Survei: Keraguan Masyarakat Bakal Jadi Penghambat Kehadiran Drone Penumpang

Tak lama lagi , warga Dubai di Uni Emirat Arab bisa menikmati perjalanan udara mereka menggunakan drone penumpang yang selama ini digadang menjadi salah satu moda transportasi masa depan. Pada bulan Juni 2017 kemarin, Roads and Transportation Agency Dubai mengatakan layanan Autonomous Aerial Taxi (AAT) akan melakukan uji coba di beberapa titik di Dubai pada bulan Oktober hingga Desember 2017. Dalam pengoperasiannya kelak, Volocopter, yang merupakan mahakarya sebuah perusahaan penerbangan asal Jerman, dipercaya untuk mengangkut penumpang sesuai tujuan mereka.

Baca Juga: Juli 2017, Drone Penumpang Resmi Mengudara di Dubai

Namun, dalam usahanya untuk mengoperasikan sarana transportasi baru, otoritas Dubai nampaknya harus menahan keinginannya tersebut, mengingat penelitian yang dilakukan oleh sebuah firma riset pasar berbasis internet internasional yang beroperasi di Eropa, Amerika Utara, Timur Tengah dan Asia-Pasifik, YouGov, menyatakan bahwa konsumen belum terlalu yakin untuk menggunakan layanan drone sebagai sarana transportasinya dalam waktu dekat.

Penelitian ini dilakukan berdasarkan pada fakta di lapangan yang menyebutkan bahwa hanya seperempat warga Amerika yang mengetahui drone dapat dijadikan sebagai taksi udara, dan sisanya masih tidak mengetahui bahwa layanan tersebut akan mengambil alih dunia transportasi di masa yang akan datang. Lebih parahnya lagi, sebanyak 54 persen warga Amerika Serikat mengaku takut untuk menggunakan sarana transportasi modern ini, dan hanya 5 persen yang menyatakan siap untuk menggunakan drone penumpang ini. Kebanyakan, wanita lah yang merasa ketakutan untuk menaiki moda ini.

Baca Juga: Wow! Uber Canangkan Program Taksi Drone

Terlepas dari kekhawatiran ini, analis teknologi YouGov sendiri percaya bahwa pesawat penumpang otonom akan lepas landas hanya dalam waktu 5 tahun. Dilansir KabarPenumpang.com dari cnbc.com (10/7/2017), direktur riset YouGov, Tom Fuller mengatakan penetrasi pasar terhadap penumpang akan mempercepat proses adaptasi bagi siapapun yang merasa ketakutan untuk menggunakan drone. “Hal serupa juga terjadi pada perkembangan teknologi sebelumnya, terutama dari sektor dirgantara, namun mengingat keuntungan yang ditawarkan membuat ketakutan tersebut perlahan sirna,” tuturnya.

“Jika dilihat dari survei yang dilakukan, spekulasi kami mengarah kepada para penumpang yang sebenarnya kurang memahami seluk beluk dari drone penumpang tersebut, sehingga mereka ragu dan terkesan takut untuk menaikinya,” tambah Tom. Padahal, Tom melanjutkan, penggunaan drone ini sudah banyak ditemui di kehidupan sehari-hari, seperti untuk pengambilan gambar, mengantarkan paket, balapan dan beberapa aktivitas lainnya. “Kesadaran dan keakraban konsumen pada teknologi ini akan mendorong mundur ketakutan mereka,” pungkasnya.

Drone yang mengangkut hasil laboratorium di Swiss. Sumber: designboom.com

Tidak hanya menawarkan solusi bagi para penumpang yang hendak bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya, keberadaan drone juga terbukti ampuh untuk menunjang efektifitas di bidang lain, contohnya kesehatan. Salah seorang analis mengatakan penggunaan drone di bidang medis memberikan dampak tersendiri bagi kedua belah pihak. “Ini akan membantu memperbaiki citra drone yang selama ini dipandang sebelah mata oleh masyarakat,” ungkapnya.

Baca Juga: Swiss Manfaatkan Drone Untuk Antar Sampel Laboratorium

Tom menambahkan bahwa risiko yang mungkin dihadapi oleh drone penumpang sebenarnya lebih sedikit ketimbang yang mobil nirawak. Mobil tanpa pengemudi, seperti yang dikembangkan oleh Google dan Tesla harus bersaing dengan mobil, sepeda, dan pejalan kaki yang dioperasikan manusia. Sedangkan menurut Tom, ancaman yang mungkin terjadi untuk drone penumpang berasal dari serangan siber, seperti virus ransomware yang terjadi beberapa waktu ke belakang.

Di sisi lain, penelitian yang dilakukan oleh YouGov menunjukan sebanyak 62 persen masyarakat berencana untuk memiliki sebuah drone penumpang di masa yang akan datang, tentu saja jika mereka sudah tidak ketakutan untuk menaikinya, sedangkan 25 persen masyarakat menolak untuk memiliki “pod” modern ini. Sebanyak 4 persen lainnya mengatakan akan membeli drone bekas daripada harus menghabiskan lebih banyak uang untuk membeli yang baru.

Lalu, jika memang drone penumpang ini merupakan moda transportasi modern, akankah warga Indonesia siap untuk menerima perkembangan jaman semacam ini?