan terjadi akibat pilot lack of altitude awareness atau pilot kurang peka terhadap ketinggian pesawat di fase kritis -seperti menjelang pendaratan atau lepas landas- saat melakukan approach karena pilot ngobrol.

Pilot diketahui ngobrol berbagai hal yang sama sekali tak ada hubungannya dengan operasional penerbangan yang sedang mereka jalani dan pada akhirnya membuat fokus mereka terpecah sehingga berujung kecelakaan fatal. Setelah menjalani proses panjang, tujuh tahun kemudian barulah aturan sterile cockpit rule mulai diberlakukan.

Baca juga: Setelah Dua Insiden, EASA Keluarkan Aturan Bebas Cairan di Dalam Kokpit Airbus A350

Hanya saja, seiring berjalannya waktu, regulator penerbangan sipil AS (FAA) menyebut pemahaman sterile cockpit rule yang kurang menyeluruh pada akhirnya hanya mengakibatkan kebingungan oleh awak kabin. Hal ini justru lebih membahayakan dibanding pelanggaran terkait sterile cockpit rule itu sendiri. Di beberapa kasus, awak kabin dilaporkan tak berani berkomunikasi dengan awak kokpit akibat dibayang-bayangi aturan ini.

Oleh karenanya, berbagai maskapai pun menspesifikasi turunan dari aturan sterile cockpit rule. Japan Airlines, misalnya, mengatur bahwa awak kabin boleh melanggar aturan tersebut (menghubungi pilot dan kopilot) saat terjadi kebakaran, asap di kabin, abnormality atau hal-hal tidak biasa pada pesawat selama lepas landas ataupun mendarat, adanya kebisingan dan getarangan tidak normal, serta terjadinya kebocoran bahan bakar atau kebocoran lainnya.

Leave a Reply